"Luna, jangan terlihat malu dan menunduk. Ingat, kamu adalah istri dari pemilik perusahaan. Itu artinya, kamu punya hak penuh untuk ada di sana," Mbak Rahmi mewanti-wanti aku saat kami masih di jalan menuju gedung perusahaan. Aku hanya mengangguk saat Mbak Rahmi berbicara. Di dalam diriku hanya ada ketidak siapan, ketakutan, semua perasaan tidak enak bergabung menjadi satu. Tubuhku gemetar, rasanya panas dingin. Terlebih dress yang di buat oleh Mbak Rahmi rasanya sedikit mengekang. Dress ini seperti sengaja menampilkan perutku yang berisi menjadi lebih menonjol. Orang-orang akan tahu kalau aku tengah hamil saat melihatku memakai dress ini. Lebih dari setengah tahun aku menikah dengan Mas Farhan, namun tidak sekalipun aku pernah menginjakkan kaki di kantornya. Bahkan aku baru tahu kal

