Hamil?

830 Words
Aluna Aku terbangun ketika sesuatu terasa menyilaukan mata. “Astaghfirullah, sudah terang.” Pekikku melompat dari tempat tidur. Langsung saja aku berwudhu dan mengkodha sholat yang telah kutinggalkan tadi. Selesai sholat aku melipat pakaian. Tunggu dulu! Kemana Mas Farhan? Aku mencoba memunguti puing-puing ingatanku yang berserakan tentang tadi malam. Ketika semua kembali utuh, tubuhku langsung merosot di samping tempat tidur. Ya… Mas Farhan tidak ada di kamar sekarang, itu menandakan jika banar kejadian semalam bukanlah mimpi atau khayalan. Aku memanglah istri kedua yang malang. Aku tanpa sadar telah menjadi w***********g. Ya Allah, bagaimana selanjutnya. Jika perceraian adalah jalan yang engkau murkai, maka apakah pernikahan dipenuhi kebohongan dan rasa sakit lebih Engkau sukai. Jalan mana yang harus kuplih, bertahan dan pura-pura tidak perduli namun setiap harinya menanggung rasa sakit dan cemooh. Ataukan perceraian yang menjadikanku seorang janda muda yang tidak terhotmat dan Engkau murkai. Ya… Allah berikanlah hambamu ini petunjuk jalan yang banar, jalan yang Engkau ridhoi. Sudah, sudah cukup aku menangis. Jika mataku lebih sembab dari ini maka aku tidak akan bisa keluar dari kamar. Aku bergegas mandi dan bersiap berangkat untuk kesekolah karena hari ini ada rapat, sekolah memang libur pada hari sabtu dan minggu. Tidak perlu menyiapkan makanan hari ini. Toh ku yakin Mas Farhan sepertinya sudah berangkat. Lagian aku belum mau melihatnya, aku akan bicara padanya saat hatiku nanti sudah siap menerima semua kenyataan yang ada. # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # Aku tidak sekalipun memberikan pendapat pada rapat kali ini karena pikiranku yang melayang entah kemana. Mas Farhan dan Rahmi wanita yang kulihat itu adalah istri pertama Mas Fashan. Jadi bagaimana jika Rahmi itu mengetahui jika Mas Farhan telah menikah lagi yaitu denganku. Tentunya ia akan merasa sakit hati dan kecewa. Sebagai sesama wanita aku paham betul rasanya jika suami kita menikah lagi, pasti akan sangat terluka begitupun juga dengan Rahmi itu tentunya. Aku tidak bisa membayangkan jika posisiku berada di posisinya Rahmi. Namun bagaimana dengan diriku yang sudah terlanjur mencintai Mas Farhan yang begitu berwibawa menurutku namun pada kenyataannya Mas Farhan bukanlah orang setia. “Baiklah rapat selesai untuk hari ini, saya akhiri dengan wabillahi taufik wal hidayah. Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.” “Wa’alaikumsaalam warohmatullahi wabarokatuh.” Ucap yang lain yang aku juga mengkuti menjawab salam. Pikiranku yang melanglang buana membuatku tidak tahu apa hasil dan kesimpulan dari rapat barusan. “Aluna langsung mau pulang ya?” Mbak Winda menegurku. “Iya Mbak.” “Mbak lihat kamu ngak fokus. Lebih sering melamun ketika rapat. Ada masalah?” Tanya Mbak Winda heran. “Ngak kok Mbak, lagi ngak enak badan aja.” Aku tersenyum. “Ngak enak badan ya. Coba deh periksa ke Dokter kandungan, hehe.” “Kok Dokter kandungan sih Mbak?” “Ya.. Siapa tahu kamu udah ngisi.” “Ngisi? Ngisi apaan sih Mbak maksudnya?” “Hamil Luna.. Aduh polosnya kamu.” “Oh… hamil.” “Jawabnnya cuma, oh.. hamil… udah gitu doang.” “Jangan cuma oh… buruan periksa. Ngak sabar pengen punya keponakan baru.” Ucap Mbak Winda antusias. Aku mengernyit melihat semangat Mbak Winda begitu mendengar aku ngak enak badan, sebegitu antusiasnya dia. Padahal aku sedang berbohong. Oh… Allah ampuni hambamu ini yang mulutnya tidak terjaga hingga membuat harapan palsu pada orang lain. “Eh.. kok malah ngelamun sih.” Mbak Winda menepuk bahu ku. “Iya Mbak nanti Luna bakalan periksa.” Aduh sekarang aku harus menambah kebohongan dengan kebohongan lagi. “Atau kamu ngak perlu ke Dokter, aku beliin tespeck mau?” “Tespeck?” “Iya Tespeck, alat pengetes kehamilan. Kamu yang udah nikah dan aku yang belum, masak aku yang lebih tahu sih.” “Nah itu maksud aku Mbak, emang iya kalau ngak enak badan itu hamil. Emang tanda-tanda hamil itu apa? Mbak dari mana dapat info begitu? Dari internet?” “Aku memang belum menikah Luna, juga belum pernah hamil. Masak iya belum nikah udah punya pengalaman hamil” “Akan tetapi, Kakak iparku udah beberapa kali hamil dan gejalanya begitu. Ngak enak badan lah, pusing lah, mual lah. Kayak kamu ini.” “Hanya ngak enak badan karena lelah Mbak.” lelah memikirkan mencintai namun berada di posisi yang salah. “Tetap aja harus periksa, ngak lihat aku udah seberharap ini. Pengen aja lihat anak kamu kelak seperti apa.” “Kalau kamu ngak bisa kerja pas hamil, tenang! Mbak bahan bisa ambil alih pekerjaan kamu.” “Jangan terlalu berharap Mbak! Nanti kalau kecewa sakit.” Sesakit yang aku rasakan. “Bukan begitu Luna.” “Udah Mbak Luna pulang dulu ya. Kalau kita debat kapan pulangnya?” “Jangan lupa ke Dokter ya!” Teriak Mbak winda masih di ruang rapat sementara diriku sudah menggapai pintu. Keluar dari Gerbang malah bingung mau pilih arah mana, rasanya belum ada mood untuk sekedar pulang kerumah. Akhirnya aku memilih menuju taman terdekat demi mendamaikan pikiran sesaat. Taman yang setidaknya agak jauh dari hingar-bingar kota. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD