Farhan Rahardian
# # # # # # # # #
Setelah beberapa termangu menatap pintu yang membuat Aluna menghilang dengan tangisnya, ia mulai bangkit dan membereskan meja kerjanya. Wanita lembut itu telah ia sakiti. Bukan niatnya, menikahinya pun bukan niatnya. Rahmi istri pertamanya lah yang memaksa ia harus menikah lagi karena Rahmi yang tidak mampu memberikan keturunan.
Walaupun Farhan selalu bilang tak apa saat pembahasan soal anak, namun Rahmi tahu, jauh di dalam lubuk hati Farhan ia sangat menginginkan seorang anak yang bisa ia ajak tergelak bersama nantinya.
Meskipun Farhan tidak pernah membahas soal anak dan melarang orang lain membahas soal anak di depan Rahmi, tapi Rahmi paham betul semua itu ia lakukan semata-mata hanya ingin menjaga perasaan rahmi dan keutuhan rumah tangga mereka.
Farhan adalah seorang penyayang yang selalu memberikan kasih sayang dengan kelembutannya. Dengan tutur bahasa yang sopan dan tingkat moral yang tinggi. Mana mungkin orang sepertinya tega menyakiti perasaan istrinya sendiri. Namun kali ini karena perkataannya istri keduanya berlinang air mata, ia bahkan tidak tega walaupun harus menghapusnya.
Memang benar, cintanya bukan untuk Aluna. Namun masih utuh hanya untuk Rahmi seorang, wanita yang ia pikir akan ia kagumi kesahajaannya hingga nafas terakhir. Namun Aluna tetaplah istrinya yang harus ia jaga perasaannya, yang harus ia perlakukan dengan keadilannya.
Mengapa ia terjebak dalam pernikahan yang salah yang akhirnya akan melukai orang lain.
Malam itu setelah , membuka pintu ia memutuskan untuk pulang ke rumah Rahmi. Rumah yang sudah dua bulan ini ia tinggalkan atas permintaan Rahmi sendiri. Ditatapnya pintu kamar berwarna coklat gelap itu, pintu itu kini tengah tertutup rapat, ia yakin di dalamnya ada seorang wanita sedang meringkuk sedih meratapi nasibnya. Namun apalah daya, ia hanyalah pelakon yang harus menjalankan tugasnya. Menuruti saja permintaan Rahmi yang terbilang gila ini demi mendapatkan buah hati impian katanya. semua ini ia lakukan semata-mata karena ia sangat mencintai Rahmi, wanita bersahaja yang akan tetap bersahaja sepanjang masa.
“To..tok..tok..” ia mengetuk pintu yang berwarna keemasan itu. Pintu yang sudah dua bulan ini tidak ia lalui karena Rahmi yang melarangnya untuk pulang. Kata Rahmi Aluna akan curiga nanti jika ia sering datang kerumahnya. Pintu ini sejatinya adalah pintu rumah yang dirindukannya. Pintu yang dulunya setiap hari ia lewati demi segera pulang melihat istrinya yang cantik nan bersahaja.
“Loh, Mas. Kok kesini sih malam-malam begini.” Rahmi sudah terlebih dulu mengintip pada celah yang khusus dibuat aga bisa mengetahui siapa yang berada di depan.
Ia masih saja menunduk dalam.
“Mas ada apa? Masuk dulu gih!” Rahmi meraih tangan Farhan demi mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah.
Farhan duduk di sopa sementara Rahmi mengambilkan ia segelas air. Ia khawatir dengan wajah suaminya yang kini ditekuk, tidak biasanya suaminya seperti itu.
“Mas,ini diminum dulu!” Farhan masih saja diam. Sepersekian detik kemudian ia mengangkat kepalanya yang sedari awal datang masih saja menunduk.
“Rahmi, aku rasa kita membuat keputusan yang salah.”
“Salah apa Mas? Kita hanya ingin yang terbaik untuk mendapatkan anak.”
“Itu yang kupikir dari awal bahwa kita salah Rahmi, kita hanya mementingkan soal kita saja tanpa memikirkan perasaan seorang gadis yang dijadikan seorang istri kedua.”
“Mas, nanti Aluna pasti akan mengerti.”
“Ini bukan masalah mengerti atau tidak Rahmi. Dia hanyalah manusia biasa yang pastinya akan terluka.” Suasana hening sejenak.
Rahmi sebenarnya tahu betul, gadis seperti luna pasti akan merasa terluka jika tahu bahwa dia adalah istri kedua. Tapi jika dari awal ia diberitahukan jika akan menjadi istri kedua maka ia tidak akan mau.
“Rahmi, Aluna sudah tahu.”
“Sudah tahu? Dari mana Aluna tahu Mas? Mas bilang sama dia.”
Farhan mengangguk pelan.
“Mas… mengapa Mas beri tahu, ia belum waktunya buat Aluna untuk mengetahui segalanya.”
“Rahmi, Aluna sudah melihat kita berdua di kantor tadi siang.”
“Ya… Mas bisa kan untuk ngak bilang yang sejujurnya dulu.”
“Masalahnya dia udah lihat kamu gandeng tangan aku Rahmi, mana mungkin aku bisa berbohong lagi. Lagian aku lelah hidup dalam kebohongan Rahmi. Kamu ngak sadar tentang yang kita lakuin ini dosa. Kita berdosa pada gadis polos yang ngak tahu apa-apa Rahmi.”
“Mas, ini yang terbaik untuk kita bertiga. Aku yakin itu. Lagian aku rela jika kamu lebih sering bersamanya dari pada aku Mas. Kita masih bisa bujuk dia kok. Nanti besok aku akan temui dia.”
“Rahmi, kita akan semakin menyakiti Luna. Lagian ini bukan soal siapa yang lebih sering sama siapa. Ini soal kita yang berbohong dan menyakiti orang lain Rahmi.”
“ Mas percaya sama aku deh Mas, kita bertiga pasti bisa bahagia Kok. Nanti setelah Luna mengerti akan situasi ini, ia pasti bisa menerima kenyataan dengan lapang dada.”
“Mas, Luna dari bibit, bebet, dan bobot keluarga yang baik yang tentunya akan memberikan keturunan yang baik buat kita. Aku ngak asal pilih wanita loh buat kamu Mas. Aku yakin nanti Luna akan paham.”
# # # # # # # # # # # # # # #