Kenyataan

544 Words
Aku menyiapkan makan malam dan kami makan dalam hening. Beberapa kali Mas Farhan melontarkan petanyaan padaku sebelum kami makan, tapi hanya ku jawab seadanya saja. Selesai makan aku masuk ke ruang kerja Mas Farhan. Ku lihat Mas Farhan yang masih sibuk di depan notebooknya. Aku ragu, apakah harus melanjutkan atau tidak tentang tanda tanya besar dalam pikiranku. “Ada apa Luna? Kenapa diam saja di sana?” Mas Farhan menyadari keberadaanku tanpa menoleh terlebih dulu padaku. Aku yang masih termangu di depan pintu beranjak mendekati Mas Farhan. “Mas….” Betapa bingung aku bagaimana memulai pertanyaan yang aku sendiri takut akan jawabannya. “Tanya saja Luna. Apa yang pangen kamu tanyakan?” jemari Mas Farman masih saja sibuk menari di atas keyboard. “Mas, aku tadi ke kantor Mas Farhan.” Aku berkata dengan menunduk. Aku masih bisa menangkap kekagetan di wajah Mas Farhan. “Kamu ke kantor. Jam berapa?” Mas Farhan masih mendongak menghadap padaku. “Jam makan siang Mas, aku tadinya mau nganterin makan siang buat Mas Farhan sebelum….” Aku tidak mampu melanjutkan kata-kata yang akan melukai hatiku sendiri. “Sebelum apa Luna? Kenapa tidak kamu selesaikan?” “Seharusnya aku yang tanya sama Mas Farhan. Adakah yang ingin Mas jelaskan padaku?” “Maksud kamu apa Luna?” Mas Farhan boleh pura-pura tidak tahu, tapi aku bisa menangkap dengan jelas kurat kekhawatiran di wajah Mas Farhan. Sepertinya dugaanku benar jika memang ada yang Mas Farhan sembunyikan dariku. “Baiklah Mas, jika Mas tidak mau menjelaskan, aku akan cari tahu sendiri. Tapi jangan menyesal jika ada hal yang bisa membuat Mas Farhan menjadi kaget nantinya.” Ya Tuhan… keberanian dari mana hingga aku mampu mengucapkan nada mengancam seperti itu pada suamiku. “Luna…” Mas Farhan memanggil lembut ketika aku berbalik. Aku menatap Mas Farhan yang masih menunduk dalam. “Luna, dia Rahmi.” “Rahmi? Apa hubungannya sama Mas Farhan?” aku mulai memberanikan diri menanyakan hal yang ku tahu di luar kuasaku jika pradugaku benar. Bagaimana mungkin laki-laki yang terlihat sholeh dan penyayang seperti Mas Farhan bisa berselingkuh di belakangku. “Dia… dia istri pertamaku Luna.” Mas Farhan mengucapkannya dengan terbata. Sementara aku, aku hanya bisa menganga tak percaya dengan semua yang di ucapkan Mas Farhan. Bagaimana mungkin dia istri pertama? Dan aku, aku adalah istri kedua? Permainan macam apa ini? Jadi akulah yang w***********g disini? Begitukah maksudnya? “Apa maksudnya Mas? Jadi aku adalah istri kedua begitu?” aku berbicara setengah berteriak. Mas Farhan hanya bisa mengangguk pasrah. “Mas..” aku berteriak lalu menggeleng tak percaya Aku tak punya pilihan kata yang tepat menggambarkan diriku saat ini. Aku segera berbalik dan berlari keluar ruangan demi menggapai naungan tempat tidurku. Kututup pintu dengan setengah membantingnya. Namun dugaanku salah,Selama satu jam lebih aku masih saja bersembunyi di bawah selimut dengan derai air mata. Mengingat masa-masa indah bersama Mas Farhan ketika ia meminangku. Sentuhan lembut Mas Farhan ketika malam pertama kami yang membuatku terhanyut dalam buayan tanpa henti. Akan bagaimana selanjutnya rumah tanggaku ini jika yang dikatakan Mas Farhan benar adanya. Lalu apa yang membuatku tidak yakin sementara kata-kata itu telah keluar langsung dari mulut Mas Farhan. Sungguh aku berharap ini hanyalah mimpi belaka, esok kelak ketika aku terbangun semua baik-baik saja. Semoga dan semoga saja. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD