Rasanya Berkeping-keping

1229 Words

Aku pulang dengan wajah kuyu dan berjalan tertunduk. Ternyata belum cukup dengan hari-hari berpoligami, sekarang malah lebih berat karena ngak punya teman. "Luna, kamu kenapa? Kenapa pucet begitu?" Mbak Rahmi sudah menyambutku saat aku baru mau masuk gedung apartemen. Tapi aku tidak menghiraukan perkataannya, berlalu pergi begitu saja. "Luna kamu kenapa? Kalau ada yang mempersulit kamu, cerita dong sama Mbak!" Mbak Rahmi masih kekeh mengejarku meskipun tidak aku hiraukan. Lelah rasanya, lagi benar-benar ngak mau ngomong sama siapapun. Mau cepet-cepet masuk kamar, mandi, terus tidur. Dengan begitu kayaknya pikiranku bakalan jadi adem lagi. "Luna, Luna. Kok kamu diam aja sih Lun. Jangan bikin Mbak khawatir deh," Mbak Rahmi mendahului aku dan memblokir jalanku. Kalau sudah begini, te

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD