Wajah suster Yanti pucat pasi mengetahui aku berada di belakangnya. “Ibuk, Ibuk sudah lama ada di sana?” tanyanya ulang karena pertanyaan pertamanya tidak kujawab dan aku memasang wajah datar. “Mmm,” ucapku acuh. Aku mendekati dispenser dan mengambil air minum. “Ibuk mau minum? Kenapa ngak panggil aja tadi, Ibuk ngak boleh capek-capek,” mulut manis suster Yanti mulai memainkan kata-kata. Percuma, kedokmu udah kebongkar. Tapi gimana ya enaknya supaya dia dengan mudah di pecat. “Saya bisa ambil sendiri. Lagian saya sudah terbiasa tanpa kamu dan akan selalu begitu,” aku meneguk satu tegukan. Suster Yanti diam sesaat setelah aku bicara begitu. “Kamu dipecat,” ucapku tanpa menoleh kepadanya. Aku masih memasang wajah datar seolah-olah tidak ada apa-apa. “Ha.. dipecat. Ibuk tadi saya cum

