2. Sang Pangeran

1464 Words
Semua orang di ruangan terdiam. Mereka menatap sosok yang dengan santai berjalan memasuki aula. Kedua tangan pemuda itu dimasukkan ke dalam saku jeans yang dipakai. Dua kancing teratas kemejanya sengaja dibuka, menampakkan kaos polos putih. Ada segaris warna merah di rambutnya yang melewati bahu. Kaina merasakan ada seseorang yang menepuk keras lengannya. Dia menoleh dan mendapati Dara yang tampak khawatir. Gadis itu tersenyum dan mengangguk. Dulu, dia mungkin akan langsung terpesona dengan pemandangan ini, tetapi sekarang lain. Dia sudah mampu mengendalikan hati, meski belum sepenuhnya. “Wah, Sang Pangeran kampus mau bantu? Serius, Yon?” celetuk seorang cowok yang duduk di pojokkan. Kaina mengenalnya, Danu. “Memangnya gue kelihatan lagi bercanda?” Arion bertanya balik. Dia beralih menatap Kaina yang cepat-cepat menunduk. Senyumnya sangat lebar saat melangkah mendekati gadis itu. “Loe masih ingat sama gue kan, Kai?” Tentu saja. Walaupun berusaha melupakan sosok yang membuatnya terperdaya, Kaina tetap tidak bisa menghilangkan wajah Arion dari pikiran. Pemuda yang membuat hari-hari Kaina terasa berat dan penuh cobaan. Setelah menghindari Arion yang ternyata juga satu kampus, Kaina merasa ini akan menjadi cerita baru. Dia merapal berbagai bacaan agar hatinya tenang. Arion hanya satu dari sekian banyak pemuda di sekitarnya, kenapa dia harus takut? Akan tetapi, ini sangat berbeda dari dugaan Kaina. Dia pikir Arion sudah tidak bisa memengaruhi. Kenyataannya, sekarang jantung gadis itu nyaris keluar dari rongga. Dia berharap tidak ada yang menyadari perubahan sikapnya saat ini. “Masih, kok,” jawab Kaina kalem. Dia menatap Arion sekilas, lalu melirik Dara yang tengah tersenyum. “Jadi, kamu mau bantu kami?” “Syukurlah,” ucap Arion, seolah tidak memedulikan ucapan Kaina. Membuat gadis berjilbab mengerutkan kening. “Kamu kenapa?” tanya Kaina. Dia merasa aneh dengan sikap Arion yang terus tersenyum. “Gue pikir loe lupa sama gue,” kata Arion. Pemuda itu tertawa. “Loe kenal Kaina?” Bima bertanya dengan nada tidak percaya. Kaina tersenyum miris. Dia dan Arion memang bagai dua dunia yang bertolak belakang. Pasti banyak yang tidak percaya kalau mereka pernah dekat. Dekat dalam artian sebagai teman. “Gue sama Kaina dulu satu SMA. Dia yang bantu gue sampai akhirnya bisa lulus dengan nilai yang lumayan. Kalau dia enggak bantu gue, pasti gue enggak bakal masuk kampus ini. Iya kan, Kai?” “Itu karena usaha kamu. Aku cuma membantu.” “Merendah seperti biasa,” gumam Arion. “Loe itu luar biasa, Kai. Masa loe enggak sadar, sih?” Kaina berdeham untuk mengusir desir aneh yang menghampiri hatinya. Dia bisa melihat rasa penasaran di mata setiap orang yang ada di aula. Arion membuat semuanya berpikir terlalu jauh, padahal dia tidak sedekat itu dengan Arion. “Kamu terlalu berlebihan. Aku enggak sehebat itu.” Tepuk tangan Arion membuat Kaina sedikit terkejut. Dia tidak mengerti mengapa pemuda itu masih saja ingin mendebatnya. Sementara dia lelah jika harus selalu mengontrol perasaan. Apa sebaiknya dia menolak usulan Arion untuk membantu? Tidak! Teman-temannya tampak ingin melibatkan Arion. Kaina sendiri yakin kalau Arion sangat mahir bermain musik. Dia beberapa kali melihat Arion memainkan gitar dan piano bersama gengnya. Siapa lagi kalau bukan tiga sahabatnya sejak masa sekolah. Yang mengekori Arion ke mana pun dia pergi. Meski begitu, membiarkan Arion berada di dekat Kaina akan berakibat buruk bagi gadis itu. Kaina tidak tahu seberapa besar pengaruh Arion padanya. Dia bisa saja kembali tergoda pada sosok yang telah lama dia kagumi itu. Ya, Allah. Kuatkanlah hatiku. Jangan biarkan aku kembali masuk dalam godaan setan. “Ya, ya, ya. Loe memang sehebat itu. Bahkan di pertemuan pertama kita, gue sudah tahu kalau loe cewek hebat. Loe cuma enggak percaya diri.” “Pertemuan pertama kita?” ulang Kaina. Dia tidak ingin salah mengerti dengan poin yang satu itu. “Iya. Loe masih simpan sapu tangan gue?” Mata Kaina melebar. Dia mendadak kehilangan semua indra. Ingatannya berlari cepat menuju kenangan yang dibicarakan oleh Arion. Jadi, pemuda itu mengingat perjumpaan pertama mereka? Lalu, mengapa Arion seolah tidak mengenalnya sewaktu SMA? Tiba-tiba satu kebenaran menusuk hati Kaina. Arion adalah idola seantero sekolah, bisa dipastikan banyak orang yang memperhatikannya. Berdekatan dengan gadis seperti Kaina tentu tidak akan baik. Bisa-bisa dia mendapat masalah. Entah mengapa, menyadari adanya jurang dalam di sekeliling Arion, menjadikan perasaan Kaina kalut. Dia tidak ingin mengakui perbedaan mereka, tetapi hal itu terlihat sangat jelas. Bolehkah dia berharap bisa dekat dengan sang Pangeran kampus? *** “Apa? Bazar buat acara sosial? Loe ngigau atau gimana, Yon?” Daren menyentuh kening Arion untuk memeriksa kesehatan sahabatnya. Arion menepis cepat tangan itu. “Jadi, kalian mau bantu gue enggak? Kalau enggak, gue cari yang lain.” “Jangan keburu emosi dong, Yon. Kita-kita kan cuma mau mastiin saja,” timpal Johan sambil memukul pelan pundak Arion. “Memang klub nama yang bakal bikin acara?” Adit yang terlihat paling normal duduk tenang. “Klub tata boga,” jawab Arion penuh semangat. “Ya, ampun! Klub itu masih hidup? Gue pikir sudah mati.” Ucapan Daren mendapat hadiah pelototan dari Arion. Daren segera membentuk huruf “V” dengan telunjuk dan jari tengahnya. Klub tata boga memang kurang populer di kalangan mahasiswa. Banyak yang mengira kalau klub itu hanya pelengkap dan membosankan. Siapa sih yang mau berlama-lama mengadoni tepung dan kotor? Walaupun mereka banyak menghasilkan produk, para penghuni kampus lebih tertarik pada klub yang lain. Salah satu klub favorit adalah klub olahraga. Lalu menyusul klub musik dan drama. Ketiga klub ini menjadi andalan kampus dalam setiap kegiatan. Klub tata boga sendiri merupakan komunitas baru dan Kaina adalah ketua klub periode kedua. Arion dan teman-temannya bukan anggota semua klub. Padahal mereka, terutama Arion, sangat mahir di bidang musik. Suara Arion juga termasuk bagus. Namun, keempat mahasiswa itu tidak pernah tertarik untuk mengikuti kegiatan di kampus. “Siapa ketua klubnya sekarang?” “Kaina.” Daren, Johan, dan Adit langsung duduk mengitari Arion. “Loe enggak lagi ngomongin Kaina, si mahasiswi beasiswa, kan?” Adit bersuara. Arion tersenyum. “Kita memang lagi ngomongin dia,” kata Arion, mengangguk berkali-kali. “Loe enggak lagi ngejar dia, kan?” tanya Johan penasaran. “Maksud loe?” “Halah! Waktu SMA, loe memang penasaran sama dia, kan? Loe kecewa waktu kuliah, dia malah jauhin loe. Makanya loe penasaran,” tukas Daren dengan wajah mengejek. Arion tidak mau mengakui perkataan Daren, tetapi dia memang penasaran dengan sosok Kaina. Gadis itu selalu menghindarinya sejak awal perkuliahan. Arion beberapa kali berniat menegur saat mereka berpapasan. Sayangnya, Kaina akan menghindar terlebih dulu. Entah apa alasan Kaina menghindari Arion. Pemuda itu yakin tidak memiliki salah. Hubungan mereka baik-baik saja. Kaina bahkan sangat ramah dan pengertian selama masa SMA. Pertanyaannya, kenapa sikap Kaina berubah setelah lulus SMA? Mungkinkah Kaina mendengar hal-hal buruk mengenai dirinya? Hal-hal buruk? Arion menertawakan dirinya sendiri. Dia memang selalu dipandang buruk oleh orang lain. Mencari-cari keributan. Berkelahi tanpa sebab. Bergonta-ganti pacar. Bolos di hampir semua mata kuliah. Tidak ada yang baik. “Gue cuma mau bantu dia, karena dia pernah bantu gue waktu SMA. Gue lulus berkat dia, kan?” ujar Arion membela diri. “Sudahlah, Yon. Akui saja kalau loe memang penasaran sama Kaina, tapi loe ingat kan kata-kata gue dulu?” Arion menelan ludah. “Cewek kayak Kaina itu enggak bakal tertarik sama cowok kayak loe. Jadi, loe enggak usah aneh-aneh.” “Kalian enggak asyik, ah,” ucap Arion kesal. Dia beranjak dari duduk dan meninggalkan teman-temannya tanpa mengatakan apa pun lagi. “Arion enggak lagi jatuh cinta, kan?” “Mana mungkin. Orang kayak Arion mana bisa jatuh cinta.” “Enggak ada yang tahu, kan?” *** Senyum Arion mengembang begitu dia melihat Kaina dan Dara di taman kampus. Pemuda itu mempercepat langkah. Matanya hanya terfokus pada satu titik, Kaina yang sedang menutup mulut untuk menyembunyikan tawa. Terkadang Arion tidak mengerti kenapa Kaina tidak pernah memperlihatkan tawa cantiknya pada semua orang. Dia tahu kalau gadis berjilbab itu harus menjaga sikap, tetapi tertawa sewajarnya bukan hal yang salah, bukan? Setidaknya begitulah menurut Arion. “Gue enggak ganggu kalian, kan?” Tawa Kaina hilang seketika. Dia menatap Arion seakan pemuda itu adalah setan yang muncul tanpa diundang. Arion bisa melihat ada sedikit kekhawatiran di kedua mata Kaina. Dia jadi bertanya-tanya, apa yang membuatnya seperti itu. Tanpa bertanya, Arion duduk di depan dua gadis yang kini menatapnya. Dia masih tersenyum seperti biasa. Kata para gadis, senyumnya sangat menawan. Karena itu, dia tidak pernah lepas dari senyuman. “Kamu sudah membicarakan sama teman-teman kamu? Mereka setuju, kan?” berondong Kaina tidak sabar. “Gue sudah bilang kalau loe enggak perlu khawatir. Mereka setuju, dong,” kata Arion sambil membenahi kerah bajunya yang sudah rapi. Kaina tersenyum melihat tingkah kekanakan itu. “Makasih, ya, sudah mau bantu kami.” “It’s okay. Gue senang kok bisa bantu loe. Setidaknya gue bisa balas budi loe karena sudah bantu gue lulus.” “Kamu sudah pernah nolong aku sebelumnya, kan? Jadi, kamu enggak perlu sungkan.” “Tetap saja. Gue senang bisa ikut dalam kegiatan yang loe adakan.” Dara memperhatikan kedua orang yang duduk berhadapan. Kaina menunduk dalam untuk menghindari tatapan Arion yang menghunjam. Sementara Arion sepertinya tidak bermaksud mengalihkan perhatian. “Halo, Teman-teman.” Sebuah suara lembut mampu memutus kontak mata Arion pada Kaina. Sekarang, pemuda itu ganti menatap sosok cantik yang dengan santai duduk di sampingnya. Diam-diam, Kaina mendengkus dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD