Dara tidak mengedipkan mata sejak tadi. Dia memperhatikan Kaina yang sibuk menulis entah apa di buku. Dari seberang meja, dia tidak bisa melihat dengan jelas. Sejak benar-benar bertatap muka dengan Arion beberapa hari lalu, Kaina menjadi lebih pendiam. Dara bisa melihat keraguan di kedua mata sahabatnya, tetapi dia tidak yakin tentang apa.
Sepuluh kali. Kaina kembali menghela napas. Satu hal lagi yang Dara tangkap, Kaina sangat sering mengembuskan napas berat belakangan ini. Seperti sekarang. Dara sudah menghitung jika Kaina melakukannya sebanyak sepuluh kali. Padahal mereka baru duduk di perpustakaan lima belas menit.
Apa tepatnya yang membuat Kaina ragu? Dara percaya jika perubahan sikap Kaina berhubungan dengan sosok Arion. Kaina sangat tanggap dan cerdas di berbagai bidang, tetapi semua kepintarannya seakan hilang saat berhadapan dengan pemuda itu. Dara pernah merasa takut kalau-kalau Kaina terjebak dengan cinta semu. Suatu perasaan yang tidak patut dirasakan oleh seorang muslimah seperti mereka.
“Kamu mau lihat aku sampai kapan? Aku enggak apa-apa, Ra.”
Tidak apa-apa? Jangan bercanda. Dari tadi, Kaina hanya diam dan sok sibuk. Dara terlalu mengenalnya. Dia tidak bisa ditipu dengan kata-kata “Aku enggak apa-apa” atau “Aku baik-baik saja”. Kalimat pamungkas dari Kaina itu tak lagi bisa dipercayai. Kaina yang dia kenal memang selalu begitu, tidak ingin orang lain tahu luka yang dilaluinya.
Akan tetapi, kita terkadang memerlukan orang lain untuk sandaran. Walaupun demikian, sebaik-baik tempat mengadu tetaplah Allah. Bukankah manusia itu makhluk sosial. Kita perlu membaur dengan sesama agar lebih memperluas persaudaraan. Silaturahmi bisa mendatangkan banyak kebaikan. Salah satunya adalah kita memiliki keluarga baru.
Dalam kasus Kaina, dia menjadi sosok tertutup setelah mengalami masalah yang tidak bisa dibayangkan oleh siapa pun. Usia Kaina boleh masih dua puluh tahun, tetapi pemikirannya sudah jauh ke depan. Dia telah menyusun rencana untuk kehidupan yang akan dilewati dan dia tengah berjuang mewujudkan mimpinya itu.
Mengaitkan masa depan Kaina dan Arion akan menjadi sesuatu yang sulit. Jodoh memang sudah ditentukan oleh Allah, tetapi memikirkan kedua sosok itu bersama membuat Dara sedikit tidak rela. Dara merasa kalau Kaina berhak mendapatkan pemuda yang lebih baik. Bukan berarti dia menganggap Arion buruk. Dia tidak berhak menilai baik atau buruknya seseorang, karena ada Sang Maha Melihat.
“Arion masih terlihat memesona, kan?” Kaina mengangkat kepala dengan cepat. Dia menelan ludah. Tangannya menggerakkan pena ke segala arah.
“Aku ini siapa, Ra? Aku tidak seharusnya menyukai Arion. Aku tahu kalau perasaanku salah. Kamu ingat perkataan Ustazah Haura di kajian tadi?”
Inilah yang disukai Kaina setelah mengikuti sebuah kajian. Hatinya tenang dan dia bisa mengatur perasaan. Dia merasa ada yang menyiramkan bongkahan es ke dalam jiwa panasnya dan itu terasa begitu menyejukkan.
“Cinta itu perasaan yang sangat suci. Allah menganugerahkannya kepada kita agar kita lebih tersentuh pada sesama. Tidak merasa sombong dan mengabaikan penderitaan orang lain. Meski begitu, cinta bisa menjadi bumerang bagi manusia yang tidak bisa mengendalikannya. Terutama pada usia muda seperti kalian.”
“Banyak di antara teman-teman kita yang memuja cinta kepada makhluk. Padahal tidak ada yang pantas untuk dicintai melebihi Allah. Karena itu, kita harus bisa menjaga hati. Jangan sampai tergoda pada bujukan setan yang memanas-manasi kita. Tidak ada istilah pacaran dalam Islam. Yang ada hanya taaruf sebelum menikah. Atau ada yang mau menikah muda?”
Kaina tersenyum mengingat pertanyaan Ustazah Haura yang diikutinya tadi. Para peserta kajian yang rata-rata adalah mahasiswi langsung ribut begitu ditanya seperti itu. Mereka berebut untuk bertanya tentang menikah muda.
Sebagai gadis yang memiliki pengalaman buruk pada sebuah ikatan pernikahan, Kaina tidak pernah membayangkan akan menikah di usia belia. Dia saksi mata bagaimana cinta tidak lagi dibutuhkan saat pernikahan sudah berjalan beberapa waktu. Segala omong kosong tentang cinta sempat membuat Kaina tidak percaya. Namun, segalanya berubah begitu Arion muncul.
Entah jenis rasa suka seperti apa yang Kaina miliki pada Arion. Cintakah atau sekadar kagum? Ini pengalaman pertama dan satu-satunya bagi gadis itu. Dia tidak mengerti. Yang dia tahu, kemunculan Arion selalu berdampak buruk pada jantungnya. Menurut beberapa temannya, jantung yang berdetak kencang adalah indikasi kita jatuh cinta pada seseorang. Benarkah?
“Kamu mau nikah muda?”
“Apa aku terlihat akan melakukannya?” Kaina mengambil sebuah buku kecil berwarna hijau muda dari dalam tas, lalu menunjukkannya pada Dara. “Kamu tahu betul rencana masa depanku.”
Pastinya. Dara sudah pernah melihat catatan Kaina di buku itu. Kapan dia menikah. Usaha yang ingin dirintisnya. Sumber modalnya dari mana. Di mana dia merencanakan membangun sebuah rumah. Kapan akan melahirkan. Semua tertulis jelas di sana.
“Tapi itu cuma rencana kamu, Kai. Allah bisa saja punya rencana lain.”
“Aku tahu, Ra. Aku cuma tidak ingin mengalami hal-hal buruk lagi. Apalagi kalau sampai anakku yang merasakannya. Aku akan menjaga pernikahanku, Ra. Aku tidak akan pernah membiarkan masa laluku yang kelam kembali terulang,” ucap Kaina dengan mata kosong. Dia menggigit bibir kuat-kuat untuk menahan gejolak hatinya yang mulai memanas.
“Aku mengerti, Ra. Aku bukannya meragukan kamu. Aku tahu kamu akan baik-baik saja. Selama ini kamu sudah berusaha keras, kan? Insya Allah, Allah selalu melindungi umat-Nya yang bersungguh-sungguh. Aku cuma ....”
Mulut Dara hanya terbuka. Dia gamang untuk menyampaikan pendapatnya tentang Arion. Jika Kaina tidak menginginkan masa lalu terulang, bukankah sepatutnya dia menjauhi pemuda itu? Arion memiliki kesempatan besar untuk mengingatkan Kaina pada pengalaman tersulitnya. Kenapa Allah memberi cobaan berat pada cinta Kaina?
Ya, Allah. Bukankah Allah tidak pernah memberikan cobaan melebihi kemampuan hamba-Nya? Dara beristigfar dalam hati karena sempat menyalahkan jalan hidup yang digariskan oleh Allah. Jika Kaina harus melewati semua hal ini, maka tentu Allah sudah menyiapkan hati Kaina. Terlepas dari bagaimana masalah Kaina akan diselesaikan.
“Karena Arion seorang badboy dan playboy?” tanya Kaina menebak isi kepala Dara. Dia tersenyum kecut ketika melihat anggukan sahabatnya.
Badboy dan playboy. Dua hal yang membuat Kaina mengalami trauma untuk menjalani sebuah hubungan. Kaina sendiri tidak tahu kenapa justru pemuda seperti Arion yang menarik perhatiannya. Arion berpotensi besar menggores luka di hati Kaina. Sama seperti orang di masa lalunya.
“Kamu merasa khawatir?”
“Tentu saja, Kai. Kalau kamu tidak ingin masa lalu kamu terulang, seharusnya kamu tidak menyukai Arion. Kamu tahu betul itu, kan?” Kaina mengangguk lemah. “Terus, kenapa kamu masih memikirkan cowok itu? Tunggu dulu, Kai. Aku belum selesai ngomong,” kata Dara saat Kaina hendak menyanggah ucapannya.
“Aku tahu kamu masih memikirkan Arion sampai sekarang. Dia mungkin pernah buat kamu bersemangat dan bangkit dari keterpurukan. Tapi seharusnya hanya sampai di situ. Kamu harus belajar melepas dia pelan-pelan,” tambah Dara hati-hati.
“Makasih ya, Ra. Kamu pasti khawatir banget sama aku.” Kaina menutup buku, lalu bertopang dagu. “Arion kan enggak suka sama aku, jadi pada akhirnya, kami enggak mungkin bersama. Dia bakal ketemu cewek cantik lainnya dan menikah. Aku akan berusaha lebih keras untuk melupakannya.”
“Kamu salah, Kai,” sangkal Dara. Kening Kaina berkerut. “Arion suka sama kamu.”
“Apa?” bisik Kaina lirih. Tanpa bisa ditahan, kedua sudut bibirnya terangkat.
“Aku mengatakan ini bukan untuk buat kamu ge-er atau senang. Aku ingin kamu berhati-hati pada Arion.”
“Apa yang dibilang Dara itu benar. Loe harus hati-hati sama Arion.”
Kemunculan Chessy yang tiba-tiba nyaris membuat Kaina melompat dari kursi. Dia melirik Dara yang juga terlihat syok. Sementara Chessy hampir saja tertawa melihat cara kedua gadis itu menatapnya. Kalau tidak ingat ini adalah perpustakaan, tawa Chessy pasti sudah meledak.
“Chessy?”
“Iya. Gue Chessy,” jawab Chessy geli. “Loe berdua tenang saja. Gue pintar kok jaga rahasia.”
“Kamu ... sejak kapan ada di situ?”
“Baru saja, sih. Tapi loe benaran suka sama Arion, Kai? Enggak salah?”
Kaina menunduk dalam-dalam. Mukanya terasa panas. Apa dia sedang merona sekarang? Ini sedikit memalukan. Dia seperti pencuri yang tertangkap basah. Bagaimana kalau Chessy menyebarkan berita ini? Apa yang harus dia lakukan?
“Ya, ampun, Kai. Loe enggak percaya sama gue? Kita mungkin enggak dekat, tapi loe pasti kenal siapa Chessy. Gue bukan orang yang suka ikut campur.”
“Terus gimana ceritanya kamu bisa muncul tiba-tiba di sini?”
“Sebenarnya gue enggak bermaksud menguping, tapi gue terlanjur dengar.” Chessy tersenyum lebar. “Sori, deh. Gue tadi cuma mau ngobrol. Gue enggak tahu kalau kalian lagi ngomongin top secret.”
“Kamu bisa jaga rahasia ini, kan?”
“Pasti, dong. Gue bisa dipercaya. Tapi gue penasaran, loe benaran suka sama Arion? Maksud gue, naksir?” Kaina tidak menjawab. “Oke. Gue anggap diam loe sebagai iya.”
“Tapi ini enggak seperti yang loe pikirkan, Ches,” sergah Kaina.
“Gue paham kok, Kai. Karena loe muslim, kan?” Kaina mengangguk ragu. “Beberapa teman gue yang muslim juga punya pendirian begitu. Mereka cuma berani naksir diam-diam, tapi enggak mau pacaran. Gue sih enggak masalah dengan itu. Setiap orang punya pendirian masing-masing, kan?”
“Kamu benar, Ches. Seharusnya kami memang tidak boleh memiliki perasaan seperti itu. Makasih sudah memahami pendirian kami.”
“It’s okay. Sebagai sahabat, gue dukung apa pun keputusan loe. Tapi Dara benar, Kai. Loe harus hati-hati sama Arion. Kelihatannya, dia memang naksir loe.”
“Kenapa kamu bisa ngomong gitu?”
“Hmm, gue cukup pintar baca pikiran orang,” ujar Chessy seraya memainkan sebelah mata. “Arion itu sebenarnya cowok yang cukup menyedihkan. Dia dihantui masa lalunya sampai sekarang. Itu alasan dia jadi cowok yang hobi gonta-ganti pacar dan suka kelahi.”
“Dihantui masa lalu?” Kaina tidak pernah tahu kalau Arion juga merasakan hal yang sama seperti dirinya.
“Ibunya selingkuh dan pergi meninggalkan keluarganya. Kalau boleh jujur, ibunya memang w*************a. Dia sudah sering mencurangi suaminya. Arion kecil yang kena imbasnya karena sering menyaksikan sendiri hal itu. Karena itu, Arion seperti enggak menghargai cewek. Dia benci setengah mati sama ibunya.”
“Kamu tahu dari mana tentang hal ini?”
“Selingkuhan terakhir ibunya adalah paman gue.” Mulut Kaina ternganga.
“Sekarang, di mana ibu Arion?”
“Mati,” jawab Chessy. “Dia bunuh diri. Enggak ada yang tahu apa alasannya.” Chessy berdiri dan merangkul pundak Kaina. “Arion itu cowok yang enggak bisa ditebak, Kai. Gue lebih suka kalau loe ngelupain dia.”
Setelah berkata seperti itu, Chessy berlalu. Kaina menatap Dara yang juga terdiam. Mereka tidak menyangka jika Arion memiliki masa lalu yang kelam. Inikah alasan sebenarnya dibalik sikap buruk Arion?