5. Suka Siapa?

1568 Words
“Sikap loe aneh, Yon,” celetuk Adit begitu Kaina dan Dara menghilang. Arion berbalik dan menatap Adit. “Maksud loe?” “Loe jadi pengin dekat sama Kaina, kan?” todong Adit. Johan dan Daren mengangguk setuju. “Bukan gitu. Gue cuma ... cuma ....” “Cuma apa? Naksir Kaina?” Arion berdecak. Dia ingin menyangkal tuduhan Daren, tetapi mulutnya seolah terkunci. Arion yakin dia tidak sedang jatuh hati pada Kaina. Dia hanya penasaran dengan gadis itu. Sampai saat ini, dia masih memikirkan Chessy. Jadi, mana mungkin dia bisa menyukai dua cewek sekaligus. Dia mungkin suka berganti pacar, tetapi dia tidak pernah selingkuh. Dia akan memutuskan satu cewek sebelum berpacaran dengan yang lain. Setiap kali putus, Arion selalu melakukan dengan perlahan. Tidak heran jika semua mantan pemuda masih berhubungan baik dengannya. Bahkan ada beberapa yang meminta kembali menjadi pacar. Namun, Arion adalah Arion. Dia tidak pernah kembali pada seorang mantan. Belum pernah sekalipun Arion merasa sepenasaran ini pada seorang gadis. Kaina benar-benar membuatnya ingin melakukan hal yang di luar nalar. Seperti terlibat dalam acara sosial yang diadakan Kaina. Itu hanya alasan agar dia bisa berada di dekat Kaina. “Loe enggak bisa jawab, kan?” Daren memojokkan Arion. “Oke. Gue memang tertarik sama Kaina. Terus, di mana salahnya? Wajar kan kalau gue suka sama cewek cantik kayak dia?” Arion tidak terima jika dipojokkan begitu. Alasan Arion tepat, bukan? Kaina adalah sosok yang mudah disukai. Dia pintar, baik, dan cantik. Lalu, kenapa ketiga sahabatnya tampak aneh? Apa karena sebelumnya dia selalu mengatakan kalau dia menyukai Chessy? Lagi pula tidak masalah kalau dia sesekali galau karena seorang gadis. Galau? Ya, ampun! Sejak kapan seorang Arion bisa merasakan galau karena makhluk bernama perempuan. Dia hanya cukup menunjuk gadis yang diinginkan dan langsung bisa mendapatkan. Sayangnya, tidak semua kaum hawa ingin menjadi kekasih pemuda itu. Apa ini hukuman bagi Arion? Dia terkadang tidak terlalu memikirkan perasaan para gadis yang menjadi kekasihnya. Walau putus secara baik-baik, bisa saja mereka sebenarnya sakit hati. Sekarang, saat dia menyukai seseorang, dia malah diabaikan. “Parah loe, Yon.” Ucapan Adit membuat Arion mengerutkan kening. Di antara ketiga temannya, Arion pikir, Adit yang paling bisa mengerti jalan pikirannya. Kenapa Adit berkata seperti itu. “Arion memang parah habis,” dukung Daren, yang juga disetujui oleh Johan. “Kalian ini kenapa, sih? Memang aneh kalau gue suka sama Kaina?” “Aneh banget,” jawab tiga pemuda di hadapan Arion. Perasaan Arion jadi tidak nyaman. Jujur saja, dia juga merasa ada yang aneh dengan ketertarikannya pada Kaina. Gadis itu memang terbilang cantik, tetapi Arion belum pernah menyukai cewek berjilbab. Entah bagaimana, hijab yang menghiasi kepala Kaina membuatnya semakin memesona. “Kaina itu buka tipe loe, Yon,” ucap Daren mengingatkan. Benar sekali. Kaina memang bukan tipe cewek yang disukai oleh Arion. Kalau bisa dibilang, kepribadian Kaina sangat jauh berbeda dengan para mantannya. Arion lebih menyukai gadis ramah dan memiliki pergaulan yang baik. Sementara Kaina? Arion tahu betul bagaimana Kaina selalu menghindari setiap orang yang mendekat. Dia mungkin akan maklum jika Kaina hanya menjauhi para pemuda. Karena gadis itu berjilbab dan tidak ingin terlalu dekat dengan lawan jenis. Namun, Kaina seperti membangun tembok agar tidak ada seorang pun yang merapat. “Loe sebaiknya enggak ngejar dia,” tambah Adit serius. “Kenapa?” “Ya, ampun, Yon!” Johan meremas tangan di depan wajah Arion yang menatap tanpa ekspresi. “Loe belum sadar juga?” Pemuda itu mendengkus saat melihat Arion masih diam. “Kasih tahu dia, Dar.” “Dengar baik-baik ya, Yon. Cewek kayak Kaina itu enggak bakal mau pacaran. Dia juga bakal menjauh pelan-pelan begitu sadar loe naksir dia. Lagian, loe sama dia kayak langit sama bumi. Jauh banget bedanya. Loe suka bikin ribut, dia enggak suka. Loe suka gaul, dia enggak. Loe suka suasana ramai, dia enggak. Loe enggak pernah ibadah, dia pasti taat beragama. Loe yakin masih mau ngejar dia?” Semua yang dikatakan Daren tidak salah sama sekali, tetapi mengapa hati Arion merasa hampa? Dia tidak memedulikan perbedaan antara dirinya dan Kaina. Dia hanya ingin dekat, tidak pacaran juga tidak masalah. Selama dia bisa menatap Kaina kapan pun dia mau. “Kalian semua enggak usah khawatir gitu. Gue cuma mau berteman sama Kaina. Masa iya gue berpaling dari Chessy ke Kaina. Mereka kan beda banget,” ucap Arion sambil tersenyum lebar. Meski begitu, hatinya meragukan perkataannya. Benarkah begitu? “Bagus deh kalau memang gitu. Gue enggak mau loe salah sasaran, Bro. Kaina itu cewek baik. Banyak yang bakal musuhin loe kalau sampai loe mainin perasaannya,” kata Adit sambil menepuk bahu Arion, lalu berlalu dari ruang musik. “Apa yang dibilang sama Adit benar, Yon. Kalau loe pengin main-main, lupakan Kaina dari daftar target loe.” Daren menyusul Adit setelah memberikan petuah. Johan memainkan sebelah mata sebelum akhirnya juga meninggalkan Arion seorang diri. Mata hitam Arion menangkap sebuah buku yang sudah lama dia baca. Dia melangkah dan meraih benda berwarna biru muda itu. Judulnya tertulis dengan rapi “Siap Berhijrah?”. Dia tidak tahu apa yang merasukinya saat memutuskan untuk membeli buku itu dua tahun lalu. Mungkin sekarang Arion harus mengakui sesuatu. Bahwa setelah mengenal sosok Kaina, dia ingin terus berada di sekeliling gadis itu. Dia tidak tahu pasti apa alasan Kaina seolah menghindarinya selama ini. Namun, dia yakin kalau Kaina tidak benar-benar ingin berjauhan. Beberapa kali, dia melihat Kaina melihatnya tampil di kampus. Dia juga pernah menangkap basah Kaina yang memperhatikannya dari jauh. Kaina terus memengaruhi pikiran Arion. Dia yang awalnya malas untuk mengikuti kuliah, begitu semangat masuk. Alasannya cuma satu, dia berharap bisa bertemu dengan Kaina di kampus. Padahal mereka beda jurusan. Kemungkinan bertemu hanya sedikit. Namun, Arion ingin terlihat cukup baik di mata Kaina. Setidaknya, dia layak disedut teman oleh gadis itu. “Sekarang bilang sama gue, Kai, apa yang sebenarnya terjadi sama gue? Kenapa gue bisa tertarik sama loe, padahal gue sukanya sama Chessy? Gue belum pernah sebingung ini waktu suka sama cewek. Gue rasa ada yang salah sama gue, tapi apa?” Arion mengambil sebuah foto yang dia selipkan di buku. Kaina dengan seragam SMA sedang tersenyum. Dia ingat saat itu Kaina tengah berbicara dengan Dara. Senyum langka Kaina selalu bisa memikatnya. Ada sebuah magnet yang terus menariknya agar melihat ekspresi indah Kaina. Hijab yang dikenakan Kaina bahkan tidak pernah mengganggu Arion. Dia menyukai apa pun yang melekat pada diri Kaina. Tidak peduli seberapa cueknya gadis itu saat dia mendekat. Dia tetap berusaha meruntuhkan tembok pertahanan Kaina. “Apa benar gue naksir loe, Kai? Gimana sama Chessy? Sebenarnya siapa yang gue suka?” Sekarang mata Arion mulai menerawang jauh. Dia menyelami hati dan pikiran untuk menemukan jawaban. Namun, setelah beberapa waktu berlalu, dia tidak kunjung mendapatkan keinginannya. *** “Menurut loe si Bos benaran suka sama Kaina?” tanya Johan setelah mengintai Arion di ruang musik bersama Daren dan Adit. “Gue rasa sih gitu. Gimana menurut loe, Dit?” “Gue juga agak bingung. Loe berdua pernah enggak sih lihat Arion sepenasaran ini sama cewek? Bahkan waktu dia bilang dia suka Chessy, dia enggak sesemangat sekarang.” “Apa Arion bakal tobat?” tanya Daren melantur. Adit dan Johan serempak memberi pukulan di bahu kanan kirinya. Daren mengaduh. “Loe berdua kok jadi kasar sama gue. Gue kan cuma tanya. Arion lagi suka cewek alim. Mana tahu dia mau tobat. Iya, kan?” Adit menghela napas berat. “Kalaupun Arion mau tobat, itu hak dia. Kita cuma bisa kasih dukungan.” “Setuju. Kali saja kita juga bisa ikutan tobat. Kenapa?” Johan langsung melontarkan pertanyaan begitu melihat mata Daren membesar. “Loe ketularan Bos? Memangnya Tuhan mau ngampuni loe? Dosa loe terlalu banyak,” cibir Daren. Johan menatapnya tajam. “Kayak loe enggak punya dosa saja. Gue kan cuma berandai-andai.” “Khayalan loe ketinggian.” “Loe berdua mau berdebat sampai kapan?” Adit mendengkus menyaksikan kelakuan kedua kawannya yang masih kekanakan itu. Sebenarnya Adit tidak merasa keberatan jika Arion menyukai Kaina. Dia tahu kalau Kaina sudah membawa angin kebaikan pada diri sahabatnya itu. Akan tetapi, dia tidak ingin Arion kecewa karena Kaina itu gadis spesial. Seperti apa yang telah dikatakan Daren, Arion dan Kaina hidup di dunia berbeda. Arion hidup bergelimang harta sejak kecil. Dia juga terbiasa dengan perkelahian sejak dulu. Sementara Kaina selalu penuh kesederhanaan. Gadis itu cinta damai dan lebih suka menghindari kekerasan. Dia lebih baik mengalah daripada harus berdebat. Meski begitu, dia merupakan sosok yang mengagumkan. Adit tahu jika Kaina adalah gadis yang nyaris sempurna. Hal itulah yang justru membuat Adit takut. Bagaimana jika Kaina tidak menginginkan pemuda seperti Arion? Biasanya gadis berjilbab lebih tertarik pada sosok yang lebih alim. Setidaknya, begitulah pendapat Adit selama ini. Orang baik akan menyukai orang yang baik pula. Berbeda dengan orang jahat, mereka tidak menyukai orang yang memiliki kepribadian yang sama dengannya. Karena pada dasarnya, semua orang menginginkan yang terbaik dalam hidup mereka. “Jadi, gimana menurut loe?” Johan mulai serius lagi. “Gue yakin seratus persen kalau Arion suka sama Kaina.” Daren melipat tangan di d**a. Dia tidak luput memerhatikan Arion selama berbicara dengan Kaina. Mata Arion tampak berbinar begitu berhadapan dengan gadis itu. “Gimana dengan Kaina? Menurut loe dia suka juga enggak sama Arion?” “Ya elah, Dit. Mana ada cewek yang enggak suka sama Arion.” Johan kembali mengingat sosok Kaina yang tidak pernah menunjukkan mimik berlebihan saat bersama dengan mereka. “Kecuali si Kaina. Dia enggak bisa ditebak,” imbuh Johan. “Kalau gue rasa sih ... Kaina juga suka sama Arion.” Johan dan Daren langsung terduduk tegak. “Kok loe bisa ngomong gitu? Loe punya alasan?” “Soalnya ...,” Adit ingin tertawa melihat bagaimana kedua kawannya serius menyimak. “gue asal tebak saja.” Adit tertawa keras begitu mendengar “kata-kata keramat” yang dikeluarkan oleh Johan dan Daren setelah dia mengerjai mereka. Sejujurnya, dia jadi penasaran dengan perasaan Kaina. Apakah ada kemungkinan Kaina akan membalas rasa suka Arion? Tiba-tiba dia ingin menjadi seorang detektif.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD