4. Alunan Musik

1509 Words
Baru saja masuk ke kafe Hero, Kaina sudah terpukau dengan interiornya. Ada ruang khusus yang dipenuhi rak buku yang boleh dipinjam atau sekadar dibaca di tempat. Pas sekali bagi para mahasiswa yang ingin menyelesaikan tugas di sana. Apa lagi kafe itu buka dua puluh empat jam. Buat yang ingin sekadar nongkrong, ada ruang luas dengan desain cantik. Diiringi musik yang mengalun lembut setiap hari. Di hari-hari tertentu bahkan diadakan konser kecil. Luar biasa menarik, bukan? Yang membuat Kaina cukup terkejut adalah fakta bahwa kafe itu milik Arion. Oke. Dia tahu jika Arion putra tunggal seorang pengusaha sukses. Pemuda itu tidak perlu pusing memikirkan modal untuk membuka usaha sebesar ini. Dia sudah sering melihat kafe Hero dari jalan ketika menuju kampus, tetapi baru kali ini memasukinya. “Keren banget kafenya,” tukas Dara yang berdiri di samping Kaina. “Toko Ibu bahkan enggak ada separuhnya. Ternyata si Arion itu hebat juga, ya. Aku dengar, dia membuka usaha ini sejak SMA, lho.” Begitukah? Kaina tidak tahu kalau dibalik sifat bad boy yang melekat pada Arion, pemuda itu bisa sukses menjalankan bisnis. Pengunjungnya sangat padat. Kaina sampai bingung harus duduk di mana. Sepanjang mata memandang, selalu saja ada pelanggan. Kaina pikir dia sudah tahu segala hal tentang Arion, ternyata tidak. Dia hanya tahu jika pemuda itu tidak seburuk penampilannya. Salah! Yang benar, Arion tidak seburuk kelihatannya. Kalau soal penampilan, Arion memang terkesan cuek, tetapi dia selalu terlihat tampan dengan gaya apa pun. Mungkin karena itulah, banyak yang mengejarnya. Arion memiliki tubuh tinggi besar. Kulitnya sedikit cokelat karena lebih menyukai aktivitas di luar ruangan. Meski begitu, tidak ada noda di wajah tampannya. Rambut pemuda itu hitam, lurus, dan tebal. Sejak dulu, dia selalu membiarkan rambutnya panjang melewati bahu. Bedanya, sekarang dia menambahkan segaris lis warna. “Kamu sudah hubungi Arion sebelum ke sini, kan?” tanya Kaina memastikan. “Kita kan sudah sepakat kemarin, kenapa harus repot meneleponnya?” “Cuma buat memastikan Dara sayang. Gimana kalau Arion lagi pergi? Kita ....” “Kalian sudah datang?” Perkataan Kaina terpotong karena seseorang menyela. Gadis itu menoleh. Johan sudah berdiri di dekatnya. “Hai, Jo. Kami enggak terlalu cepat, kan?” Kaina mencoba berbasa-basi. “Enggak, kok. Kalian tepat waktu,” ucap Johan setelah melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya. “Ayo, ikut gue.” Johan mulai melangkah. Kaina baru akan mengikuti, tetapi telinganya menangkap suara yang mengalun syahdu. Dia berjalan mendahului Johan yang menatap dengan bingung. Johan melirik Dara yang mengangkat bahu. Pada akhirnya, Johan dan Dara mengalah. Mereka mengikuti ke mana Kaina pergi. Mata Kaina tidak lepas dari pemandangan yang begitu dia sukai. Sebenarnya dia tidak benar-benar menatap sosok yang tengah bermain piano itu. Dia hanya terhanyut dalam musik indah yang dibawakan. Suara yang senantiasa menjadi favoritnya sejak pertama mendengar. Sementara si pemain piano, Arion, memejamkan mata dan meresapi setiap nada yang dinyanyikan. Dia memainkan tuts piano dengan sangat lihai. Tanpa disadari, sudah berpasang-pasang mata yang menyaksikan penampilannya. “Thank’s untuk semuanya. Silakan menikmati pesanan kembali,” ujar Arion ramah setelah mengakhiri permainannya. Kaina sampai tidak menyadari hal itu dan masih memandang ke arah piano yang dimainkan oleh Arion tadi. “Hai, Kaina.” Untunglah Kaina sudah bisa menguasai diri ketika Arion menghampirinya. Pemuda itu tersenyum manis seperti biasa. Kaina membalas senyum itu sekilas, lalu menoleh pada Dara yang hanya menyilangkan tangan di d**a. Kaina mengenal ekspresi Dara. Sahabat terbaiknya itu sedang memberi peringatan tanda bahaya. Kaina menarik napas dan berpaling pada Arion, yang lagi-lagi masih menyunggingkan senyum. Dia bertanya-tanya dalam hati, apa pemuda itu tidak bisa bersikap biasa saja? “Kita langsung ke atas saja, ya? Ke ruang musik,” kata Arion. Dia menatap lurus Kaina yang mulai jengah dengan senyumnya. Bukan karena tidak menyukai senyuman itu, tetapi efek yang ditimbulkan tidak baik sama sekali. “Ayo!” seru Kaina sedikit keras dam membuat Arion mengerjap. Dia ganti menatap Dara, mencoba meminta penjelasan atas sikap aneh sang sahabat. Namun, seperti tadi, Dara cuma mengangkat bahu. Tanpa bertanya lagi, Arion menarik Johan. “Mereka kenapa?” bisiknya. “Mana gue tahu. Kaina memang sedikit aneh hari ini. Apa lagi habis dengar loe main piano. Loe kali yang punya masalah sama dia,” gumam Johan sambil melirik ke belakang beberapa kali, takut kalau kedua gadis yang mengikuti mendengar perkataannya. “Memangnya tampang gue kayak orang yang punya masalah sama mereka? Gue itu cinta damai, apa lagi sama cewek kayak Kaina.” “Kayak Kaina? Memang Kaina kenapa?" Arion mendengkus. Dia menoleh ke belakang sejenak, lalu merangkul Johan erat. Mata tajamnya menusuk. Kalau sudah begitu, Johan hanya diam. Dia tahu mode Arion sedang tidak ingin ditanya. *** “Gimana, Kai? Cocok kan dengan tema yang kita usung?” tanya Arion setelah menyanyikan beberapa lagu bersama ketiga sahabatnya. Dara manggut-manggut, sementara Kaina masih tenggelam dalam pikiran bawah sadar. “Kaina.” Sebuah senggolan menyadarkan Kaina. Gadis berjilbab itu berusaha tersenyum pada keempat pemuda yang ada di hadapannya. “Maaf, ya. Aku terlalu hanyut dalam permainan musiknya, padahal sudah selesai main,” ujar Kaina merasa tidak enak. Dia khawatir jika Arion dan kawan-kawannya berpikir dia tidak menikmati lagu mereka. “Tapi loe diam saja dari tadi,” ucap Daren to the point. Kaina meringis. “Soalnya aku suka musik kalian. Aku menikmatinya.” Kaina tersenyum canggung. “Serius,” tambahnya saat melihat keempat pemuda itu menatap heran. “Loe bisa protes kalau lagu kami enggak sesuai, Kai. Kami oke-oke saja, kok. Loe enggak perlu sungkan atau apalah itu. Niat kami kan memang pengin bantu,” timpal Adit. Dia menyunggingkan senyum agar lebih meyakinkan. “Tapi aku benar-benar suka lagu yang kalian pilih. Aku cuma suka terhanyut kalau ada musik bagus.” “Betul banget. Kaina memang paling suka musik, makanya dia mudah hanyut kalau ada irama, apa lagi permainan kalian keren,” tambah Dara meyakinkan. “Syukurlah kalau begitu,” ucap Arion lega. “Suara Daren oke, kan?” “Jelas. Gue gitu, lho,” kata Daren yang memang menjadi vokalis. Arion memainkan gitar, Adit memegang bass, dan Johan drum. “Mulai, deh. Kai, Ra, gue saranin, jangan pernah ngasih pujian sama Daren. Dia itu paling cepat besar kepala,” ujar Johan yang langsung diberi hadiah tinjuan di lengan oleh Daren. “Tapi suara Daren memang bagus, kok.” “Tuh, kan. Kaina itu cewek paling jujur sedunia. Cewek kayak dia enggak mungkin bohong. Iya kan, Kai?" Kaina hanya tersenyum singkat dan berdeham untuk menenangkan hati. Dia memang tidak suka berbohong, tapi gadis yang jujur? Entahlah. Dia merasa malu jika harus jujur mengenai masa lalunya. Apa itu bisa dikategorikan kebohongan. Masa lalu yang tidak pernah ingin diingat oleh Kaina. Dia juga tidak berniat berbagi dengan orang baru. Cukup dia, Dara, dan sang bibi yang mengetahui kondisinya yang paling rapuh. Orang lain tidak perlu diberi tahu. Mungkin nanti, setelah Kaina menemukan tambatan hati. Dia pasti akan jujur dengan segala yang melekat pada dirinya. “Pastinya! Cewek berjilbab itu biasanya lebih jujur.” “Jangan melihat penampilan luar seseorang, Dit. Kadang apa yang kamu lihat, tidak sesuai dengan kenyataan. Banyak hal yang tersembunyi dalam hati manusia. Bahkan bagi kami yang sudah berjilbab. Kami hanya ingin menjadi lebih baik. Tapi, jangan sampai membedakan kami dengan mereka yang tidak berhijab.” “Wah! Dara memang the best. Jilbab memang bukan patokan utama cewek dikatakan baik, tapi setidaknya mereka memiliki nilai plus.” “Jangan salah, Bro. Sekarang banyak yang jadiin jilbab sebagai tren. Niat mereka bukan buat tutup aurat, tapi biar dibilang baik saja.” “Nah, lho. Itu yang bahaya. Bukannya dapat pahala, malah berdosa. Iya kan, Kai?” Sekali lagi, Kaina tersenyum. “Apa pun niat seorang perempuan berjilbab, kita tidak tahu. Urusan pahala dan dosa itu mutlak milik Allah. Kita sebagai manusia hanya harus berusaha.” “Gue setuju banget,” dukung Arion. Dia menjentikkan tangan. “Loe sejak kapan pakai jilbab, Kai?” “Sejak lulus SMP.” “Keren! Terus berjilbab, ya. Gue suka.” Bukan hanya Kaina, semua orang menatap Arion dengan mata melebar. Arion meringis dan menggaruk tengkuk. “Maksud gue ... gue suka kalau ada cewek yang pakai jilbab kayak Kaina. Kan adem lihatnya.” Dara mengembuskan napas keras-keras mendengar penjelasan Arion. Entah mengapa dia merasa ada yang tidak beres dengan pemuda itu. Arion terus terlihat aneh sejak muncul di aula dan menawarkan bantuan. Apa lagi kalau berdekatan dengan Kaina. Dara takut jika Arion menjadikan Kaina sasaran target selanjutnya. “Ya, sudah. Makasih buat hari ini. Kalian sudah keren banget. Kami percaya kalian bakal tampil bagus.” Dara pura-pura melirik jam tangan. “Eh, maaf. Kami harus pergi sekarang.” “Oh, iya. Aku lupa kalau ada kajian siang ini.” “Kajian?” ulang Arion dengan wajah tak mengerti. “Pengajian, Bos. Masa enggak tahu, sih?” tukas Daren dengan wajah menyebalkan. “Gue tahu,” sahut Arion cepat. “Gue boleh ikut?” “Loe kesambet, Yon?” Daren meletakkan telapak tangan kanannya di kening Arion, yang ditampik dengan cepat. “Apaan sih, Dar. Enggak ada salahnya kan kalau gue mau ikut berhijrah?” “Mantap! Si Bos maut tobat, Bro!” seru Johan sambil tertawa. “Jadi, gue boleh ikut?” Arion tidak memedulikan sindiran ketiga temannya. “Mungkin next time, Yon. Kajian kali ini khusus akhwat,” jawab Kaina. “Akhwat?” “Pengajian khusus cewek, Yon. Loe enggak tahu?” Arion menatap jengkel Adit yang mulai sok tahu. Dia memberi tatapan tajam, yang tentu saja tidak berpengaruh untuk Adit. “Oke. Kalau ada pengajian lain, ajak gue, ya.” “Oke. Kami pergi. Assalamualaikum.” Salam itu dijawab dengan kompak oleh empat sekawan. Arion terus mengawasi Kaina sampai sosoknya menghilang dibalik pintu. Ada rasa tidak rela membiarkannya pergi secepat ini. Dia ingin lebih lama menatap pemilik mata bening itu. Ada apa dengannya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD