Nia POV
Siang ini aku, Andrew dan Adri mengunjungi rumah sakit yang baru menjadi punya kak Keinan. Adri sangat bersemangat karena katanya disana dia baru menemukan banyak teman. Ada satu teman yang ingin selalu dia kunjungi dan dia ceritakan tanpa henti-hentinya kepada kami dari kemarin. Katanya dia kasian melihat sahabatnya itu harus terbaring lama di rumah sakit.
"kita tinggal disini aja ya bunda" sahutnya tanpa henti di dalam mobil.
" loh kenapa? Adri nggak mau ikut Daddy tinggal di Amerika?" tanya Andrew.
Adri bergelantungan manja dalam dekapan Andrew " mau, dad, tapi Adri baru dapat teman kemarin. Kan kasihan kalu di tinggal nanti dia kesepian" celotehnya.
"Daddy balik ama bunda aja, biar Adri sama papi. Boleh ya pi? Adri janji nggak akan nakal-nakal kok, sumpah" lanjutnya menautkan jari tengah dan telunjuk.
" Papi boleh aja, nanti apa Adri nggak rindu sama bunda? Adri kan masih bobok bareng bunda" Kak Kei menyela.
" oh iya....ya.... ya udah bunda sama Adri disini, biar Dady aja sendiri baliknya" lanjutnya tanpa dosa.
Aku tersenyum. Andrew membelakan matanya menatap anaknya berbicara seenaknya, seolah-olah tidak sayang padanya.
" Adri nggak sayang daddy lagi?" tanya Andrew pura-pura marah.
Aku menatap Andrew dan mengejeknya.
" kasian deh, anaknya aja nggak peka. Makanya jadi bapak jangan sibuk di luar sana" kataku memanaskan suasana.
*********
" Bun, Adri ke kamar teman Adri dulu ya. Nanti kalau udah selesai Adri langsung ke ruangannya Papi" kata Adri meminta izin ketika kami sampai di rumah sakit.
" hati-hati, dan ingat jangan nakal. Kasihan kan mengganggu pasien" lanjutku.
" iya..iya... bye..bye bund" Adri berlari meninggalkan kami.
Tinggalah aku, Kak Kei dan Andrew. Kak Kei pergi meninggalkan kami berdua katanya mau menemuai beberapa karyawan dan dokter yang bekerja disini.
" nah!! Tinggal kita berdua. Sekarang, kamu mau kemana?" tanya Andrew memecahkan keheningan.
" putar-putar aja dulu, ndrew" jawabku enteng.
Setelah cukup lama mengelilingi rumah sakit, kami memutuskan untuk bersantai di taman belakang. Disini cukup ramai pasien bseserta para pengunjung yang duduk santai untuk mencari ketenangan, udara memang cukup sejuk karena banyak ditumbuhi pepohonan.
" ini minumlah dulu" sahut Andrew menyodorkan segelas plastik vanila latte minuman kesukaanku serta beberapa cemilan.
Andrew mengambil duduk disebelahku, serta menatap jahil kearahku.
" kenapa liat-liat,hah?" tanyaku sinis.
Dia masih tersenyum mengoda, aku tidak tahu apa yang ada di otak jahilnya itu. Aku beruntung memilikinya, aku juga beruntung dia hadir dalam hidupku. Dia mau menerimaku apa adanya ketika itu......ya ketika dia menjemputku dan kak Kei yang aku ingat aku seperti mayat berjalan. Dia yang selalu memberikan bahunya sebagai sandaran ketika ku rapuh, dia menjadi nafasku ketikaku hampir tidak ada keinginan untuk hidup. Dia juga yang selalu mendukung setiap ide gila yang terbesit di otakku dia tidak lebih seperti Aileen.......ya Aileen sahabatku...aku merindukannya, sangat merindukannya. Aku yakin dia pasti marah besar kepadaku, karena telah mengingkari janji antara kami.
" Aku merindukannya" lirihku
Andrew menatapku lama, dan tersenyum.......
"kamu melukai perasaanku, Belvania Keyne Smith" sahutnya... Andrew berbeda dari yang lain, ketka semua orang memanggilku Nia, dia selalu memanggilku Belva...terkadang Belvania dan ketka dia merajuk dia memanggil lengkap namaku Belvania Keyne Smith
" aku merindukan Aileen" lanjutku memotong sebelum dia salah paham....
" he...he...he..., aku pikir kamu......."
" makanya jangan nyerocos kayak kereta api....udah ah... bikin mood ku hilang aja. Lebih baik kita cari Adri, ini jam istirahat"
" galak amat sama suami"
" heh...." aku hanya mendengus.......
Dari pada mendengarkan dia yang berbicara ngelantur kesana-kemari. Aku beranjak dari tempat duduk masuk kedalam rumah sakit, mencari anakku Adri.
" jangan cepat-cepat, sayang...nanti kamu jatuh" sorak Andrew di belakangku...tak kuhiraukan celotehan gilanya itu...
Dia memang gila......ceria dan bisa membuat orang didekatnya tertawa, maka dari itu aku mencintainya.
"emangnya siapa sih teman Adri itu, kok bisa baru saja udah dapat sahabat?" tanyaku bingung.
" setahuku kata kak Kei dia menemui pasien anak perempuan yang seusianya yang dirawat disini"
"sepertinya anak kita jatuh cinta" lanjutnya enteng.
Aku melotot mencari kebenaran pada perkataan Andrew.
" itu benar, dan sepertinya keagrefianmu menurun sempurna kepada Adri" katanya lagi menyindirku.
Aku malas berdebat dengan Andrew sekarang, tidak disini dan disana hariku selalu dihabiskan adu argumen dengannya.
"Belv, aku ke toilet dulu ya, nanti aku susul"
Aku mencari cari keberadaan anakku, aku mencoba menuju ke ruangan yang khusus untuk pasien seumuran Adri namun tidak kutemukan keberadaannya.
Setelah cukup lama mencari aku melihat di tengah rumah sakit terlihat lelaki dan perempuan berbicara dengan anak kecil, awalnya aku tidak mengetahui itu Adri karena ditutupi punggung orang dewasa tersebut. Setelah melirik cukup lama kupastikan itu anakku sangat jelas dari sepatu yang dia pakai. Apa yang telah dia lakukan sampai membuat orang dewasa itu menghampirinya.
Aku berjalan kearah mereka bertiga, khawatir Adri melakukan kesalahan yang membuat pasien atau pengunjung ini terganggu...
" ADRIII!!!" sahutku memanggilnya cukup dekat.
Dug......
Tubuhku membeku, lidahku kelu, serta mungkin darahku berdesir dengan cepat saat ini. Adri yang kucari-cari dari tadi kuhiraukan. Aku hanya terfokus kepada kedua orang yang berdiri dsihadapanku. Satunya sahabat yang sanga kurindukan, dan satunya lagi lelaki cinta pertamaku yang selalu membuat darahku berdesir ketika menatapnya, bahkan sampai sekarang.
Rasa ini kembali setelah sekian lama aku kubur. Melihat wajahnya adalh candu bagiku, biarlah Tuhan aku egois satu kali ini saja. Aku ingin menatap nya, aku sangat merindukannya hanya cara ini yang kupunya dari sekian lama aku menanti keajaiban hanya bisa melihatnya kembali.
Dia masih tetap sama, Raka yang kukenal tampan malah semakin tampan.
" Bunda!!!!!!" sorak Adri berhamburan kepelukanku.....
Kesadaranku kembali setelah Adri bersorak dan memelukku......
Kuahlikan tatapanku darinya menatap Adri....
" kita pulang sayang" lirihku
" Daddy mana, bun?" tanya Adri
" sayang!!! Aku cari kesana kemari eh....ternyata disini" suara Andrew dari belakang.
Ku melirik ke arah Raka dan Aileen, mereka menatap kami intens terlebih kearahku.
" Adri! Udah selesai membesuk temannya?" lanjut Andrew seolah melupakan bukan aku dan Adri yang ada disini.
" udah Daddy, sekarang Adri lapar.....kita makan ya Bun" rengeknya
" hmmm" aku hanya bisa mengangguk....
" nah sini gendong sama Daddy, Bunda kayaknya letih gendong Adri"
" Adri nakal lagi ya?" tanya Andrew melihat Aileen dan Raka.
"nggak Daddy, tadi itu Adri lihat Bunda disana, karena mengejar Bunda, Adri nabarak om ini" jawabnya menjeleskan.
" maafkan anak kami karena menggangu kenyamanan anda"
" tidak apa-apa namanya juga nanak kecil" jawab Raka akhirnya...
Uh.....suaranya.....
" kenalkan.......kami orangtua Adri, saya Andrew Collin, panggil saja Andrew"
" ya Saya Raka dan ini Aileen adikku"
" oh Adik....toh aku pikir istrinya"
Raka hanya tersenyum......
" kalau begitu kami pergi dulu...sepertinya Adri sangat lapar"
" Adri pamit sama Om dan Tante" lanjut Andrew..
" Om...Tante Adri pulang dulu, bye" sahut Adri..
Kami pergi dari hadapan Raka dan Aileen dan tidak lupa Andrew merangkulku dan Adri.....
Raka POV
Hanya seperkian detik hatiku ini senang, hanya karena melihatnya lagi. Dia persis berdiri di depanku, ada yang berubah dari dirinya. Bukan fisiknya saja, sekarang tatapan matanya berubah sendu, tidak ada lagi kecerian dari matanya kulihat. Apakah aku penyebab semuanya, karena aku dia berubah seperti itu.
Ketika mendengar suaranya, melihatnya lagi ingin rasanya kupeluk erat tubuh Nia dan meminta maaf atas apa yang telah aku lakukan kepadanya dulu.
Hatiku hancur seorang anak kecil yang baru kukenal memanggil hangat wanita yang kurindukan dengan sebutan bunda. Kalau bukan ada Aileen disampingku akan kupastikan aku akan luruh dilantai dan melupakan egoku hanya untuk memohon maaf padanya dan menjadi milikku seperti yang dia harapkan dari dulu.
Tuhan!!!!! Apakah masih adakah rasa di hatinya untukku?
Apakah dia merindukanku seperti aku merindukannya?
Apakah dia memikirkanku seperti aku memikirkannya?
Tidakkah dia tahu bahwa aku sangat mencintainya........
Awalnya aku tidak percaya bahwa Adri adalah anaknya, namun ketika sesosok lelaki datang menghampirinya serta memanggil wanitaku dengan sebutan sayang. Aku semakin yakin tidak ada lagi kesempatan untukku, tidak ada lagi waktu lagi untuk mengatakan padanya alasan kenapa aku menghiraukannya dimasa lalu.
Tak satupun kata yang dia keluarkan untuk kami, baik terhadapku apalgi kepada Aileen.
" Adri nakal lagi ya?" tanya lelaki yang disamping Nia kepada Adri.
"nggak Daddy, tadi itu Adri lihat Bunda disana, karena mengejar Bunda, Adri nabarak om ini" jawabnya menjeleskan. Adri sungguh lucu dan menggemaskan, betul yang dikata Aileen dia mirip Nia. Terlebih matanya.
Tunggu dulu!! matanya?? Kenapa aku baru menyadari sekarang Nia ternyata memiliki mata biru yang sangat indah.....sunnguh indah sekali.
" maafkan anak kami karena menggangu kenyamanan anda" lanjut pria yang disambing Nia.
"tidak apa-apa namanya juga nanak kecil" jawabku akhirnya...
Kutatap wajah Nia begitu lama berharap bisa mengurangi rasa rindu ini. Apalagi aku ingin sekali mendengar suara lantangnya seperti yang dulu. jujur aku suka dia yang dulu, penuh semangat dan tidak mau berhenti berbicara jika didekatku. Aku tidak suka Nia yang sekarang, terlalu tertutup dan sangat pendiam.
" aku rindu kamu yang dulu, Nia!" lirihku.
"tatap aku, berbicaralah walau hanya sekedar menyapaku, terlalu dalamkah aku menyakitimu"
" kenalkan.......kami orangtua Adri, saya Andrew Collin, panggil saja Andrew" lanjut pria itu lagi.
Lagi-lagi kenyataan yang bisa kuterima, perkataan pria ini membutikkan bahwa aku tidak ada kesempatan di hati Nia. Ternyata! Nia tidak mencintaiku, dia telah menemukan kebahagiaannya sendiri. Aku terlalu bodoh begitu berharap dia masih mau menungguku.
" ya Saya Raka dan ini Aileen adikku" balasku.
" oh Adik....toh aku pikir istrinya"
Tidak ku pedulikan perkataan Andrew, mata ini hanya terfokus kepadanya. Masih berharap dia memberikan senyuman seperti dulu.
Kulihat malaikat kecil Nia begitu rewel karena lapar. Entah kenapa hati ini merasa sangat menyayangi Adri, mungkin Adri duplikatnya Nia, maka aku dengan mudah mencintainya. Kuusap lembut kepalanya, sekali lagi getaran itu kembali.
Setelah Adri pamit kepadaku dan Aileen mereka meninggalkan kami yang masih mematung. Ada sedikit airmata di bola mataku, namun kutahan aku tidak mau terlihat cengeng di hadapan adikku. Aku merasa kosong setelah kepergia Nia, menyadari semuanya bahwa diri ini benar-benar terlambat.
"kakak sudah telat ya, Leen?" lirihku menatap adikku.
Dulu Aileen lah yang berada di dekat Nia, untuk mendukung Nia mendekatiku. Semuanya sekarang terbalik. Hari ini, dia disampingku untuk menguatkanku. Dulu Aileen beanr-benar sangat membenciku, terlebih ketika Nia pergi tanpa jejak. Cukup lama aku dan Aileen tidak saling berbicara. Seiring berjalannya waktu, aku dapat menyakinkan Aileen alasanku berbuat kejam kepada temannya. Awalnya masih tetap marah dan menganggapku bodoh, namun melihat kegigihanku berusaha menemukan Nia. Dialah yang menjadi tongkatku sewaktu aku hampir jatuh klarena tidak kunjung menemukan Cintaku.
Aileen menatap iba kearahku, aku tahu dia juga sedih dan bahagia melihat temannya.
" jika dia ditakdirkan untuk kakak. Dia akan kembali kepada kakak" balasnya.
"mustahil, kamu bisa lihatkan....dia sudah bahagia dengan keluarga kecilnya" lrihku
" dia memang punya keluarga, kak! Matanya masih memiliki cinta untukmu......" Aileen menatapku penuh arti.
Ada secuil harapan lagi untukku, tapi aku harus bagaimana??? Dengan cara apa aku bisa mendaptkan tempat dihatinya. Pria yang menjadi pendampingnya sangat baik dan menyayanginya, aku tidak mungkin merebut paksa Nia. ( sunnguh kejam). Tunggu dulu!!! bukankah dulu Nia menghalalkan segala cara merebut hatiku. Sekarang waktunya untukku merebut dia dengan segala cara apapun, walau harus menjadi orang ketika dalam rumah tangganya.
" maafkan aku, Andrew!!!" sahutku mantap salam hati dengan senyuman khas ku...
*****