Aileen POV
Kerjaku hampir berakhir saat jam makan siang. Aku ingin menemui kak Raka di tempatnya. Kami maksudku, Kak Olive, Kak Raka memiliki profesi yang sama seorang dokter. Impian mama dan papa untuk kami. Sekarang, kami telah menjadi seperti yang mereka inginkan. Baik papa dan mama bangga akan prestasi dan kerja kami, namun ada sedikit kesedihan yang terlihat di raut wajah mereka berdua. Baik kak olive, kak Raka dan aku sama-sama belum memiliki pasangan.
Entah mengapa pula nasib kami sama dalam mencari pasangan terlebih lagi kisah cinta rumit kak Olive dan Kak Raka. Melihat kedua kakakku gagal dalam percintaan mereka, membuatku takut menjalin hubungan dengan lelaki manapun.Aku takut, cinta akan membuatku menderita seperti sahabatku Nia.
Nia,dia sudah kembali ke hidup kami dengan bermacam kejutan yang dibawanya. Awalnya aku mengira Adri adalah anak Nia dengan lelaki yang kutemui dengannya. Mendengar ucapan kak Raka malam tadi ketika ia menelfon. Aku tak menyangka Adri anak Kak Olive, bagaimana bisa kak Olive bisa begitu pandainya menyimpan hal ini. Aku tahu kakak sulungku itu adalah wanita yang tertutup semenjak dia depresi. Yang menjadi beban pikiranku, apa tega kak Olive membohongi mama dan papa menikah tanpa izin mereka. Jika mereka belum menikah, apakah mungkin Adri anak Kak Olive sebelum ada ikatan. Kak Olive memang banyak menghabiskan waktunya di luar negeri, aku merasa dengan didikan papa dan mama kak Olive tidak akan berani melakukan hal terlarang itu.
Biarlah nanti ketika suasana sedikit tenang aku akan menanyakan hal penting ini kepada kak Olive.
" Hei kak, sibuk?" Kulihat kak Raka sibuk dengan dokumen yang ada di atas mejanya.
Semenjak Nia tidak disini, hubungan aku dengan kak Raka sedikit membaik.
'"Duduklah, kamu sudah makan?" Tanya kak Raka.
Kakakku ini emang dikenal sangat dingin, namun satu-satunya wanita yang bisa membuat panik kak Raka adalah Nia.
" Katanya kakak mau menceritakan sesuatu." Sahutku mengingatkan.
Mulailah kak Raka menceritakan semua yang terjadi di apartemen kak Olive serta pertemuannya dengan Nia kembali. Serta kepastian siapa Adri. Kak Raka sedikit tertarik dengan kehadiran Adri dia selalu merasa tenang jika menyentuh Adri, rupanya ini ikatan paman dan keponakan.
Tok...tok..tok.. kudengar pintu diketuk.
" Masuk" Sahut kak Raka.
Kulihat dia sahabatku hanya Nia teman terbaikku. Sebenarnya aku ingin memeluknya tapi di lain sisi aku masih marah padanya. 6 tahun dia menghilang tidak sekalipun menghubungiku, diakan tahu aku orang yang bisa dia andalkan jika ia ingin bersembunyi dari Kak Raka, Aku selalu berada di pihaknya.
" Duduklah" Tawar kak Raka tenang, kuperhatikan raut wajah kakakku dulu mungkin dia akan dingin kepada Nia. Sekarang, aku bisa melihat ada cinta di dalam mata kakakku.
Kutatap mereka berdua, mereka saling mencintai namun sama sama membohongi perasaan mereka. Sudah dewasa masih kekanak- kanakan. Kak Raka sempat pesimis melihat Nia tidak sendiri lagi, disamping Nia sudah ada pria yang selalu ada untuknya.
Mungkin beribu pria yang ada di samping Nia sekarang, aku menjamin mata cintanya kepada kakakku tidak akan berkurang, walaupun 2 tahun kami berteman aku sangat tahu setiap gerak-gerik Nia.
" Tidak perlu, aku hanya sebentar" Balas nya dingin.
Sahabatku selangkah lebih berani. aku mengulum senyum geli.
Kak Raka masih tidak menjawab.
" Kakak bisa nggak sekali saja tidak menyakiti orang. Kalau kami ingin melaporkan,kakak pasti masuk penjara."
Bukan berani melawan saja, dia sudah berani mengancam kak Raka.
" Dia pantas mendapatkan nya." Jawab kak Raka akhirnya " Orang b******k seperti Keinan pantas untuk dipukul, supaya dia sadar."
" Jeh" Dengusnya " Berarti aku bisa juga seenaknya pukul kakak, agar kakak sadar." Sindir Nia.
"Kenapa nggak dari dulu kamu seperti ini." Batinku.
Kulirik jam di tanganku, jam istirahaku telah berakhir, lagipula kak Raka banyak pasien. Aku ingin keluar sebentar menghirup udara segar. Lelah melihat dua insan yang saling mencintai sibuk beradu argumen seolah dunia ini milik mereka.
" Kak aku pergi dulu." Sahutku berdiri, mengambil tas dan barangku lainnya.
Kulirik Nia, ingin rasanya mengukir senyuman untuknya. Tapi sebelum dia menjelaskan perihal kepergiannya aku akan marah seperti ini.
Nia menahanku " Bisakah kita berbicara?" Bisiknya.
Sedikit kasar kutepis pegangan Nia " Telat, aku sibuk aku harus kembali kerja."
" Aileen, please. Tidak sekarang juga tidak apa-apa,lain waktu." mohonnya
" Liat dulu." Sahutku dingin meninggalkan ruangan Raka.
Sebenarnya aku juga ingin mengajaknya berbicara, akan kuberi dia waktu menyelesaikan permasalahannya dengan kak Raka.
Ku buka pintu ruangan Kakak, di luar aku melihat dari jauh kak Olive spertinya menuju kesini. Seberapa rumit masalah ini, tadi kakak belum sempat bercerita karena keburu datang Nia.
Ku percepat langkahku, bersembunyi untuk sementara aku ingin mendengar permasalahannya.
Mencari posisi yang tak jauh dari ruangan kak Raka. Setelah itu yang kudengar teriakan Nia dan Raka lalu kak Olive. Entah apa yang mereka bicarakan. Tak berapa lama datang seseorang pria ku tebak itu lah Kak Keinan.
Kak Keinan masih berdiri di depan pintu, tak berapa lama pintu terbuka Nia berhamburan kepelukan kakaknya. Apalagi yang dilakukan kak Raka membuat Nia seperti itu. Padahal kakak sudah berjanji akan berusaha memperbaiki hubungannya dengan Nia. Dia juga akan merebut kembali cinta Nia untuknya.
Nia berlari menjauh dari sana kuikuti kemana dia pergi, sepertinya dia menuju rooftop rumah sakit. Kuikuti sampai keatas. Kulihat dia dari kejauhan, Nia menumpahkan air matanya.
Ku dekati dia ke tempatnya. Memeluknya, bukan saatnya aku membalas perbuatannya dengan cara mendiamkannya,Nia butuh sandaran sekarang.
Nia menatapku.
" Aileen..hiks,..hiks.." Getaran suaranya benar membuat pilu.
Ku tenangkan gocangan tubuhnya " Sampai kapan akan selalu berakhir seperti ini, hm" Bisik ku.
" 6 tahun kamu meninggalkannya, 6 tahun juga kamu mampu berdiri sendiri kamu bisa membuktikan kamu masih bisa bertahan walau tanpa dia. Jangan biarkan rasa cintamu menjadikanmu lemah di hadapan Kakak Raka lagi Nia."
Dia masih belum menjawab tangisannya semakin keras. Haruskah cinta sesakit ini.
"Dari dulu sudah kuingatkan, kalau tidak sanggup jangan bertahan. Berarti dia bukan yang terbaik untukmu."
Nia mendongakkan kepalanya menatapku.
" aku tahu, aku tidak mengharapkannya lagi, Leen. Kamu kan tahu aku sudah memiliki seorang suami."
Aku hanya tersenyum dan memeluknya serta membiarkan dia melepaskan semua bebannya.
**************
Raka Pov
Mendengar pengakuan dari mulutnya Nia. Hal baru yang ku ketahui tentang status Keinan yang bukan kakak kandung Nia.
" Apakah kak Olive tahu hal ini?"
Aku butuh penjelasan dari kedua orang yang telah berdiri menatapku. Jika Keinan bukan kakak kandung Nia berarti Keinan benar mengkhianati kak Olive, yang menjadi permasalahannya sekarang Kak Olive dengan nyamannya berdiri di samping Keinan bahkan membelanya.
Kepala ku sakit memikirkan kemungkinan kemungkinan yang ada.
" Aku butuh penjelasan, sekarang!!!!" Kataku mantap
" Oke, aku akan menjelaskannya.Tapi kumohon tenanglah." Keinan menjawab.
Kupersilahkan mereka duduk di depanku. Kak Olive masih membisu, aku benar tidak mengerti jalan pikirannya.
" Aku minta maaf selama ini, Ka!! Nia tidak bersalah, dia tidak pernah tahu cerita sebenarnya" Keinan mulai menjelaskan.
" Intinya saja, jangan berbelit."
Keinan menhembuskan nafas menenangkan diri.
" Selama ini Nia adalah prioritas utamaku setelah mama dan papa kami meninggal. Aku yang harus menjaganya ketika saat itu dia masih kecil dan belum bisa mandiri. Aku mencintainya tentu saja, namun rasa cintaku ini disalah artikan oleh Olive, Olive merasa aku mencintai Nia murni cinta lelaki terhadap wanita."
Kak Olive mengangguk.
" Disaat perhatianku terfokus hanya untuk Nia, Olive merasa terabaikan. Aku salah aku tak memilih Olive ketika itu. Sungguh aku sangat mencintai olive, namun aku harus merawat adikku yang masih belum bisa menerima kematian orang tuanya. Setelah lama berpikir aku putuskan hubunganku dengan Olive hanya untuk merawat adikku. Olive tidak tahu kalau Nia dan aku bukan saudara kandung saat itu. Ketika Olive bertanya aku mengidap sister complex aku mengiyakan hanya bermaksud Olive bisa membenciku dan dapat mencari penggantiku. Melihat dia menangis dan memohon cintaku aku tahu aku salah telah menyakiti hatinya. Aku juga berpikir adikku Nia membutuhkanku."
Kutatap dia mencari kebenaran.
" Ka, Apa yang akan kamu lakukan ketika orang lain merawatmu dengan kasih sayang tanpa membeda-bedakan perhatian mereka walau mereka tahu anak yang mereka rawat itu bukan anak kandungnya?" Aku mendengar Keinan menangis.
" Aku tidak bisa membalas jasa papa dan mama dengan harta yang kini kumiliki. Aku hanya ingin menjadi anak pungut yang berarti untuk keduanya. Mereka mengambilku di jalanan, mereka merawatku dengan kasih sayang. Bukan papa dan mama saja yang mencintaiku, adiku Nia juga sayang kepadaku. Sungguh walau kami tahu kami bukan saudara kandung cinta kami murni kakak dan adik. Maafkan kesalahanku. Hanya dengan ini aku bisa membahagiakan mama dan papa dengan cara melihat adikku bahagia."
" Namun seiring berjalannya waktu, Nia menyadari ada yang aneh denganku. Ya, aku tahu dia masih kelas 3 SMP. Dia selalu menyakan ada apa denganku aku hanya membalas dengan senyuman.
" Suatu hari Nia menemukan foto keluargamu yang diberikan Olive untukku."
Ada senyuman di bibir keinan " Tahukah kamu, Ka! Dia menyukaimu pada pandangan pertama ketika melihat fotomu."
Aku merasa ada kehangatan di hati ini. Nia tulus mencintaiku.
" Dia terus menayakan kalian siapa? Maka ku jawab Olive sahabat baikku.
Aku juga melihat kesedihan dimatanya karena dia merindukan papa dan mama. Dia mengatakan ingin mempunyai keluarga utuh seperti keluargamu. Entah karena obsesi ingin mempunyai keluarga utuh atau ingin mendekatimu, dia minta sekolah di Jakarta. Awalnya sungguh berat karena aku harus bertemu Olive setelah beberapa bulan tidak bertemu. Tapi apa boleh buat bagiku kebahagiannya hal utama. Ku beri dia izin dan kucarikan kontrakan di dekat rumah Olive, berharap dia dekat denganmu dan juga agar Olive bisa menjaganya.
" Tahukah kamu, Ka! " kak Olive menyela " awalnya kakak membenci Nia, kakak merasa dia biang permasalahan kakak dan Keinan. Melihat kebaikannya, kepolosannya serta keinginannya memilikimu..kakak berpikir dia tidak pantas di salahkan. Kakak tidak ingin hanya karena Keinan kakak membenci yang tidak bersalah. Cukup lama kami berteman dan dia juga akrab dengan Aileen entah karena apa Nia ingin menjodohkan kakak dengan Keinan." kak Olive tertawa mengingat kenangan dengan Nia
" Dengan polos dan lugunya dia mengatakan menjodohkan Kakak dengan Keinan. Nia juga mengatakan kalau Keinan bukan kakak kandungnya jadi dia bisa mengejarmu dan kakak bisa dengan keinan. Barulah kakak tahu kenyataan sebenarnya." kak Olive mengakhiri.
Aku menghembuskan nafas antara menyesal dan marah kepadaku serta dengan kedua orang ini.
" Tahu kah kakak?" lirihku " Aku telah melukai perasaannya dengan sengaja karena ingin membalaskan sakit hati kakak."
" Kakak minta maaf tidak menceritakannya padamu. Kakak juga tidak tahu kamu sengaja melakukan hal itu."
" Aku pura pura buta dengan perasaanku kak. Aku mencintainya tapi berusaha menyakitinya. Aku selalu menjadi alasan pertama yang membuatnya mengeluarkan air mata. Sekarang, kakak bisa berdua dengan orang yang kakak cintai, sedangkan aku tidak bisa lagi mendapatkan tempat di hatinya" kutundukan kepala keatas meja menyesali semua yang telah dilakukan.
Memutar memori otak atas kekejaman sifatku serta ucapanku yang membuatnya menangis, namun bisa dengan mudahnya dia bertahan. Kini, hilang sudah harapanku memilikinya. Aku tak pantas untuk dimaafkan semuanya tidak berguna lagi.
" Tinggalkan aku sendiri." sahutku lemah.
Aku yang kalah disini sampai kapanpun aku tidak akan mendapatkan kebahagian. Dia yang kucintai telah menemukan penggantiku. Pantaskah aku merebutnya lagi. Aku takut dia akan tersakiti untuk sekian kalinya. Haruskah aku menyerah dan hanya bisa melihat dari kejauhan wanita yang kucintai dengan pria lain.
*****