Spekulasi

1014 Words
Cekrek. Suara pintu dibuka dan Elaina nyelonong memasuki kamar putranya yang sedang melakukan panggilan video dengan Tiara. Attaya terkejut dan serta merta menegur Elaina. "Mama! Ketuk dulu dong." "Atta, tutup dulu teleponnya, mama mau bicara, penting!" Elaina tidak menghentikan langkahnya setelah menutup pintu kamar Attaya, ia terus berjalan menuju balkon kamar itu. Attaya menatap layar ponselnya sambil mengedipkan mata. "Nanti lanjut lagi ya, Sayang, see you," ucapnya kepada Tiara yang mengangguk sambil tersenyum. "See you," jawab Tiara sesaat sebelum memutuskan panggilan. Pemuda itu bergegas turun dari atas ranjang, hari masih sore, udara di luar terasa lembab dan tidak mengenakkan. "Kenapa gak di dalam aja sih, Ma. Adem, enak," ujar Attaya kepada ibunya. "Tutup pintu, di sini lebih aman dari cecak-cecak tukang nguping," sahut Elaina ketus. Attaya mengangkat bahunya tanda pasrah seolah mengatakan 'terserah deh' sambil menutup pintu kaca yang lebar. "Ma, dari mana sih?" tanya Attaya seraya menarik kursi yang terbuat dari besi tempa dan mendudukinya. Elaina menoleh kepada putranya, tampak sorot matanya mengandung keraguan. Ia ingin bicara panjang kebar menjelaskan segala sesuatu mengenai rencana Mahendra dengan Brata atas diri putranya, tapi, saat melihat Attaya secara langsung, ia mengurungkan niatnya. Wanita itu menghampiri Attaya dan ikut duduk di sebelahnya. "Mama stress akhir-akhir ini, Atta. Mengenai ulah Denada yang mengungkapkan ancaman secara tidak langsung di media. Kamu tengok deh beritanya," ucap Elaina kepada Attaya. "Maksud Mama ancaman apa sih? Kenapa juga bisa bikin Mama stress?" Attaya masih belum mengerti. "Ini ...." Elaina menyodorkan tablet yang diambilnya dari dalam tas. "Baca itu," lanjutnya sambil menghela napas dengan kasar. Meraih tablet yang disodorkan oleh ibunya, Attaya langsung membaca apa yang tertera pada layar tablet tersebut. Tidak lama mimik wajahnya berubah dan berakhir dengan mengernyitkan dahi serta mengatupkan rahangnya erat-erat. "Kamu mengerti?" tanya Elaina penasaran. "Secara tidak langsung, dia mengatakan kalau tidak jadi bertunangan denganku, seluruh proyek akan diambil alih dan kita akan kena denda pekerjaan yang sangat besar. Bukan begitu? Sebesar apa, Ma?" Attaya tidak bisa mengkalkulasi kerugian karena memang dirinya tidak melibatkan diri dalam proyek-proyek tersebut. Sebelum menjawab, Elaina menghela napas. "Kata papamu, kita akan benar-benar jatuh miskin sekaligus masih menanggung utang yang sangat banyak. Mama tidak mungkin berada dalam kehidupan seperti itu." Suara Elaina bergetar. "Mana bisa kita jatuh miskin, Ma. Perusahaanku masih berjalan sehat dan tidak tersentuh sama sekali oleh Pak Brata. Pendanaan kami juga bukan dari perusahaan papa, tapi dari Bank atas namaku," sergah Attaya dengan sangat yakin. "Tidak, Atta. Perusahaan kamu akan digoyang dengan segala cara, kecuali, mereka tidak tahu tentang itu. Tapi, mama yakin mereka tahu semuanya," tutur Elaina putus asa. "Maksud Mama, aku harus bertunangan sama dia? Aku tidak bisa, Ma. Membayangkan saja tidak berani, apalagi ngalamin? Hii ...." Attaya bergidik, ia merasa ngeri jika sampai tunangan itu terjadi. "Ya, mama tahu, lagipula, siapa juga yang ingin punya mantu dia? Jujur, mama ngeri. Coba kamu cari tahu data-data di perusahaan, Atta, seberapa besar mereka terlibat dalam proyek-proyek itu?" "Seribu persen. Mereka yang memegang otoritasnya. Hanya saja, mereka butuh perusahaan lain untuk menjalankan proyek-proyek itu. Pertanyaannya, jika bukan perusahaan papa, mereka mau lempar ke mana? Ada perusahaan lain yang memiliki ijin khusus lagi selain punya kita, Ma?" Attaya menerawang dengan balutan kekecewaan di hatinya. "Menurutmu mereka cuma gertak doang?" selidik Elaina sambil menatap tajam putranya. Attaya menggelengkan kepalanya perlahan. "Yang tahu persis cuma papa. Aku gak tahu kenapa papa bisa bilang kita akan jatuh miskin? Ada apa dibalik logika papa? Papa ada main dengan uang-uang itu, tapi ... untuk apa?" Seketika, Attaya paham bahwa telah teejadi sesuatu hingga perusahaan ayahnya berada di bawah kestabilan. "Jujur, mama gak paham apa yang kamu bilang, Atta. Tapi, sepertinya memang ada yang aneh deh dengan ayahmu," lirih suara Elaina saat itu. "Adakah cara lain untuk menyelamatkan kita?" tanya Elaina bergumam. "Mama harus siap jika memang papa kesulitan. Aku tidak bisa menjamin Mama bersamaku bisa hidup seperti saat ini, tapi setidaknya, aku punya tempat untuk bernaung dan ada beberapa perusahaan yang sedang dirintis. Papa belum tahu tentang hal ini, hanya saja ... aku optimis, Ma," tutur Attaya sekaligus mencoba menghibur ibunya. "Kamu punya rumah? Di mana? Kok mama gak tahu?" Elaina terkejut akan hal itu. "Ya, semacam villa Ma. Kapan-kapan aku ajak Mama ke sana, tapi ... jangan bilang papa dulu ya," sahut Attaya. Elaina terdiam, ada sedikit rasa kecewa karena Attaya menyimpan banyak hal yang tidak diketahuinya. Putra yang masih dianggapnya anak kecil itu diam-diam memiliki properti dan mengembangkan usahanya. Wanita itu menghela napas. Satu sisi ia merasa tenang karena anaknya bisa menjadi sandaran, sisi lain, ia masih belum bisa terima ketika sang putra melakukan sesuatu tanpa memberitahu dirinya. "Atta, pikirkan baik-baik. Mama tidak ingin kehilangan kehidupan mama yang sekarang," ucap Elaina sambil bangkit dan berbalik masuk ke ruangan meninggalkan Attaya termangu di balkon kamarnya. Wajah Attaya tampak resah. Ia benar-benar curiga kalau perusahaan raksasa milik ayahnya memendam masalah besar. Ia harus mencari tahu. Sebab, tidak biasanya Mahendra menunjukkan sikap tidak percaya diri seperti belakangan ini, bahkan, lelaki itu cenderung manut pada kehendak Brata yang disetir oleh putrinya, Denada. Perlahan Attaya bangkit dari duduknya memasuki kamar dan segera merebahkan diri. Kedua tangannya diselipkan pada belakang kepalanya samhil menatap langit-langit kamar. Kegelisahannya semakin menjadi saat memikirkan kemungkinan terburuk yaitu terpaksa bertunangan dengan Denada, bagaimana nasib percintaannya dengan Tiara? Attaya turun dari kasur, meraih telepon genggam dan menjinjing tas travel kemudian segera pergi meninggalkan kediaman Mahendra. Mengendarai mobilnya menuju pusat kota, ia hendak menemui pemilik saham minoritas di perusahaan Mahendra, yaitu pamannya sendiri. Memasuki kawasan kuningan ia berbelok menuju rumah megah disudut jalan dan segera turun dari mobil setelah memarkirkannya di jalan depan rumah tersebut. "Atta? Eh, apa kabar? Kemana saja baru nongol?" Seorang wanita yaitu istri dari Mahendri, menyambutnya di pintu samping yang merupakan garasi luas dengan mobil mewah yang berjejer. "Sore, Tante. Kabar baik. Om ada?" tanya Attaya sambil berharap pamannya ada di rumah. "Om kamu baru aja datang. Sana, langsung ke ruang kantornya aja," sahut Tina sambil tersenyum. Tidak membuang waktu, Attaya segera masuk ke dalam rumag dan berbelok pada sayap kiri menuju ruang kantor pribadi pamannya. Namun, betapa terkejutnya dia saat mendapati ayahnya pun sedang berada di sana. "Papa?!" ◇◇◇◇
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD