Hari pertama Attaya memasuki kantor setelah hampir empat minggu absen dari segala kegiatan karena terfokus mengejar belahan hatinya, seluruh karyawan merasa senang.
Attaya memang terkenal lebih baik dan jarang marah kepada karyawan jika dibandingkan dengan Mahendra. Hanya saja, memgenai laporan dari pimpinan proyek pagi itu yang menyatakan bahwa perusahaan mendapat dukungan penuh dan tambahan beberpa proyek sebagai pemenang tender, membuat Attaya sedikit heran.
Tapi, ia tidak ingin memikirkannya. Proyek-proyek yang berkaitan dengan perusahaan Brata berada di bawah tanggung jawab ayahnya. Ia sudah sejak awal tidak ingin berkecimpung di sana, bahkan segala hal yang berbau keluarga Denada, sebisa mungkin dihindari.
Duduk di meja kebesarannya, Attaya tergoda untuk menelepon Tiara. Tapi diurungkannya niatnya karena pagi-pagi, Tiara pasti sibuk melayani klien di kantornya. Akhirnya, ia hanya bisa mengirimkan pesan, "Hai, Cantik. Aku selalu penasaran kamu lagi ngapain sih? Apa saja yang kamu lihat? Adakah seseorang mendekatimu? Hati-hati ya, jaga mata dan hati. Ingat, aku adalah calon suamimu di masa depan. Kamu milikku."
Senyumnya mengembang saat mengetikkan pesan pada key pad telepon genggamnya. Menunggu balasan beberapa saat dan tampak kecewa karena tidak ada notifikasi masuk. Tiara, belum juga membalas pesannya dan itu membuatnya gelisah.
Baru pukul dua belas siang, Tiara membalas pesan, meminta untuk di telepon. Tanpa membuang waktu, Attaya segera menelepon gadis itu.
"Hai, Sayang, baik-baikkah kamu? I miss you already," sapa Attaya.
"Hm .... Atta? Kamu transfer uang banyak sekali? Untuk apa?" tanya Tiara, dalam nada suaranya mengandung ketakutan.
"Kan aku sudah bilang, titip tabungan di kamu. Tujuh puluh persen ditabung untuk bekal kita menikah, sisanya buat kebutuhan kamu. Belanjalah ajak ibu," ujar Attaya terpaksa pura-pura.
"Tiga puluh juta buat belanja? Yang benar saja! Di sini ibu dan aku jungkir balik bekerja hanya cukup untuk makan sederhana, bagaimana bisa membelanjakan uang sebanyak itu? Atta, aku takut. Lebih baik, uangnya aku transferin kamu lagi. Kamu saja yang nabung " cicit Tiara dengan gusar.
"Kalau aku bisa nabung sih gak masalah. Tapi uang ditanganku selalu habis, Ara. Ada aja teman yang datang meminjam uang. Mending kalau dibalikin. Makanya aku serahin kamu biar gak hilang uangnya," jawab Attaya setengah berbohong.
Memang benar banyak orang yang mencarinya hanya untuk meminta bantuan, tapi, uangnya tidak pernah habis karena pemasukan jalan terus bahkan tiap hari.
Suasana hening di antara mereka, Tiara berpikir, jika banyak yang meminjam uang tapi tidak dikembalikan, lebih baik dia yang pegang uang itu.
"Baiklah, daripada hilang uangnya. Atta, kamu nanti malam pulang ke Bogor?" tanya Tiara yang sudah merasa tenang perkara uang itu.
"Malam ini gak bisa, Sayang ... aku sudah lama tidak pulang dan Mama pasti bingung mencari kesana sini. Besok ya, biar aku tenangin Mama dulu," sahut Attaya merasa berat hati memberikan jawaban menolak.
"Oh, ya oke deh, hak apa-apa." Attaya mendengar nada kecewa dalam suara Tiara. Seketika ia merasa resah.
"Maafkan aku, Sayang ... pengennya pulang ke kamu, tapi, seminggu lalu, waktu aku pergi itu, Mama masuk rumah sakit dan aku ingin melihatnya malam ini di rumah." Attaya merasa kebingungan.
"Oh, mamamu sakit? Ya Tuhan, baiknya kamu jagain mamamu dulu, Atta. Aku pasti baik-baik saja selain kangen. Semoga lekas sembuh ya. By the way, sakit apa sih?"
"Mugkin stress anaknya menghilang, he he ... sekarang sudah gak apa-apa sih, bahkan sudah bisa jalan-jalan kok," jawab Attaya terkekeh, ia tidak mau jika Tiara merasa khawatir.
"Ah, syukurlah. Ya udah, aku mau makan dulu ya, laper nih," ucap Tiara meminta menyudahi percakapan teleponnya.
"Ya, Sayang ... jaga hati ya, love you," sahut Attaya.
"Love you too, bye!"
Sambungan telepon terputus. Attaya tersenyum simpul sambil memandangi telepon genggamnya, sama sekali tidak menyadari kalau ayahnya telah berada di dalam kantornya sedang berdiri menatap ke arah Attaya.
"Eh, Papa! Sudah lama?" Attaya terkejut sekali.
"Siapa perempuan yang bikin kamu cengengesan kaya gitu? Dengar Atta! Papa minta kamu menjauh dari gadis manapun juga sementara ini. Kantor butuh fokus. Banyak hal yang belum diselesaikan dan banyak janji temu yang gagal." tegas Mahendra, menatap putranya dengan sorot mata tajam.
Attaya mengangguk. Ia tidak berminat membantah ayahnya dalam hal apapun kecuali yang berkaitan dengan Denada. "Iya, Pa."
"Bagus! Nanti sore kamu ke kantor kuningan, meeting direksi dimulai jam tiga," ujar Mahendra sambil berbalik meninggalkan ruang kantor Attaya.
Lelaki itu belum sempat menjawab, hanya bisa menatap punggung ayahnya yang berlalu. Ia sangat malas menghadiri meeting tersebut yang secara garis besar adalah membahas segala sesuatu yang berkaitan dengan internal perusahaan. Tangannya meraih gagang telepon di atas meja.
"Pak Anton, tolong wakili saya dakam meeting direksi nanti sore ya," ucap Attaya
kepada tangan kanannya di kantor tersebut.
"Baik Pak." sahutnya dari ujung telepon.
"Terima kasih." Attaya meletakkan kembali gagang telepon pada tempatnya.
Ia telah benar-benar kehilangan konsentrasi dan tidak fokus terhadap segala hal. Benaknya selalu dipenuhi oleh bayangan Tiara dan rasa rindunya sudah mulai terasa menyakitkan.
Pukul dua siang, Attaya memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya. Kehadiran dirinya di kantor tidak berguna sama sekali selain menerima laporan dan menandatangani berkas yang disodorkan sekretarisnya.
Dengan pulang ke rumah, ia bisa konsentrasi menjalin komunikasi dengan Tiara di kamarnya tanpa ada yang mengganggu.
Sesampainya di rumah, Attaya mencari Elaina tapi ia tidak menemukan ibunya di dalam kamar. Ia pun berbalik ke kamarnya sendiri, malas untuk bertanya kepada orang-orang di rumah. Attaya menekan tombol pintasan pada ponselnya, yang langsung tersambung kepada Elaina.
"Halo, Ma? Mama di mana?" tanya Attaya sesaat setelah mendengar panggilannya di angkat.
"Eh, kamu, Atta? Nomor siapa ini?" Elaina balik bertanya keheranan.
Attaya baru sadar kalau ia menelepon ibunya dari nomor lain yang baru dimilikinya satu bulan terakhir. "Oh, ini ... biasalah kartu sekali pakai, Ma. Mama di mana sih? Atta pulang mama gak ada," ujar Attaya.
Samar-samar dia mendengar suara dari jarak yang agak jauh, suara yang tidak asing di telinganya.
"Tante! Gimana kalau warnanya yang ini aja? Bagus loh, Tan!"
Seketika Attaya merasa kesal. "Halo, Ma? Mama ngapain sama orang itu? Di mana ini?" desak Attaya yang dari tadi pertanyaannya belum dijawab oleh Elaina.
"Eh ... mama lagi di Mal, kamu mau nitip sesuatu, Atta?" Elaina mencoba mengalihkan perhatian putranya.
"Mama ngapain sama dia? Sejak kapan mama jalan barenga sama dia?" tanya Attaya merasa heran.
"Ah, enggak. Mama cuma dijemput aja tadi, dia minta tolong dianter ke butik langganan^ mama," sahut Elaina sekenanya.
"Mama pulang sekarang, Atta suruh supir jemput. Sendirian. Mal mana?" Attaya terus mendesak ibunya.
"Ya, mama pulang ya--," ucapannya terpotong oleh suara Denada yang sudah berada di sampingnya.
"Tante? Itu Atta?!" serunya dengan nada riang sambil merebut telepon genggam yang sedang dipegang oleh Elaina.
Merasa tidak terima dengan sikap kurang ajar Denada, Elaina tidak melepaskan ponselnya sambil melotot marah pada gadis itu. "Apa-apaan sih kamu? Diajarin sopan santun gak?" hardik Elaina kepada Denada yang terkesiap oleh kemarahan Elaina.
"Maaf, Tante ... tapi kan aku ingin bicara dengan Atta," rengek Denada yang di mata Elaina sangat menyebalkan.
"Yang telepon bukan Atta! Tante tidak akan lupa kekurang ajaran kamu tadi!" Elaina mengambil langkah meninggalkan Denada yang berdiri terpaku di tempat. Sejurus kemudian, ia berteriak, "Tante! Maafin Dena ...."
Namun, Elaina tidak ingin mendengarnya. Ia kembali pada panggilan teleponnya. "Gak usah suruh supir. Mama bawa supir kok." Elaina memutuskan sambungan telepon.
◇◇◇◇