[Menemukannya]

2225 Words
Nevan's POV Setelah hentakan keras itu, gue sampai di suatu tempat yang gak gue kenal. Sekeliling gue berkabut. Sama sekali gak dingin, dan gue juga gak ngeliat ada gumpalan-gumpalan uap yang keluar saat sengaja mengeluarkan napas dengan agak keras. Ini aneh. Meski gue seperti berada di daerah pegunungan, tubuh gue gak kerasa dingin sedikitpun. Ketika menunduk, kaki gue gak napak. Tubuh gue ringan. Seperti gue bisa ngikutin arah angin. Jadi, inilah yang dirasakan Rena dan Papa saat roh mereka keluar dari tubuh? Asiknya ... "Halo Kak Nevan!" Gue tersentak. Baru aja mau terbang, suara anak kecil terdengar. Setan?! Mati gue. "Kak," gadis itu memamggil gue lagi, namun sialnya penampakannya belum muncul. "Ini aku, Rossie," kepala gue segera berputar, mencari asal suara. Dan ketika melihat seorang anak kecil dengan dress cantik, gue baru sadar kalau dia tersenyum memandang gue. "Rossie?" tanya gue canggung, yang dihadiahi anggukan kepala. "HALOO KAK NEVAN! " Suara lainnya, namun lebih berenergik. Siapakah? Andy? Tapi bukannya melihat sesosok anak kecil laki-laki, gue malahan liat kepala berputar di sekitar gue. Astaga. Mukanya imut sih. Nyengir. Lucu. Tapi dia setan. Selamanya, setan! "Kakak kenapa bengong?" Rossie tiba-tibe melayang dan berhenti tepat di depan gue. Oke Nevan, tenang, tenang. Masa sama mereka aja takut. Mereka anak kecil, anak kecil! Tapi... Tetep aja, mereka setan! Gue berdehem. Arah pandang gue mengukuti kepala Andy yang masih saja berputar gak jelas. "Kepalanya bisa ditaro di tempat yang semestinya gak?" pinta gue. Andy terkikik geli. Eh. "Aku tau Kak Nevan takut sama kita," celetukan Andy membuat mata gue melebar. "Tapi Kak, kita gak akan nyakitin Kakak, kok." Rossie mengangguk, dia menarik tangan Andy sampai mereka berdiri berdampingan di hadapan gue. Kedua mata mereka saling bersitatap selama beberapa detik, seperti berkomunikasi. Dan untuk detik selanjutnya, tubuh mereka membungkuk. "Tolong selametin Kak Rena, Kak!" sahut mereka berbarengan. Oke, tanpa dibilang gue juga bakalan nyelametin Rena. Mereka mana ngerti juga ya kan, perasaan khawatir gue yang berlebih. "Jadi, kita harus nemuin Rena, kan?" Mataku menyisir sekitar, mencari sesuatu yang kira-kira saja bisa dijadikan telunjuk. Tangan kecil Andy tiba-tiba menggapai jari kelingking gue. Saat menunduk, gue bisa liat dia menunjuk satu arah. "Ke mana?" tanya gue linglung. "Sana Kak, ayo," bisik Andy seraya menarikku untuk mengikutinya. Mengikuti Rossie, sebenarnya. "Kakak tau gak kota ada di mana?" tanya Andy tiba-tiba. "Tempat antah-berantah," jawab gue ngasal. Ya gue gak tau, Andy yang kepalanya bisa lepas. Ni setan kadang nyebelin juga, ya. Eh. Dia udah bantuin gue. Gak boleh bersikap gak sopan. Maafkan hati Kak Nevan, Andy. "Kita di kampus Kakak, lho," celetuk Rossie. What? Kampus? "Dulunya, kampus Kakak ini tempat pembantaian," gue menelan ludah, tiba-tiba gugup sama penjelasan Rossie. "Jadi di deket sini, ada rumah orang kayaaa banget. Tapi sayangnya, dia jahat. Suka nindas orang gitu, Kak. Terus, akhirnya penduduk sekitarnya yang suka kena tindas itu marah. Mereka mau nyerang keluarga itu. Tapi sayangnya, keluarga itu udah duluan nyerang penduduk desa." "Mereka kasian lho, Kak," Andy tiba-tiba nyeletuk. "Tubuh mereka dibakar, ada yang dicincang-cincang kayak daging, ada yang ditusuk kayak sate, terus ada juga yang dikulitin kayak mbek." "Kambing, Andy, bukannya mbek," sahut Rossie. "Sama aja!" Andy keliatan bete. Emak. Tolong. Nevan gak kuat denger cerita mereka. Ngebayanginnya berasa pengen muntah. Dan gue harus membelokkan pembicaraan ini. "Kalian tau dari mana?" aneh gak sih, anak kecil tau masalah begituan. "Dari Kakek yang sering nongol di kelasnya Kak Nevan dan Kak Rena!" sahut Rossie semangat. Rossie, gak usah ngasihtau hal kayak begitu deh. Jadi bener, di kelas tuh banyak penghuninya? Ah, enggak. Gue rasa, di sekeliling kampus itu banyak setannya. Argh! Apa gue harus pindah kampus?! Lagian, gue salah kasih pertanyaan sih. Mereka tau dari mana? Jelas-jelas mereka setan. Pastinya tau dari setan juga dong. "Dan beberapa diantara setan itu bisa nyamar jadi manusia." Mata gue melotot. "Boong kan lo?!" "Mereka ngambil tubuh manusia gitu, Kak. Kayak Kak Rena, sekarang jadi target dia." Wajah Andy serius. "Kenapa Rena?" "Karena dia suka sama Kakak. Dan kalo dia bisa gantiin Kak Rena, dia bakalan seneng karena bisa deket-deket sama Kakak tanpa harus susah payah deketin dengan tubuh yang dia pake sekarang," jelas Rossie. Ada gitu, setan yang kayak dia? "Kalian tau siapa orangnya?" Mereka terdiam. "Perasaan Papa bilang kembar deh." Kepala mereka mengangguk bersamaan. Mereka saling pandang beberapa detik, lalu menatap gue dengan ragu. "Kalo di dunia manusia, nama mereka Kak Yasmin dan Kak Carlos." HA. Mereka pasti bohong. ❤❤❤ Gokil. Ini beneran kampus. Gedung tinggi bertingkat empat itu menjulang di hadapan kita bertiga. Tadi gue gak nyadar sama sekali kalo berada di halaman kampus. Rossie sama Andy nasih melayang di depan gue. Mereka bercanda, ngobrol, sekali-kali cekikikan. Tubuh mereka melayang ke arah bagian belakang kampus. Setau gue, di belakang itu hutan. Dan beberapa saat kita melayang, kita sampai di sungai. "Rena ada di dalam rumah di seberang sungai. Kamu harus nemuin dia sebelum dia kembali." Gue mengerjap sekali. Papa? Itu suara Papa, kan? "Pa? Di mana?" gue berjeda sambil liat kanan kiri. Sepi. Cuma ada Andy dan Rossie yang menatap gue dengan kernyitan samar. "Tadi ada suara Papa gue. Kalian denger, kan?" Pertanyaan gue dihadiahi gelengan kepala. Sial. Kenapa jadi serem gini? Ah, dari awal emang udah serem kali, Nev. Terus mana? Suaranya gak kedengeran lagi. Pemberi Harapan Palsu nih. Dikirain bakalan bisa ngobrol. "Kak Nev, Kak Rena ada di rumah itu," Andy menunjuk suatu arah di dekat sungai. Tapi, gue gak liat apa-apa. "Mana?" "Di situuu!" Andy memekik heboh, tangannya menunjuk satu arah sambil menggerakkannya ke atas dan ke bawah. Mata gue menyipit. Berkabut banget, gak keliatan jelas. Gue mendekat dan bener, ada rumah gede gitu. Keren. Tapi suasananya sepi banget, bikin hari ini semakin horor. "Kalian tau dari mana kalo Kak Rena ada di sana?" tanyaku memastikan. "Kita kan ngikutin dia pas Kak Rena dibawa," Rossie menarik tangan gue agar melayang mendekati rumah itu. "Tapi kita takut kalo masuk ke sana cuma berdua, hehe." Lo pikir gue gak takut sekarang?! "Karena kalian takut, jadi ngajak gue?" Setan kok takut sama setan. Sama aja sih, banyak manusia yang takut sama manusia. "Kita gak pernah ngajak Kakak," jeda Rossie, menatap Andy yang sudah manggut-manggut. "Kita pengennya sama Papa Kakak aja biar lebih cepet selesai. Tapi Papa Kakak pengennya Kak Nevan yang ikut." Ah... Gue merasa gak dibutuhin di sini. "Soalnya, orang terdekat Kak Rena itu Kakak. Jadi, Papa Kakak bilang bawa Kakak lebih nguntungin." Nguntungin apaan elah, gue gak punya kemampuan apa-apa. Daritadi juga Rossie sama Andy yang ngasihtau segala hal. Gue diem aja. Gak tau apa-apa. Dan... Kita sampai di depan gerbang rumah yang katanya terdapat Rena di dalamnya. Beneran nih, ada dia? Kalo salah, gimana? Ah, harus dicoba dulu. Tapi, kenapa dua bocah ini malah diem sambil liatin gue penuh harap? "Kakak duluan yang masuk." Rossie dan Andy yang sebelumnya ada di depan gue sekarang meringkuk di balik punggung gue. Apa-apaan nih?! "Lah. Bukannya kalian mau nuntun gue sampe ketemu Rena?" Mereka nyengir lebar. "Kita gak bilang gitu kok," what the... "Kita cuma mau nganterin sampe depan rumahnya, abis itu Kakak yang masuk." Jadi maksudnya, gue dijadiin tumbal gitu? Sungguh terlalu. "Kalian ikut masuk, kan?" Mereka menggeleng. "Ikut, harus," ujar gue penuh penekanan. Tatapan gue menajam, mengawasi mereka yang tampaknya takut-takut. Heh. Sebenernya yang harusnya takut itu gue, kan? Secara, ini bukan dunia yang gue kenali. Kenapa malahan mereka yang takut gitu? Menyebalkan. Akhirnya, setelah saling pandang selama beberapa detik, Rossie dan Andy mengangguk ragu. "Iya deh Kak, kita ikut," sahut Rossie akhirnya. Bagus. Jadi, sekarang kita harus masuk ke dalam rumah ini? Kita memang udah sampe di halamannya sih, dan sepi. Bener-bener gak ada siapa-siapa di sini. Cuman ada gue, Rossie dan Andy. Suasana mencekam memang kerasa. Bulu kuduk gue bahkan udah meremang. "Kak," Rossie tiba-tiba merapat ke gue, "itu siapa?" Gue meneguk ludah. Tepat di pintu masuh, ada sepasang hantu yang lagi berdiri dengan wajah menunduk. Bajunya sih, kayak orang jaman dulu. Kain batik sebagai bawahan, ranbut dicepol, dan bajunya... aduh, apaan itu namanya, sih? Gue gak tau. Intinya, hal yang menyeramkan adalah salah satu diantara mereka udah gak berkulit. Satunya lagi,  mukanya udah ancur setengah. Darah netes-netes dari sana. "Setan," jawabku singkat. Rossie menggembungkan pipinya dengan kesal. Gue hanya terkekeh sejenak lalu membisikkan pada dua bocah ini biar tetap berada di jarak pandang gue. Setelah mengangguk, kami siap masuk ke dalam. Ketika kami berada di dekat dua penjaga itu, mereka menunduk. Seperti tidak sadar kehadiran kami. Bagus. Kami tetap melayang rendah dan bersikap senormal mungkin. Mencoba untuk masuk tanpa disadari oleh penjaga pintu itu. Namun sial, Rossie sama Andy mepet kayak lem aibon ke gue. Bikin susah gerak. Dua bocah itu bener-bener tegang saat kami melayang tepat melewati si penjaga. Jangankan mereka, gue aja udah merinding disko. Pengen ngompol. Eh. Horornya, saat kita berjalan melewati mereka, wajah mereka langsung terangkat dan mengikuti gerakan kami dengan sangat, sangat, perlahan. Slow motion. Sampai kami sudah masuk ke dalam rumah pun, mereka masih memperhatikan kami. Tapi lega, mereka gak ngikutin kita. Kalau sampai ngikutin dan kita di apa-apain, gimana coba? Mereka gak keliatan imut kayak Andy atau Rossie. Mereka lebih terlihat seperti zombie yang kehilangan kaki, tak bisa mengejar kami. Kami tiba di dalam. Ruangan ini benar-benar terlihat seperti ruang biasa pada umumnya. Hanya saja yang membedakan adalah kami tak bisa mendengar apapun, hanya ada keheningan. Tak ada suara apapun. Dan itu membuat gue pengen lari sejauh mungkin. Papa, Nevan gak kuat. "Kak Renaaa!" mata gue melotot saat Andy berteriak sambil melayang kesana kemari. "Andy!" gue mengerang dan menarik dia mendekat. Wajahnya tampak kesal karena aku mengganggu teriakannya. "Jangan berisik. Nanti kalo si kembar denger, gimana?" Dia tambah cemberut. "Tapi kalo gak dipanggil gitu, Kak Rena mana mungkin tau kalo kita ada di sini?" "Bahaya, Andy," jedaku sambil mengusap kepalanya. "Andy gak mau kan nanti setan-setan nyeremin kayak di pintu masuk dateng dan ngerubungin kita?" Dia menggeleng keras. "Yaudah, makanya, kita harus tenang, oke?" Setelah Andy mengangguk, gue melayang ke ruangan-ruangan yang terletak di lantai bawah. Diikuti oleh Andy dan Rossie, tentunya. Mereka gak mau pisah sama gue. Gue juga, gak mau!! Enak aja sendirian nyari di tempat horor kayak begini. Gue sempet terkesiap saat membuka ruangan paling ujung. Ruangan sebelumnya sih, pada kosong. Gak ada tanda-tanda kehadiran setan atau apapun. Tapi ruangan ini, yang gue baru tau adalah tempat menyimpan peralatan kebersihan, ada mayat yang tergantung. Gak ngerti gue gimana kepala dia bisa nyangkut di ujung pengait di sisi dinding. Sumpah, ini horor banget. Lehernya keliatan hampir putus, dengan mulut menganga lebar dan mata yang terbelalak mengeluarkan darah. "Astaga," gue langsung menutup pintu saat kedua bola matanya bergerak menatap kami. Rossie dan Andy yang berdiri di belakang gue gak ngeliat penampakan horor itu. Untung. Kalau mereka liat, kemungkinan besar mereka akan kabur meninggalkan gue sendirian. "Kita ke atas," bisik gue sembari melirik tangga kayu dengan karpet merah marun yang terbentang menghiasi tiap anak tangganya. "Kak, aku takut," Rossie merapat dan mengalungkan lengannya pada perutku. Andy tak kalah heboh. Dia udah nemplok di punggung gue kayak anak monyet. Gak berat sih, cuma rempong aja ada dua bocah yang gelayutan begini. Gue melayang rendah, menuju lantai atas yang tampak gelap. Sepanjang meniti anak tangga, di sisi dinding banyak tergantung figura foto. Seraya membawa dua bocah ini, gue sadar kalau ada salah satu dengan empat orang yang tersenyum lebar. Mereka pasti keluarga. Terlihat dari sepasang pria dan wanita paruh baya yang duduk, diikuti dengan dua perempuan dan laki-laki yang umurnya jauh lebih muda, berdiri di belakang mereka. "Kak, itu pintunya kebuka." Andy yang pandangannya lebih tinggi dari gue udah bisa liat lantai atas saat kita baru sampai di anak tangga ke lima dari atas. Gue langsung melayang cepat, dengan hati berdebar. Berharap akan menemukan Rena di sana. Benar. Saat kami masuk ke dalam ruangan, ada Rena berbaring di atas ranjang besar yang terlihat sederhana namun berkesan mewah. "Rena!" tanpa sadar, kita bertiga langsung bergerak mendekati gadis itu. "Kak Rena, bangun!" Rossie sudah mengguncang lengan Rena berulang kali, namun tak ada respon. Andy sudah menarik rambut Rena, membuat gue memekik kaget dan menjauhkan tangannya dari kepala Rena. "Jangan," kata gue kesal. Bocah itu terkekeh dan berputar, melayang di samping Rossie yang masih berusaha membangunkan Rena. Tangan gue terjulur menyentuh pipi Rena yang tak terasa hangat atau pun dingin. "Rena, bangun," jemari gue mengusap pipinya. "Kita jauh-jauh ngejemput elo nih." Tapi dia sama sekali gak bergerak. Bikin gue panik. "Rena, bangun," gue mencondongkan tubuh, membuat Rossie dan Andy mundur menjauh. "Rena, ayolah. Buka mata lo." Dia kenapa sih?! Kenapa gak mau bangun? Akhirnya gue duduk di ranjang dan membawa kepala Rena ke pangkuan. Mengusap wajahnya berulang kali, mencubit pipinya agak keras, lalu menepuk-nepuknya. Berharap dia akan bangun. Namun yang gue pengen gak terjadi sama sekali. Dia masih menutup matanya rapat. Astaga, Rena. Bangun. "Kak, Kak Rena pasti bakalan baik-baik aja," suara Rossie membuat gue mendongak. "Kakak jangan berkespresi kayank gitu. Kak Rena pasti gak mau liat Kakak sedih." Gue meneguk ludah. "Mendingan kita langsung bawa Kak Rena aja Kak, keluar dari rumah ini," usul Andy. Gue mengangguk setuju. Kenapa gue jadi bego begini dah? Dengan cepat, tangan kanan gue melingkar di sekitaran pundak Rena. Setelah tangan kiri berada diantara lipatan kakinya, gue mengangkat tubuh Rena perlahan dan berdiri tegak. Namun saat gue memutar tubuh, mata gue terbelalak lebar. Di muka pintu, ada cowok tinggi berwajah tegas. Memandang gue dengan tajam. Ah bukan menatap gue, matanya terfokus pada Rena. "Ada pencuri yang mau ngambil pengantin gue," bisiknya tajam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD