Bukan ini yang diinginkan Nevan, Andy, atau pun Rossie. Bertemu dengan salah satu si kembar, apalagi dengan wajah marah seperti itu. Wajah pucatnya tampak mengerikan karena matanya tampak terbelalak, rahangnya mengeras dan terlihat seperti ingin meledak.
Jangan ditanya bagaimana takutnya Nevan, namun ini sama sekali tak sebanding dengan saat mengeluarkan barang-barang dari rumah lamanya. Ketika orangtua kandungnya berpisah. Tetapi sekarang, dia memiliki sesuatu yang harus ia lindungi. Sesuatu yang memaksa untuk menekan ketakutannya. Karena jika saat ini keberaniannya berada di bawah ambang batas, Rena takkan bisa bersama dengannya di dunia nyata.
"Carlos?" Nevan ingin memastikan ucapan Rossie dan Andy tentang Carlos dan Yasmin. Walau wajah mereka berbeda, Nevan bisa merasakan senyum miring itu adalah milik Carlos. Senyum yang sering ditampakkan oleh pemuda itu kala ia memerhatikan Rena tanpa disadari gadis itu.
Pemuda itu mendengus. "Lo bisa manggil gue itu," tangannya mengibas tak peduli. "Lagian gak penting juga lo tau siapa gue sebenernya."
Mata Nevan berputar malas. Sedetik tatapannya mengarah pada Rena, senyum pedih membingkai wajah Nevan. Kenapa Rena harus mengalami hal ini?
Beberapa detik dalam keheningan memberi kesempatan pada Andy untuk melingkarkan lengan Rena di leher Nevan, sekaligus membawa dirinya untuk menempel di belakangnya. Andy terlihat ingin membuat Rena tidak terjatuh dari rengkuhan Nevan, tetapi sebenarnya ia takut akan sosok itu.
Kalau Rossie, dia sudah berdiri di hadapan Carlos dengan tangan berkacak pinggang. Dia melayang agak tinggi agar matanya bisa menatap Carlos dengan leluasa.
"Kakak! Tadi bilang apaan? Pengantin?" pertanyaan spontan Rossie membuat Nevan terbelalak kaget. "Kamu emangnya gak tau kalo Kak Nevan itu suka banget sama Kak Rena? Bahkan di-pelenjon-in aja dia gak apa-apa!" tetapi kemudian, Rossie berbalik menatap Nevan. "Kakak, pelenjon itu apaan sih?"
"Ha-ha-ha ...," Nevan tertawa garing. "Anak kecil gak usah tau, belum saatnya."
Dia benar-benar tak mengerti, sebenarnya Rossie ingin membela atau mengejeknya? Dari mana juga dia mendapatkan kata itu? Pelafalannya saja salah. Andy yang berada di kepala Nevan lantas melepaskan kepala seraya berputar di sekitaran wajah datar Nevan. Wajah bocah itu penasaran.
Dia bertanya beberapa hal. Dari "Kak, pelenjon itu apa?", lalu pertanyaan "Andy boleh nyobain pelenjon gak?", sampai penolakan seperti "Tapi, kalo rasanya pedes aku gak mau".
Saat ini Nevan ingin sekali mengubur mereka berdua di jurang terdalam suatu hutan dunia gaib yang sudah diasingkan. Di mana takkan ada yang bisa membebaskan mereka. Tapi nyatanya, itu tak pernah terjadi. Karena jika dia melakukan itu, Rena pasti akan sedih.
"Serahkan dia," suara Carlos bergema di penjuru ruangan.
"Oh ya?" suara Nevan naik satu oktaf. "Ngasih Rena ke setan kayak elo?" Nevan merekatkan tubuh Rena padanya lalu melirik Rossie. "Rossie, ke sini. Cepet," tambahnya penuh penekanan.
Awalnya, Rossie bingung. Namun akhirnya dia melayang rendah ke arah Nevan berada. Namun belum sampai dia berada di sisi Nevan, pemuda itu terlempar jauh dan menghantam dinding. Andy yang berada di pundak Nevan juga ikut terlempar. Begitu pula dengan Rena yang masih berada di rengkuhan Nevan.
"Kakak! Andy!" pekik Rossie heboh. Bibirnya terbuka setengah, benar-benar kaget. Dengan cepat dia mendekati mereka dengan wajah khawatir sekaligus ketakutan.
"Gue bilang, balikin pengantin gue!" teriakan Carlos kali ini membuat Rossie mengkerut di samping Andy.
Wajah pucat Carlos terlihat semakin mengerikan. Urat-urat yang sebelumnya tenggelam di dalam kulit kini terlihat jelas. Saking marahnya, urat itu menegang seperti bisa putus sekarang juga.
"Haaa...? Pengantin lo?" Nevan mendengus kemudian membawa Rena dalam pelukan.
Mungkin karena terlalu ribut, Rena yang sebenarnya dalam keadaan pingsan perlahan-lahan menggerakkan bola matanya. Sampai beberapa saat kemudian, dia membuka matanya pelan dan terkejut karena Nevan berada sangat dekat dengannya.
Meski pandangannya masih samar, namun ia bisa melihat Carlos dan Nevan yang saling bertatapan tajam seperti ingin membunuh satu sama lain. Dia juga bisa merasakan kalau di sisi belakangnya ini ada Andy dan Rossie yang tak tau harus berbuat apa.
"Dia itu istri masa depan gue!" teriakan lantang Nevan membuat Rena tersadar 100%.
Mata Rena terbelalak, benar-benar kaget. "Ne-Nevan?" panggilnya bingung.
Nevan tak kalah kaget. Dia menjatuhkan tubuh Rena tanpa sadar. "Re-Rena?!" mulutnya menganga lebar. "Lo bu-bukannya lagi gak sa-sadar? Kok se-sekarang?"
"Ahhh, Nevan kejam," Rena cemberut. "Masa aku dibanting gitu aja? Emangnya aku apaan coba?"
Dan tanpa disangka, Rena bangkit mendekati Nevan. Jemari Rena terjulur, menangkup wajah Nevan dengan perlahan. Sorot penasaran keluar dari matanya, ingin bertanya tentang maksud akan ucapan dari 'istri masa depan'. Dan sialnya, tatapan Rena membuat Nevan tak bisa berkutik. Kalau di dunia manusia, wajah Nevan pasti sudah merona merah karena jarak mereka yang sangat dekat.
"Rena, kenapa kamu bangun sekarang?" suara Carlos bergema di telinga Rena, membuat gadis itu berputar dan mengerutkan kening. "Aku kan pengen kamu istirahat dulu sampe acara nanti malem."
"Acara apaan?" kening Rena semakin berkerut. "Kamu siapa?" kemudian matanya menatap sekeliling sebelum berakhir di manik Nevan. "Kita di mana Nev?"
Ah. Pertanyaan Rena menyadarkan Nevan dari lamunan. Dia langsung berdiri dan meletakkan Andy di sebelah kiri bahunya disusul Rossie di sisi satunya. Tangannya yang bebas menggenggam milik Rena.
"Kita kabur!" ujar Nevan semangat.
Wajah Rena miring ke satu sisi. "Kabur ke... mana?"
"Argh," Nevan mengerang frustrasi karena pintu kamar diblokir oleh Carlos. "Minggir!" sahut Nevan kesal.
Carlos tersenyum miring. Dia bergerak ke samping, merapat pada daun pintu. Tangannya terjulur ke sisi luar ruangan. Seperti mempersilahkan mereka berempat untuk keluar.
"Silahkan," ujarnya singkat.
"Apa-apaan dia ..." gerutu Nevan tanpa sadar.
Dan tanpa disuruh pun, Nevan segera melayang cepat bersama tiga orang yang menempel pada dirinya. Tak ada yang curiga sama sekali ketika Carlos dengan mudahnya melepaskan mereka. Sampai akhirnya Nevan menutup pintu kamar, ia melihat seringaian mengerikan Carlos. Ada apa dengannya?
"Kak, kita di mana?" suara Andy membuat Nevan beralih pandang dari daun pintu yang sudah tertutup rapat.
"Perasaan Rossie, tadi kamarnya gak sebanyak ini deh Kak," tambahan dari Rossie membuat Nevan semakin sadar.
Mereka bukan berada di dalam rumah megah itu lagi. Kini, mereka berada di lorong panjang dengan puluhan pintu di tiap sisi, seperti berada di dalam hotel terbengkalai. Saking panjangnya lorong di lantai ini, masing-masing sisi tertutupi kegelapan. Tak terlihat apa pun.
"Nevan, kita ada di mana?" Rena tak berhenti bertanya.
Dan Nevan tak tau harus menjawab apa.
Karena pada kenyataannya, dia tak tau di mana letak keberadaan mereka saat ini.
❤❤❤
Tubuh Rena dan Nevan yang tak memiliki roh terlihat berbaring di atas ranjang. Di sebelahnya, pria paruh baya menatap keduanya dengan pandangan penuh kekhawatiran. Pertama kalinya Nevan merasakan pengalaman seperti ini, dan sialnya dia tak bisa menemaninya.
Restu, nama pria itu, hanya diam sambil memikirkan banyak hal. Sebenarnya, dia hanya memikirkan bagaimana cara untuk berkomunikasi dengan Nevan atau pun Rossie dan Andy. Tapi sayangnya, mereka sangat sulit untuk dicapai.
Tiba-tiba, suasana kamar yang sebelumnya biasa saja terasa lebih berat. Suhu ruangan berubah menjadi panas. Namun anehnya, bulu kuduk di tenguk Restu meremang. Dia tersenyum kecil ketika mendengar suara pergerakan yang berasal dari atasnya.
"Akhirnya kau muncul juga, Yasmin," bisik Restu.
Sesuatu yang bergerak dari salah satu sudut langit-langit kamar itu perlahan memperlihatkan wujudnya. Sesosok ular berkepala manusia, sosok sama yang pernah melilit Rena beberapa kali. Ya, dialah yang menginginkan tubuh Rena, demi mendapatkan tempat spesial di sisi Nevan.
"Berikan dia padaku ..." desis wanita bertubuh ular itu.
Dia bergerak perlahan di belakang Restu, mendekat dengan perut berisisiknya yang terlihat mengkilap serta licin. Ketika wajah rusaknya akan mendekati ranjang, Restu menjulurkan tangan ke arahnya. Menegangkan tiap otot jemari membentuk pose mencekik. Dan dalam sekejap, ular itu berhenti bergerak dan mulai merintih.
"Kenapa kamu melakukan ini?" tanya Restu sembari menjaga tangannya agar tak mengendur dan kekuatannya tetap menyiksa sosok mengerikan itu.
"Dia tak pantas berada di sisi Nevan," sosok itu menggeliat, namun kalimat yang diucapkannya terputus-putus.
Restu menggeram. "Kau tak berhak menentukannya."
Cekikan Restu semakin menguat, disusul suara rintihan yang semakin nyaring serta kepulan asap yang perlahan keluar dari tubuh makhluk itu. Dia meronta, meminta untuk dilepaskan namun Restu menolak. Tangan satunya yang bebas terangkat, menyentuh leher makhluk itu sebelum menekannya kuat, membuat kepalanya tak bisa meronta bebas.
"Menyerah sekarang," Restu berjeda, melihat reaksi makhluk itu yang hanya menggeliat seperti cacing diberi garam. "Atau kau akan musnah," diancam seperti itu sama sekali tidak membuat makhluk itu takut.
"Aku takkan menyerah pada manusia sepertimuuu!!!" teriaknya histeris tetapi ia tak memohon untuk dilepaskan seperti sebelummya.
Restu semakin kesal. Untuk apa dia melakukan hal seperti ini? Dia kan, sudah mati. Tidak seharusnya memaksa masuk ke dalam tubuh seseorang hanya demi berada di sosok manusia yang masih hidup. Kepalanya sakit memikirkan betapa keras kepalanya wanita ini.
"Dengar," bersamaan dengan kata penuh penekanan, bau daging yang terbakar terasa di penciuman Restu. Tangannya membakar kulit si wanita ular. "Kalau kau bersikeras memisahkan mereka, kau akan musnah. Tak bersisa. Kau takkan bisa lepas dariku," dia berjeda. "Pergi sekarang atau kuhancurkan kau. "
Rintihan wanita itu semakin nyaring. "Ba-baik!" kepalanya mendongak, menahan sakit. "Aku takkan mengganggu mereka lagi! Lepaskan aku!"
Selama beberapa saat, Restu masih dalam posisi menyiksa makhluk itu. Matanya menyipit, memperhatikan raut penuh penderitaan dari wajahnya yang sudah hancur. Restu tak tau bagaimana cara dia meninggal dan tubuhnya berubah menjadi sosok ular seperti itu. Dia masih diam, mendengarkan rintihan kesakitan dengan wajah datar. Sampai akhirnya dia yakin, barulah Restu melepaskannya.
Tetapi siapa sangka, beberapa detik setelah Restu melepaskannya, dia meloncat ke atas kasur dan mengurung tubuh Rena. Mulutnya menyeringai menatap Restu dengan sorot merendah.
"Manusia memang bodoh," dia terkikik geli, lalu segera berusaha mengambil alih tubuh Rena.
Namun belum sampai sisiknya menyentuh tubuh Rena, Restu kembali mengayunkan tangannya, merapalkan sesuatu sampai tubuh ular tersebut mengempis. "A-ah, aku benar-benar tak ingin melakukan ini," gumamnya.
Dalam hitungan detik, tubuh makhluk itu semakin mengempis, seperti udara dalam dirinya dipaksa keluar. Menguap seperti air yang dipanasakan dan menghilang bersama angin melewati jendela kamar Nevan.
Restu menghela napas frustrasi. "Nevan, cepat bawa Rena kembali ke dunia ini," bisiknya.