[Hal Baru & Kehilangan]

1737 Words
Aku masih membuka tutup telapak tangan, merasakan sensasi aneh yang kurasakan ketika kedua lenganku saling menembus satu sama lain. Hawa dingin menggelikan terasa. "Nevan..." bisikku seraya meniup-niup kuping Nevan. Cowok itu bergidik ngeri, tangannya mengusap tenguk dengan gugup. "Anjrit, ni rumah sakit emang horor banget." Aku terkikik geli, dan itu membuat Nevan semakin merinding. Tubuhku yang berada di gendongan Nevan dibawanya berlari menembus lorong rumah sakit yang gelap. Terlau! Nevan keterlaluan! "Kamu kayak karung beras aja sih," celetuk suster ngesot, "gak romantis banget pacarmu." Pergerakanku yang mencoba-coba menembus tubuh Nevan terhenti. Mataku membulat dan terpancar kebahagiaan disana. PACAR? Dia bilang aku pacar Nevan? Oh Tuhan, rasanya aku mau mati aja sekarang! Eh, jangan deng. "Kamu bawa siapa?" Suara berat milik seseorang yang asing membuat kepalaku berputar. Ugh, aku gak bisa muterin kepala kayak setan di film-film. Entah kenapa ini membuatku jengkel. Dan aku baru sadar kalo ternyata Nevan udah berada di dalam kamar rawat. Ciaat! Ternyata cahaya gak bikin mataku picek atau tubuhku jadi asap. Duh ya, aku kan belum mati. Tapi, kenapa aku bisa transparant gini? Jangan-jangan aku udah mati? Tapi gimana bisaaa? "Ini Rena, Pa. Temen Nevan yang tempo hari aku ceritain ke Papa," jawab Nevan seraya membaringkan tubuhku di ranjang yang kosong. Duh! Nevan ngomongin apaan? Jangan-jangan dia ngomongin aku dan Archy. Hihihi, ternyata Nevan perhatian juga ya. "Oh, Rena..." gumam Papa Nevan, "roh dia kepisah dari tubuh, ya?" Papa Nevan menoleh kesana kemari seperti mencari keberadaan sesuatu. Keningku berkerut dalam ketika Papa Nevan menggoyangkan tangannya ke arahku dan tersenyum. Aku menoleh ke kanan dan kiri. "Papa Nevan dadah ke siapa, sih?" tanyaku pada suster ngesot yang masih setia berputar-putar mengelilingi Nevan. Aku curiga, jangan-jangan dia naksir sama Nevan? "Hai, Rena," sapaan Papa Nevan membuatku melotot. Hampir saja mataku keluar dari tempatnya. Astaga. Dia nyapa aku—roh aku?! "Pa." Nevan terlihat kaget dan bingung, tangannya menunjuk tubuhku yang masih berbaring. "Rena ada disini." "Itu tubuh Rena, jiwanya ada di sana," Papa Nevan menunjukku tanpa rasa takut sedikitpun. Waaa! Ternyata ada yang bisa liat aku! Yah, gak seru ah. Kalo Papa dia bisa ngeliat aku, berarti aku gak bisa ngintilin Nevan dong. Gagal deh rencana indahku. Eh. Kenapa aku jadi kayak penguntit gini? Nevan mematung, wajahnya memucat. "Jadi maksud Papa, Rena terlepas dari tubuh aslinya, gitu?" Papa Nevan mengangguk mantap. Dia berjalan mendekat seakan aku adalah manusia biasa. Ini Papa Nevan gak takut sama setan, ya? Apa jangan-jangan dia juga setan? Aku semakin gak mengerti dengan hidup ini. "Jadi, kenapa kamu bisa keluar dari tubuh?" tanya Papa Nevan. Aku mengerjap sekali, dua kali, tiga kali. Kemudian menggeleng tak mengerti. Aduh Pak, saya gak tau kenapa bisa kayak gini. Tapi aku senang! Bisa terbang kesana kemari dan menembus dinding sesuka hati. OH YA! Si suster ngesot! Kepalaku menyembul dari balik dinding, mataku melirik Papa Nevan. "Pak, liat suster ngesot gak? Tadi dia kesini bareng sama aku," gumamku seraya melayang mendekati Papa Nevan. "Tapi kok dia ilang ya?" Papa Nevan menggeleng melihat tingkahku. Kenapa sih, Pak? Gak pernah merasakan kebahagiaan terbang seperti aku ya? Sukurin! Aku tertawa cekikikan, dan itu justru membuat wajah Nevan semakin pucat. "Saya juga bisa, loh," suara Papa Nevan yang dekat membuatku mendongak. Brukk. Tiba-tiba tubuh Papa Nevan terjatuh tepat di samping tubuhku yang berbaring. "Papa?!" pekik Nevan kaget. Nevan aja kaget, apalagi aku, ya kan? Sekarang roh Papa Nevan sudah berada di sampingku, berbaring di udara seperti tiduran di atas kasur. Hey, gayanya keren! Kayak foto model aja! "Pak, pernah jadi model majalah Flora-Fauna, ya?" tanyaku ngasal. Papa Nevan menjitakku setengah kesal. Aku terkekeh kemudian cemberut. Papa Nevan apaan sih, jitak-jitak aku aja. Tapi kemudian dia menatapku dalam seraya menyentuh kedua bahuku. "Jadi, kenapa kamu ada di rumah sakit semalam ini? Bukannya waktu besuk udah abis?" Aku gelagapan. Kalo aku bilang ada suster ngesot yang minta tolong untuk menyelamatkan seorang bayi yang akan diculik, apa dia akan percaya? Selama ini kan, aku tidak ada yang percaya padaku. "Rena," Remasan lembut di bahu membuatku mendongak. "Oom percaya sama kamu." Rasa hangat itu menjalar di hatiku. Apa aku boleh mengatakannya? Apa dia akan benar-benar percaya padaku? Tapi melihat senyum tulusnya membuatku yakin, dia adalah orang baik. "Jadi—" "Bayi yang akan diculik itu adalah bayi ibu ini!" teriakan si suter ngesot membuat suasana aman tentram dan nyaman menjadi acak kadut. Aku menoleh dengan kaget, begitupula dengan Papa Nevan. Ibu bayi yang akan diculik ada di ruangan ini? Papa Nevan menatap suster ngesot, meminta penjelasan atas ucapannya barusan. ♥♥♥ "Jadi maksudnya, bayi yang mau diculik sama suster di sini itu, anaknya kakak Nevan?" tanyaku memastikan. "Iya!" jawab suster ngesot itu dengan gemas. Suster itu berngesot ria di depanku dan Papa Nevan—yang juga melayang bersamaku. Kita mau ke ruangan bayi sehat, dimana anak dari Lucia—kakak Nevan tengah tidur cantik. Anaknya perempuan lho, pasti cantiknya kayak aku. Tiba-tiba ada sesuatu mendekat. "Oom, itu apaan sih? Bola ya?" tanyaku seraya menyenggol bahu Papa Nevan. Papa Nevan mengernyitkan keningnya dalam, "apaan sih? Oom gak liat." Entah karena penglihatanku yang terlalu tajam, atau mereka yang buta? Itu kepala! Menggelinding ke arah kami hingga akhirnya berhenti tepat di hadapanku. Aku terkesiap dan langsung menendang kepalanya ke sembarang arah. "Kepala sialaan!" teriakku kencang. Dan gool! Kepala itu masuk ke dalam ruangan dengan jendela terbuka. Aku berjoget ria karena berhasil memasukkan bola ke dalam ruangan. Eh. Ini bukan waktunya aku main-main. Serius, Rena! "Kamu gak takut sama mereka, Rena?" tanya Papa Nevan ketika kami mulai memasuki ruangan bayi sehat. Aku mengernyit bingung, "kenapa takut, Oom? Kalo kita takut kan mereka makin seneng." "Unik ya, kamu," ujar Papa Nevan seraya tertawa kecil. "Itu dia!" Lagi-lagi, suara suster ngesot itu menghancurkan suasana manis diantara aku dan Papa Nevan. Astaga, dia menyebalkan sekali. Kepalaku segera berputar dan melihat seorang wanita dengan pakaian suster sedang berusaha membuka kotak bayi berwarna merah jambu. "Itu dia," bisik suster ngesot dengan nada horor. Suer deh, suasana yang tadinya biasa aja langsung mencekam, suhu udara mendingin. Pokoknya gak enak banget deh. Si suster penculik itu aja sampe mengusap tenguk berkali-kali. Perlahan tapi pasti, aku bisa melihat si suster ngesot membawa sesuatu di tangannya hingga terdengar suara srekk... srekk... srekk... yang membuat suster penculik itu mematung. "Mina?" panggilnya seraya menoleh ke kanan dan kiri. Bukan suara seseorang yang menyambut panggilannya, melainkan srekk... srekk.. srekk... berulang kali. Suster ngesot melanjutkan aksinya. Kaki suster penculik secara perlahan ditiup-tiup, dipegang bahkan sampai dielus hingga si empunya kaki berwajah pucat. "Mina? Jangan bercanda deh!" pekiknya ketakutan. Oke, ini mulai mengasyikkan. Apalagi ketika Papa Nevan mulai menggoyangkan gorden dengan sangat perlahan. Angin malam yang berhembus kencang bahkan membuat suasana semakin mencekam. Aku akhirnya tertawa cekikikan sambil melayang mengelilingi suster penculik. Matanya menyisir ruangan dengan liar, seakan mencari keberadaan kami—sang hantu yang mengerjainya. "Berentii!" pekiknya histeris, lalu berjongkok dan mengepalkan tangannya di sisi kepalanya. Bukannya berhenti, aku justru semakin senang mengerjainya. Hingga akhirnya si suster penculik menangis. Jadi gini toh rasanya jadi setan saat manusia ketakutan? Ternyata seru, ya. "Coba kalo ada Andy sama Rossie," gumamku. Aku masih saja tertawa cekikikan, sesekali memainkan rambutnya yang panjang. Kutarik-tarik, bahkan kunaikkan hingga dia menjerit histeris dan akhirnya pingsan. Setelahnya, aku berhenti. Memandang Papa Nevan yang menatapku dengan cengiran lebar dan jempol teracungkan padaku. "Good job!" katanya senang. Kepalaku berputar, mencari-cari suster ngesot yang juga berperan penting dalam misi penyelamatan keponakan Nevan. Tapi, dia kemana? Aku melayang rendah, mencari keberadaan dirinya. Tapi tidak ada. "Kamu nyari dia?" tanya Papa Nevan. Aku memandang arah tunjuk Papa Nevan. Ke arah satu lemari yang tiba-tiba saja terbuka, di dalamnya ada suster ngesot itu. Tubuhnya. Dalam keadaan tangan terikat dan mulut yang disumpal dengan saputangan. Kakinya, kaki dia remuk, entah karena dihantam apa. Tapi yang pasti, karena hal itu dia menjadi tidak bisa berdiri tegak. "Astaga," gumamku, menahan tangis. ♥♥♥ "Jadi, apa yang terjadi sebenernya?" tanya Nevan tiba aku memasuki mobil. Aku dan Papa Nevan baru saja menghadari pemakaman suster ngesot itu. Suster penculik itu sudah dilaporkan polisi, bersama dengan seorang suter lainnya yang bernama Mina. Papa Nevan langsung ke kantor, sedangkan aku dan Nevan kembali ke medan perang. Semoga kamu tenang disana ya, jangan ganggu-ganggu aku lagi. Tapi untung deh, dengan hadirnya dia di hidupku beberapa hari belakangan ini membuatku tidak takut lagi akan jenisnya. Jadi, sekarang aku tidak takut sama setan manapun! Kesini kau setan, kita adu tinju! "Heh," senggolan Nevan membuatku mendelik. "Apaan sih?" Nevan memutar bola matanya malas. "Tadi gue nanya, sebenernya apa yang terjadi?" "Apa? Yang terjadi apa?" tanyaku sembari mengedip beberapa kali. Nevan men-starter mobilnya dengan wajah gemas. Mungkin ia pengen unyeng-unyeng mobilnya yang tiba-tiba gak nurut sama dia? Aku tertawa ngakak melihat wajahnya yang masam. "Kamu yang sabar dong Nevan," kataku sambil memakai seatbelt. "Kayak yang gak pernah bawa mobil aja." "Lo punya kemampuan yang sama kayak Papa, ya?" tanya Nevan langsung. Kemampuan apa? Keningku berkerut dalam dan telunjukku menyentuh dagu berkali-kali. Dalam beberapa detik, aku menyadari bahwa Archy tak ada di kepalaku. Dengan gemas aku menggebuk jok mobil, membuat Nevan melonjak kaget dan menghentikan mobil tiba-tiba. "Apaan, sih lo?" tanyanya sewot. Aku menepuk kening. "Archy ketinggalan di pemakaman!" Nevan menghela napas panjang. Dengan gerakan luwes, cowok itu membelokkan stir mobil dan kembali menuju pemakaman. Entah kenapa tiba-tiba hatiku diterjang rasa was-was. "Kak Renaaa!" Suara melengking Rossie yang terdengar di telingaku tak membuat kepalaku menoleh. "Kakak!! Kangen sama kita gak?" itu suara Andy, dia melepaskan kepalanya dan berputar di sekelilingku. Aku benar-benar gila. Bagaimana bisa meninggalkan Archy sendirian? Tadi burung kecil itu memang minta turun, dia ingin main sama genangan air, bisa kulihat dari wajahnya yang memandang genangan air di dekat makam suster itu. Ketika mobil Nevan memasuki area parkir pemakaman, aku segera turun tanpa mempedulikan teriakan Nevan. Mencari keberadaan Archy dengan teliti di tanah. Archy, kamu dimana? Dan... saat itulah aku menemukan sahabatku tergeletak, mengenaskan. Tubuhnya sudah tidak berbentuk, di sekitar tubuh Archy terdapat jejak kaki seseorang. Archy diinjak? "Archy..." kini aku menangis, mengangkat tubuh Archy yang sudah tak bergerak. Rossie dan Andy yang sedaritadi berisik langsung terdiam. Mungkin mereka kaget karena aku menangis seperti ini. Tapi apa peduli mereka melihat tangisku? Bukankah keberadaanku untuk orang-orang hanya sebatas sampah? "Rena," panggil Nevan pelan. Aku diam, tidak menghiraukan panggilannya. "Pulang yuk," ajak Nevan. Aku menggeleng, menolak untuk bangkit saat tangan Nevan menarik lenganku. Berulang kali Nevan membujukku untuk kembali ke mobil dan pulang ke rumah, namun aku menepis ajakannya. Sampai akhirnya Nevan ikut berjongkok dan memelukku dari samping. Tuhan, kenapa Kau ambil Archy secepat ini? Dia bahkan belum sempat mengepakkan sayapnya...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD