"Rossie," panggilku horor. "Kamu yang ngasihtau rumahku disini, ya?"
Aku hanya bisa merapat pada dinding rumah, berjalan menyamping mepet ke tembok seperti kepiting di tepi pantai. Ini gila. Suster ngesot itu ada di depan kamarku! Dia menyeringai seraya memiringkan kepalanya.
Kepalamu kenapa Sus? Kecengklak ya?
Kenapa yang muncul gak tuyul aja sih? Kan aku bisa minta tolong ambilin duitku di Mama. Karena aku yang suka membeli barang aneh macam boneka usang, Mama menyimpan uangku di tempat teraman di rumah ini. Itu menyebalkan.
"APA KAMU PEGANG KAKI AKU?!" pekikku histeris ketika tangan dinginnya bersentuhan dengan kulitku.
Dia ketawa ngikik dan itu membuatku menendang wajahnya sambil berteriak, "jangan ngikik kayak Mbak Kunti! Kamu itu Suster Ngesot, bukan dia!"
Suster ngesot itu berhenti tertawa, menatapku datar namun bibirnya masih menyunggingkan senyum mengerikan. Sedangkan Rossie si bocah ingusan hanya tertawa-tawa sambil berputar di udara.
Melakukan atraksi lempar kepala dengan Andy. Oh Tuhan, untungnya aku gak punya hobi main kasti. Kalo iya, kepala Andy udah aku pukul sejauh mungkin. Kalo perlu sampe pecahin kaca rumah Nevan.
Tiba-tiba aku ngikik geli membayangkan wajah Nevan yang ketakutan tadi di sekolah.
"Kakak! Dia tuh mau minta tolong sama Kakak, tau!" ucap Rossie di tengah candanya dengan Andy.
Kepala Andy yang berada di tangan Rossie berputar dan menatapku dengan cengiran lebar. "Iya Kak! Kasian loh dia udah ngesot sejauh ini. Jangan dicuekin."
Mataku melirik suster yang masih ngesot-ngesot ngikutin aku di belakangku. Hidungku mengerut ketika sadar rok suster ngesot itu gak kotor.
"Sus, kamu pake detergen apa sih? Kok bajunya gak kotor—"
Pletak. Tangan Rossie yang jemarinya putus setengah itu berhasil memukul kepalaku dengan keras. Ah, sebenernya sih bukan tangannya langsung yang memukulku. Tapi tekanan udara lah yang membuat kepalaku terasa sakit.
Menurut penjelasan dari film horor yang pernah kutonton, mereka berkata setan itu gabisa nyentuh kita—sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan. Tapi kenapa manusia tetep takut ya sama setan. Aku sih, enggak!
Tapi untuk mbak-mbak ngesot yang satu ini, beda lagi ...
Srekk. Sreeekk. Kemudian dia ngikik senang. Dan itu membuatku memeluk pinggiran tangga dengan erat. Sebenarnya aku mau ke kamar mandi. Udah kebelet pup. Tapi karna ada dia jadi aja kehalang.
Suster ngesot menyebalkan!
"Mbak! Bisa gak sih gak usah mengeluarkan suara horor kayak gitu?" kataku kesal.
Aku benar-benar gak suka sama suara ngesot yang disebabkan oleh kakinya itu. Rasanya menyeramkan.
"Rena? Kamu ngapain Nak malem-malem gini?"
Suara Mama membuatku tersentak kaget. Dengan posisi kedua kaki dan tangan memeluk pembatas tangga, aku meluncur ke bawah dengan cepat. Tubuhku berputar sesuai dengan tangga yang melingkar dan duagh! Pantatku dengan cantik mencium lantai.
"Menyakitkan," ringisku.
Mama dengan masker putih menutupi wajah datang menghampiriku. Rambutnya yang panjang sepinggang tidak diikat, membuatnya terlihat seperti mbak kunti.
"Itu Ma, ada temen Mama yang datengin Rena," ujarku seraya bangkit dan mengusap bokongku yang terasa sakit.
"Temen Mama? Siapa?"
Mata Mama mulai menatap sekitar dengan awas, ada retakan di dekat keningnya dan itu membuatku yakin Mama sedang mengernyitkan kening. Kayaknya Mama mencari seseorang yang daritadi ngintilin aku.
Dum! Dum! Dum! Suara sesuatu yang terjatuh membuatku dan Mama menoleh. Dari pandanganku, bisa kulihat ternyata suster ngesot itu jatuh menggelinding dari lantai tiga—kamarku.
"Sukurin! Lagian udah tau cuma bisa ngesot, sok-sokan naik tangga sih!" ujarku disusul dengan tawa membahana.
Tapi kini tubuhku sudah merapat pada Mama yang sudah mematung. Serem hey kalo si suster lagi melotot kayak gitu. Aku mengintip dari balik punggung Mama—memperhatikan Mama yang sudah mencengkram tanganku dengan kuat.
"Mama kenapa sih?" tanyaku memastikan.
Tanpa aba-aba lagi, Mama menarikku dan membawaku kabur dari suster ngesot yang menjulurkan tangannya ke arah kami.
"Mama, kayaknya dia mau ngomong sesuatu deh," gumamku.
Mama memekik setelah menutup pintu kamar dengan keras, "kamu jangan aneh-aneh ya, Rena!"
Bukan aku yang aneh. Tapi si suster ngesot itu. Kayaknya dia mau bilang sesuatu deh. Ah, tapi bodo amat deh. Tiba-tiba kepala Andy menyembul dari tembok sebelah pintu—dimana Mama bersandar.
"Kak Rena, itu suster ngesotnya mau ngomong sama Kakak," jeda Andy, "katanya dia mau minta tolong."
Aku mengernyitkan kening. "Apaan sih Ndy? Emangnya aku Pak Polisi apa segala dimintai tolong?"
Mama mendelik, menatapku dengan pandangan horor. "Kamu ngomong sama siapa?"
"Andy," jawabku singkat.
Sebelumnya aku sempat mengenalkan Andy pada Mama. Perkenalan singkat sih, aku hanya bilang kalau ada anak kecil yang minta dipeluk sama Mama, namanya Andy. Mama kaget, dia bingung karena tidak bisa melihat Andy seperti aku yang bisa melihat Andy dengan jelas.
Aku juga bilang sama Mama kalo Andy itu hobi banget lepas-pasang kepala. Lha, Mama malah kaget. Gimana jadinya kalo Mama aku kenalin sama Rossie yang suka meledak-ledak dengan mata melotot?
"Ma, Papa udah tidur? Tumben," gumamku seraya menatap Papa yang lagi ngorok.
Belakangan ini Mama suka melompat ke atas kasur dan menggulung dirinya dengan selimut lalu merapat ke Papa—seperti saat ini. Apalagi setelah aku menyebut nama Andy. Kalau sudah begitu, aku hanya tertawa dan ikut tiduran di sebelah Mama.
♥♥♥
"Nevan." Kupanggil Nevan berkali-kali setelah Ujian Nasional selesai.
Beberapa malam ini Rossie dan Andy selalu saja ribut. Mereka berantem karna saat saling lempar kepala, Rossie suka jambak rambut Andy, begitupula sebaliknya. Parahnya lagi, suster ngesot itu masih setia menggangguku.
Ah, Nevan nyebelin! Dari kemarin aku dicuekin terus sama dia. Emangnya aku alarm hape dia apa? Akhirnya aku berbalik arah dan berjalan menuju rooftop. Kalau mau ke rooftop itu gak boleh sampe ketauan para petinggi. Jadi aku mengendap-ngendap lagi di medan perang ini.
"Awas ada anak aneh!" teriak salah satu cewek yang rambutnya kayak dodol. Lurus, lebat, seperti tidak ada celah untuk kutu kabur dari kepalanya.
Diantara para prajurit yang sedang menyemprotkan senjata kebahagiaan mereka—pilox—di seragam, aku mepet di tembok. Mengarungi lautan manusia yang memaki keberadaanku. Archy nemplok cantik di saku seragamku hingga kita tiba di atap.
Tiba di atas, aku langsung berbaring dan menatap langit biru. Archy berdiri di sampingku seraya mengepakkan sayapnya, hal yang biasa dia lakukan.
"Archy, kalo kamu bisa terbang," jedaku, "apa kamu akan ninggalin aku sendirian?"
Archy menoleh dengan wajah miring. Aku tau, aku sadar betul kalau Archy sebenarnya tidak betah bersamaku. Bagaimanapun juga, dia adalah seekor burung. Dia lebih suka terbang bebas di angkasa daripada berdiam diri di saku atau di atas kepalaku.
Srekk. Srekkk. Suara itu! Aku mengedip beberapa kali. Aku terduduk dengan cepat. Kepalaku menoleh ke kanan dan kiri, mencari keberadaan si suster ngesot. Dia pasti ada di sekitar sini.
"Aku ingin meminta bantuan ..." bisikan halus, menyeramkan dan membuat bulu kudukku meremang terasa dari belakangku.
Tiba-tiba ada hawa dingin yang menjalar di leher, turun ke d**a dan akhirnya mendekapku erat. Bisikan itu semakin nyata di telingaku. "Jangan menghindariku lagi, Rena ..."
Benar! Dia adalah suster ngesot itu. Dia memelukku dari belakang, bibirnya meniup-niup cuping telingaku. Membuatku menamparnya saat itu juga.
"Apaan sih kamu?" kataku kesal.
Dia tertawa cekikikan. "Kamu takut sama aku ya?"
Aku mendelik, merasa kesal karena dipermainkan olehnya. Iyalah takut! Siapa juga yang gak horor kalo diikutin dan selalu diisengin tiap hari? Apalagi dia suster ngesot!
"Jadi gini," dia berdeham, "ada seorang ibu yang mau melahirkan ...."
Aku menaikkan sebelah alis. "Trus aku harus bantuin proses persalinan dia?"
"Bukan." Dia memutar bola matanya yang sudah membiru itu dengan malas. "Ada temanku yang sudah lama berencana mau menjual bayi ibu itu. Aku mau minta tolong kamu untuk memperingatkan keluarga dia."
♥♥♥
"Dimana ruangannya?" tanyaku setelah kita sampai di rumah sakit.
Suster itu berngesot ria di depanku. Archy ada di rumah, aku tak tega membangunkannya yang sedang di alam mimpi. Ini sudah tengah malam tapi entah kenapa suasana rumah sakit yang mencekam membuatku tidak merasa ngeri. Justru terasa asik. Seperti acara di tv yang uji nyali itu loh.
Kalo kesurupan mungkin lebih asik. Eh. Aku kadang suka berandai-andai, gimana ya kalo masuk ke dalam tubuh orang lain?
"Kikikikikiki!"
Nah, itu suara siapa?
"Gak usah takut, si kunti emang suka cekikikan kalo malem," seru suster ngesot dengan kalem.
Aku menoleh ke arah tunjuknya, tepat di atas pohon beringin ada seorang wanita berbaju putih dengan rambut mengembang dan mata yang menatapku tajam. Seringaian menyeramkan di bibirnya tidak membuatku takut.
Aku justru melambaikan tangan dan menyapanya, "met malem, Mbak Kunti!"
Rambut mbak kunti itu tersapu angin hingga terlihat wajahnya yang pucat seperti Mama yang memakai masker. Wah, kayaknya aku harus bawa Mama kesini deh. Lumayan, biar Mama ada temen maskeran.
"Kamu kok gak takut sama dia?" tanya suster ngesot itu.
"Ngapain takut sama dia?" kataku sebal. "Justru yang nyeremin itu kamu, tau!"
Dia kembali ngikik, membuatku kesal setengah mampus. Pasti pada penasaran ya 'kan gimana aku bisa masuk ke dalam rumah sakit, padahal jam operasional untuk pengunjung udah di tutup? Tentu aja karena suster ngesot ini.
Aku curiga, jangan-jangan dia yang sebenernya mau nyulik bayi itu. Buktinya aja dia tau dimana lorong-lorong rahasia di rumah sakit ini.
"Mundur, mundur!"
Aku mengerjap beberapa kali saat dia berteriak. Mundur kemana? Emangnya aku undur-undur? Ketika pandanganku menatap fokusnya, ternyata ada seorang lelaki yang berjalan ke arah kami.
"Itu bukannya Nevan?" gumamku.
Aku mepet ke dinding rumah sakit yang berdekatan dengan tong sampah. Bau khas sampah pun menyeruak masuk ke dalam indera penciumanku. Ewh. Lagi-lagi, aku merasakan ada hawa dingin di belakang leherku.
Bulu kudukku meremang. Nevan semakin berjalan mendekat dimana aku ngumpet. Bahaya. Eh, sebenernya gak apa sih, toh Nevan doang. Baru saja aku akan menghampiri Nevan, hawa dingin itu semakin membuatku penasaran.
"Siapa, sih?" gumamku
Saat menoleh, aku memekik kaget dan mundur ke belakang hingga menabrak Nevan.
"Rena?" tanyanya kaget.
Ada yang aneh disini. Aku bisa memandang tubuhku yang berada di pangkuan Nevan. Mataku tertutup, seperti tidur. Aih, apa sekarang aku jadi sleeping beauty? Eh tapi aku 'kan gak beauty.
Sedangkan sesuatu yang membuatku kaget tadi hanya menatapku. Bagaimana aku tak kaget jika hantu pria itu memiliki wajah yang kulitnya mengelupas? Belum lagi kepalanya itu miring karena lehernya hampir putus. Darahnya meleber kemana-mana.
Agak serem sih, tapi dia malahan nyengir. Nyebelin.
"Rena? Bangun!" ucap Nevan seraya menepuk pipiku—pipi tubuhku.
"Nevan? Aku disini loh!" kataku seraya menggoyangkan tanganku di depan wajah Nevan. Tapi dia tidak menyadarainya. Nevan malahan fokus sama tubuhku. Tunggu. Itu tubuhku? Lalu?
Aku menunduk, menatap tanganku yang transparant. Ini aku? Keluar dari tubuh?