Cowok yang berada di hadapanku ini namanya Nevan. Eh, aku udah pernah bilang sebelumnya 'kan kalo dia itu Pembimbingku? Jadi dia ada disini dengan buku dan kacamata baca yang bertengger di hidung mancungnya itu untuk mengajariku.
Sebentar lagi Ujian Nasional. Artinya, setelah berhasil hidup di medan perang selama tiga tahun ini dan menang, aku akan kuliah. Apa aku akan mendapatkan teman disana? Entahlah, aku tak mau memikirkannya.
Tak. Aduh. Aku mengusap keningku yang dipukul lumayan keras oleh Nevan.
"Apaan sih?! Sakit, tau!" kataku kesal.
Nevan menaikkan sebelah alis. "Jangan bengong. Gue disini bukan buat liatin lo melakukan hal aneh."
Aku cemberut. Nevan bahkan ngatain aku aneh.
"Aku gak aneh! Yang aneh itu si Rossie, dia daritadi gelayutan aja di leher kamu, tuh. Gatau minta digendong apa minta diajak jalan-jalan," jelasku.
"Kakak aneh gak boleh ngatain aku aneh!" pekik Rossie dengan mata melotot dan merah.
Ih, aku udah kebal ya sama tatapan menyeramkan dia. Abisnya dia sering banget marah sih.
Mata Nevan mengerjap beberapa kali sebelum menoleh ke kanan dan kiri. Dia nyari Rossie ya? Gadis kecil yang berwajah pucat itu menatapku sebal, tapi saat sadar Nevan mencari keberadaan dirinya membuat bibir Rossie mengembangkan senyuman—oh enggak, seringaian seram.
"Kamu nyariin Rossie ya Nev? Kan aku udah bilang dia lagi gelayutan di leher kamu," kataku sebal.
Rossie aja dicariin. Aku yang di depan mata gak diperhatiin. Ini gak adil! Dunia kejam sekali, Tuhan! Aku menggerutu sebal lalu menggenggam pensilku dengan erat dan menuliskan kata-kata yang hanya kumengerti artinya.
"Lo nulis apaan, hah?" ujar Nevan.
"Aku mau santet Nevan biar bisa adil," bisikku—lebih pada diri sendiri.
"Emangnya gue gak adil gimana?" tanyanya lagi.
Aku menghentikan pergerakan menulis. "Kamu tuh nyariin Rossie aja daritadi tapi aku yang di depan mata gak diperhatiin! Hih!"
Nevan menghela napas, dia terlihat menahan tawa tapi wajahnya bingung.
"Rossie itu siapa?"
"Anak kecil yang meninggal karna kecelakaan mobil, tangannya putus setengah. Dia itu setan cilik yang rese, bawel, nyebelin tingkat dewa banget deh," aku curcol yess.
"KAKAK! Bisa gak sih baik-baikin aku di depan Kak Nevan?!"
"Aku gak mau bohong, tau!" jawabku sebal seraya memonyongkan bibir.
Rambut Rossie kini sudah naik ke atas, wajahnya menggeram kesal dan aura hitam terlihat mengelilingi kami. Bulu kudukku tiba-tiba meremang. Nevan apalagi, wajahnya sudah pucat. Dia sakit?
Rossie sih segala iseng, apaan kali itu tangannya ngelus-ngelus lengan Nevan? Emangnya si Nevan kucing? Mukanya Nevan juga tambah pucet. Matanya lirik sana lirik sini.
"Nevan sakit mata ya? Kok daritadi matanya gerak-gerak mulu sih?"
Nevan tiba-tiba membereskan peralatan tulis dan langsung bangkit sambil memeluk buku-bukunya. Lha? Dia mau kemana toh? Katanya mau ngajarin aku?
"Gue balik dulu."
Klik. Pintu ruang rawatpun tertutup rapat dari luar. Hadeh, aku ditinggal sama Rossie nih. Tatapanku terfokus pada Rossie yang sedang main dengan setan cowok seumurnya. Namanya Andy.
Aku bingung deh, Andy lepas kepala kok gampang banget. Aku nyoba ngikutin dia tapi gabisa loh. Leherku malahan sakit. Kata Rossie aku harus mati dulu biar kepalaku bisa lepas dari tubuh.
Andy keliatannya seneng banget. Cekikikan dengan kepala terlepas. Malahan terkadang kepalanya menggelinging ke bawah ranjangku. Trus mereka bakalan lomba siapa yang cepet ngambil bola—eh kepala maksudnya.
Ah, bodo amat. Aku mau tidur aja.
"Archy," jedaku. "Tunggu aku di rumah ya."
♥♥♥
"Jadi sekolahnya Kak Rena disini?"
Aku memutar bola mata dengan malas menanggapi pertanyaan Rossie. Entah kenapa bocah itu selalu saja mengikutiku kemanapun aku pergi. Sekarang aku sudah keluar dari rumah sakit, membawa dua bocah bersamaku. Rossie dan Andy.
"Aku bisa muterin mata juga loh, Kak Rena!" Andy nongol di hadapanku, kedua matanya sengaja dikeluarkan dan dia putar-putar di tangannya seperti di sirkus.
"Andy," jedaku, "awas deh. Hari ini aku mau perang besar, tau. Jangan ganggu."
Tiba-tiba dia menghentikan pergerakan. Tubuhnya berbalik arah dan melayang menembus pagar pembatas. Nah, ini dia bedanya Rossie sama Andy. Kalo si setan cewek itu sukanya marah kayak banteng, Andy bakalan mewek dan kabur.
"KAK RENA JAHAT!" teriak Rossie seraya mendorongku kuat hingga tersungkur.
"Aduh," ringisku. "Awas ya Rossie! Nanti aku gak bolehin masuk ke rumah!!!"
Teriakan serta tanganku yang mengepal ke udara membuat anak-anak menatapku aneh. Apa liat-liat? Mau aku kenalin sama Rossie? Apa Andy?
"Heh," suara Nevan membuatku menoleh.
"Apa?" aku segera memeluk Archy dan menatap Nevan dengan bingung. "Mau ambil Archy dari aku? Gak boleh!"
Aku parno sih. Abisnya hampir tiap pagi Pak Handoko, si satpam gondrong itu selalu mau ngambil Archy dari tanganku. Sama sih, semua guru juga gitu. Mereka gak pernah punya temen sejati yang gak bisa dipisahin apa ya?
"Bukan." Nevan menyentil keningku.
"Trus apa?" kataku sambil cemberut, tanganku mengusap jidat yang baru disentil. Sakit. Tubuhku menyingkir begitu melihat tangan terbang. Aduh itu tangannya siapa sih? Mau kemana pula?
"Hari ini Ujian Nasional," Nevan berdeham. "Lo gak bakalan boleh ikut ujian kalo bawa-bawa Archy ke ruangan."
"Yaaahh, trus nanti dia gimana? Kamu mangnya gak kasian kalo dia sendirian? Kasian tau," ujarku sambil mengusap kepala Archy dengan lembut.
Tanpa mempedulikanku, Nevan menarik kerah seragamku dengan asal. Dia menggiringku menuju ruang kelas. Aku hanya bisa menggerutu sebal karna selalu kena tangkep sama Nevan.
Kenapa Tuhan ada makhluk ganteng macem Nevan yang suka bertindak seenaknya?
♥♥♥
Kenapa si Lisa bisa santai ngerjain ujian ya, padahal 'kan ada cewek yang duduk tepat di hadapan dia dengan cengiran lebar. Mukanya itu loh, gak nahan. Serem abis, bo. Penuh darah gitu 'kan, ancur. Ih.
Kalo aku jadi Lisa sih, pasti udah kupukul-pukul muka cewek itu biar pergi.
"Kak Rena," panggil seseorang. "Psst."
Itu pasti si Rossie. Ah, biarin aja. Aku lagi berjuang untuk hidup nih. Tolong jangan diganggu, plis. Tapi ngeselinnya adalah kepala Andy yang tiba-tiba nongol di mejaku membuaku terlonjak.
"ANDY! KEPALA KAMU!!" teriakku kaget hingga terjungkal kebelakang.
Andy yang asli—ehm, maksudku Andy yang masih hidup langsung menoleh ke arahku. Keningnya berkerut dalam karna perkataanku. Astaga, kepala Andy kecil sekarang malahan berguling-guling dan nyengir lebar.
"Kenapa sama kepalanya Andy, Rena?" tanya pengawas.
Nevan yang duduknya tak jauh dariku menatapku dengan gelengan kepala. Dia membuka mulutnya dan berkata, "Aneh."
Aku cemberut. Ini nyebelin.
"Itu Bu, kepalanya Andy ada di meja saya," tunjukku.
Serempak, anak-anak langsung terdiam. Menatapku heran sampai suara Andy teman sekelasku membuyarkan keheningan.
"Kepala gue ada disini, Aneh!" ujarnya setengah kesal.
Aku cemberut karna mendapatkan tawaan dari teman-teman sekelas. Mereka gak tau sih gimana kagetnya aku liat kepalanya si Andy yang muncul tiba-tiba. Akhirnya aku bangkit dan kembali duduk mengerjakan soal.
"Kak Rena, nomer lima jawabannya D," bisik-bisik setan Rossie terdengar di telingaku.
"Nomer 15 isinya C, Kak," tambah Andy.
"Kak salah tuh, nomer 36 isinya B."
Kedua bocah cilik itu bolak balik ngintip jawaban Risma yang duduk di depanku. Aduh, kalo Risma jago perang sih aku gapapa mau aja jadi prajurit dia. Tapi 'kan dia sukanya ngejawab pake hati, sesuai feeling. Alias ngasal.
Kalo perang sesungguhnya sih yang sakit fisiknya. Lha ini, yang sakit malahan pikiran aku. Otak aku. Kasian kamu ya Tak, bekerja terlalu keras padahal baru bebas dari penderitaan di rumah sakit.
♥♥♥
"Archy! Aku kangen sama kamu!" ujarku senang.
Nevan membukakan pintu penjara Archy. Kasian dia, padahal 'kan gak punya salah apapun, tapi kenapa dia harus di penjara? Walaupun hanya beberapa jam, tapi aku turut berduka cita. Apalagi muka Archy galau banget.
"Meskipun penjara itu terbuat dari lapisan emas, kamu tetep gamau 'kan ya Chy?" kataku sambil meletakkannya di saku. "Enakan di saku aku ya Chy, anget."
"Itu bukan penjara, Rena. Sangkar burung," ujar Nevan dengan senyuman lembut.
"Tapi tetep aja itu penjara buat Archy," aku melangkah agar bisa bersisian dengan Nevan. "Emangnya kamu mau di masukin ke sana? Gamau 'kan? Ya 'kan?"
Nevan terkekeh. "Iyalah, gue gamau."
"Yauda berarti itu penjara. Titik," jedaku. "Ya, Chy?"
Seperti mengerti perkataanku, Archy mengangguk-anggukkan kepalanya dengan lucu. Aku terkikik geli melihatnya yang seperti itu. Tak lama kemudian, ada yang menarik-narik kakiku. Saat menunduk, ternyata ada ...
"SUSTER NGESOOT!" pekikku kaget.
Aku melompat ke tiang terdekat dan memeluknya erat. Semoga tu suster gak bisa ngedeketin aku deh. Tapi bukannya menjauh, dia malahan deket-deket dan berusaha menggapaiku. Astaga. Aku paling takut sama yang ngesot-ngesot kayak gini.
"Lo ngapain sih?" Nevan berkacak pinggang.
"Ada yang ngesot-ngesot," kataku horor.
Nevan mematung, penjara di tangannya dia genggam seerat mungkin. "Di—dimana?"
Keningku berkerut dalam melihat si setan yang berputar-putar di sekeliling Nevan. Mama! Aku mau pulang tapi gimana caranya? Kalo aja aku bisa terbang pasti bisa langsung kabur dari sini!
"Dia di bawah kamu, Nev, hueeee."
Bukannya kabur, Nevan justru berlari ke arahku dan langsung menarik tubuhku hingga terlepas dari tiang. Tangannya melingkar erat di pinggangku. Aku digeret lagi, namun sekarang dalam keadaan berlari.
"Nevan takut juga ya sama suster ngesot? Kita sama kalo gitu!" teriakku senang. "TOSS!!"
Bukannya menyambut uluran tanganku, Nevan malahan menggertakkan giginya dengan kesal. "Ini bukan waktunya buat toss!"
Aku hanya bisa tertawa melihat tingkah Nevan yang seperti itu. Dia kenapa sih? Lucu banget. Lagian ngapain lari segala? Si suster ngesot kan udah ketinggalan jauh, sekarang aja udah gak keliatan.
Lagian, ngapain coba tu suster ada di sekolahku? Rumah sakit dia kebakaran kali ya?