Delapan

781 Words
Datang bulan adalah halangan paling berat dalam hidup Sia. Sakit perut yang dialaminya selalu berhasil membuat tubuhnya lemah. Tapi hari ini, dipaksakannya bersekolah. Padahal sejak bangun dari tidurnya rasa sakit di dalam perutnya benar-benar menyerap energi dalam tubuhnya. "Pagi Si," sapa Maya sambil menjatuhkan bokongnya di bangku sebelah. Ketika yang disapa tak menjawab dengan posisinya yang tertelungkup di atas meja, Maya mencolek tubuh Sia. "Si, kenapa lo?" Perlahan Sia mengangkat wajahnya. Pucat tampak jelas di wajahnya. "Astaga Si! Lo sakit?" "Gue nggak sakit. Tapi datang bulan..." jawabnya lemah. "Yaelah Si. Udah tau lagi datang bulan kenapa lo masuk? Tau sendiri lo suka pingsan," omel Maya. Ia tahu dengan baik seperti apa kondisi Sia jika gadis itu datang bulan. Pernah sekali temannya itu memaksakan diri masuk sekolah dan berakhir pingsan. Sejak itu, Maya selalu memberitahukannya untuk diam di rumah pada hari pertama datang bulan. Anehnya hari ini Sia masuk sekolah setelah mengetahui kondisinya. "Nggak bisa, May. Gue udah janji untuk nggak repotin nyokap kali ini." Maya berdecak kesal. "Nyokap lo itu memang nyokap paling aneh." Maya melirik Sia yang kembali menjatuhkan kepalanya di atas meja. Dengan wajah menahan kesakitan. Bahkan peluh sebutir jagung terlihat jelas di keningnya. "Wajar sih, dia kan bukan nyokap kandung lo." Hening, tak ada jawaban dari bibir Sia. Sebaliknya gadis itu mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Mendengar kalimat terakhir Maya, membuat ingatan Sia kembali melayang pada masa lalu. Masa di mana semuanya baik-baik saja. Layaknya sebuah keluarga bahagia. *** Pandangan kedua mata bulat itu tertuju pada seorang perempuan dewasa yang cantik di depannya. Wajahnya cantik, ia bagaikan ibu peri di mata Sia. "Sia, mulai hari ini dia akan menjadi mamamu," kata Papa pada Sia yang masih berusia enam tahun. "Halo Siana, senang bertemu denganmu," sapa perempuan yang kata papanya akan menjadi mamanya mulai detik ini dengan senyum ramahnya. Sia mengalihkan pandangan matanya dan bertemu dengan manik cokelat milik papanya. Papa memberikan senyum hangatnya untuk meyakini Sia jika semuanya akan baik-baik saja. Ya...karena semuanya memang berjalan baik-baik saja. Mama barunya memang mama yang baik. Beliau ternyata telah memiliki dua anak. Satu anak laki-laki yang usianya tujuh tahun lebih tua dari Sia. Dan satunya lagi anak perempuan yang usianya lebih tua dua tahun darinya. Leo, namanya. Adalah kakak laki-laki yang baik. Dia seperti kakak yang selama ini selalu Sia idamkan. Selalu melindungi dan tersenyum hangat padanya. Berbeda dengan Lia, kakak perempuannya itu selalu memandangnya dengan wajah memusuhi. Padahal apa salah Sia? Sayangnya Leo mendapatkan pekerjaan di Kalimantan membuat Sia merasa kesepian. Terlebih setelah kepergian papa. Sia benar-benar merasa jika dirinya di dunia ini sendiri. *** "Siana!" Suara Ibu Nani bergema di telinga Sia. Perlahan ia membuka matanya dan menemukan wali kelasnya itu berdiri tegak di depan mejanya. Sambil menahan rasa sakit di perutnya, Sia berusaha menegakkan tubuhnya. "Kamu sakit?" tanya Ibu Nani dengan alis terangkat. "Sia sakit bu. Akibat kewajiban perempuan setiap bulannya," jawab Maya seolah-olah dia adalah juru bicara temannya itu. "Saya tidak tanya kamu. Memangnya Sia tidak punya mulut untuk menjawab pertanyaan saya?" balas Ibu Nani. Sepertinya gurunya ini juga sedang datang bulan. Lihat saja dari cara bicaranya yang sinis, membuat Maya mencibir. "Iya bu. Saya sedang datang bulan, tapi saya masih bisa menahannya kok," kata Sia lemah. Ibu Nani mendengus kesal. Ia paling tidak suka jika ada murid yang sakit di dalam pelajarannya. "Ya sudah, kalau begitu lebih baik kamu ke UKS." Sia terdiam. Untuk jalan saja sepertinya sulit. Kalau di suruh memilih, Sia lebih baik diam di kelasnya. "Baik bu." Sekuat tenaga, Sia bangkit dari duduknya. Ia tidak suka menjadi bahan tontonan teman-teman sekelasnya. "Saya antar Sia ya bu," celetuk Maya. "Tidak usah. Memangnya dia tidak bisa jalam sendiri?" Ibu Nani kembali melangkah ke depan kelas dan menepuk tangannya agar semua murid-muridnya kembali fokus padanya. "Dasar guru nggak waras. Orang sakit disuruh jalan sendiri," gumam Maya. "Lo yakin kuat Si? UKS di ujung lorong. Lo kuat?" Sudut bibir Sia yang pucat tertarik ke atas. "Gue kuat kok." Satu demi satu, Sia melangkahkan kakinya. Setelah berhasil keluar dari kelasnya, Sia berjalan pelan sambil menahan rasa sakit di dalam perutnya. Peluh kembali mengalir di sisi keningnya. Rasa dingin dan panas menjadi satu di dalam tubuhnya. Sungguh tidak nyaman. Andai boleh memilih, Sia ingin menjadi anak laki-laki yang bebas dari datang bulan. Mungkin mimpi basah lebih baik daripada datang bulan. Lorong yang sepi karena sebagian besar sedang belajar di dalam kelasnya membuat Sia sedikit merasa nyaman. Pelan-pelan ia melangkahkan kakinya, hingga ketika rasa sakit yang seakan meremas perutnya begitu terasa, tubuhnya melemah dan hendak jatuh ke lantai. Tapi untungnya sebuah tangan yang kokoh lebih dulu menahan tubuhnya. Dari balik kelopak matanya yang mulai menutup, Sia melihat sosok seorang laki-laki tapi sayangnya ia tidak dapat melihat wajahnya. Karena kegelapan lebih dahulu menyelimutinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD