Sembilan

977 Words
Perlahan kedua kelopak mata itu terbuka. Pandangan matanya menangkap langit-langit bercat putih. Ia memiringkan sedikit kepalanya dan detik itu juga matanya menangkap sosok laki-laki yang sedang berdiri dengan kedua tangan berada dalam kantung celana abu-abunya. "Bagaimana perasaanmu? Sudah baikan?" Sia memandang wajah laki-laki itu sebelum akhirnya berusaha bangkit dari posisi tidurnya. "Tiduran saja. Kenapa harus bangun?" "Gue cuma sakit bulanan. Bukan kanker," bantah Sia. Setelah berhasil duduk dengan bantuan laki-laki itu, Sia mengangkat wajah dan menatapnya. "Kenapa lo bisa berada di sini?" tanya Sia dingin. Tanpa diduga Melky menarik keluar sebelah tangannya dan menyentuh kening Sia. Membuat gadis itu sedikit terkejut atas tindakannya. "Benar. Kamu juga tidak demam," ujarnya pada diri sendiri. "A-apa yang sedang lo lakuin?" Perlakuan Melky yang seakan peduli padanya membuat Sia merasa tidak nyaman. Bahkan dulu saat mereka berpacaran, laki-laki itu tidak pernah peduli. "Gue cuma mengecek suhu tubuh lo. Takut banget sih sama gue?" tanyanya heran. "Kalau cowoknya model lo semua, gue wajib waspada." Kening Melky bertautan. "Memangnya gue seburuk itu ya di mata lo?" Sia menganggukkan kepalanya pelan. "Baru sadar?" Tiba-tiba Melky tertawa. "Lo memang menarik. Makanya gue mau kita balikan. Gue janji kali ini nggak bakal buat lo nangis." Hening sejenak. Sejujurnya Sia sudah tidak peduli lagi dengan Melky. Karena saat ini hatinya dipenuhi oleh William. Awalnya ia sempat berpikir jika Williamlah yang menolongnya. Tapi siapa sangka, Melky-lah yang telah menolongnya. "Siapa yang bantu lo bawa gue ke sini?" tanya Sia ragu. Melky memutuskan untuk duduk di tepi tempat tidur, dekat kaki Sia. "Nggak ada. Gue yang gendong lo sampai tempat tidur ini." Melky terdiam sebelum melanjutkan, "Sorry kalau jawaban gue mengecewakan lo. Apa lo berharap kali ini pangeran lo juga yang akan menolong lo lagi?" Sia membuang wajahnya. Dia tidak ingin Melky mengetahui perasaannya yang sebenarnya. "Tidak." Bibir Melky membentuk seringaian yang kemudian memasang wajah serius "Si, gue masih sayang sama lo. Jadi gue minta sama lo pertimbangin permintaan gue kali ini. Gue kasih lo waktu untuk memikirkannya." Ia bangkit dari duduknya. "Cepet sembuh, Si. Gue nggak suka lihat lo lemah begini. Gue lebih suka lihat lo beradu mulut sama gue." Perkataan Melky sukses membuat Sia menolehkan wajahnya dan bertemu dengan wajah laki-laki yang pernah menempati ruang di dalam hatinya. Senyum tipis Melky terukir jelas di sana. Perlahan ia bangkit lalu beranjak dari tempatnya menuju pintu dan menghilang ketika pintu UKS akhirnya tertutup. Sikap Melky kali ini benar-benar membuat hati Sia penuh tanda tanya. Haruskah ia mempercayai perkataan laki-laki itu? *** "Bisanya menyusahkan orang lain," sindir Lia saat mereka sedang sarapan pagi. Berita mengenai dirinya yang pingsan telah terdengar sampai telinga Lia. Alhasil hal itu membuat gadis cantik itu meradang. "Sudahlah Lia. Hentikan. Toh Sia memang sakit," kata Mama yang kemudian memandang Sia yang berada di seberang mejanya. "Kalau tahu kamu sakit, kenapa masih masuk sekolah? Mau cari perhatian?" Dalam diam Sia mengunyah roti selai kacangnya. Bukannya tuli, ia sudah terlalu biasa menghadapi hal ini yang pada akhirnya berhasil membuat Sia menelah kepahitannya seorang diri. Ditebalkannya telinga miliknya. Seakan hanya dengungan lebah yang sedang di dengarnya saat ini. "Mau sampai kapan kamu bertingkah seperti anak kecil Sia? Jika seperti ini terus sikap kamu, rasanya mama sudah tidak sanggup mengurus kamu. Lebih baik kamu tinggal dengan nenekmu saja di Bandung!" Sia meletakkan roti miliknya. Memandang mamanya dalam diam. "Aku tidak mau tinggal bersama nenek!" tolaknya. Lalu ia langsung meraih tasnya dan berjalan meninggalkan mama dan Lia. "Siana!" seru Mama. Namun sia-sia karena gadis itu terus berjalan tanpa berniat menoleh atau kembali duduk. "Mama terlalu lunak padanya," ujar Lia. Mama menarik nafas panjang. "Mama tidak tahu lagi harus bagaimana. Mama sudah lelah." "Jika tahu akan seperti ini, lebih baik sejak awal hak asuh Siana berikan saja kepada bibinya." "Tidak bisa begitu, Lia. Bagaimanapun papa Sia telah menerima kita apa adanya. Daripada ayah kandungmu sendiri." Kali ini ucapan Mama berhasil membuat Lia menutup bibirnya rapat-rapat. Karena ucapan mamanya benar. Dan Lia membenci kenyataan itu. *** Jam istirahat selalu menjadi waktu yang paling ditunggu para siswa-siswi di sekolah. Di mana mereka bisa bercengkerama dengan teman-teman terdekat mereka. Begitu juga dengan Sia dan Maya. Dengan semangkuk bakso yang sudah menggoda, keduanya siap menyantap bakso mereka. Sayangnya kedatangan Melky membuat bakso di atas sendok itu terdiam di udara dengan bibir mereka yang terbuka. "Hai, Si! Gi mana keadaan lo? Udah baikan?" Masih dengan bibir terbuka, Sia meringis melihat kedatangan Melky yang ikut duduk di meja mereka. Gadis itu meletakkan sendok berisi baksonya dan menarik nafas panjang. "Udah. Lo bisa liat sendirikan kondisi gue." Senyum lega menghiasi wajah Melky. "Syukur deh. Lo yang jutek begini lebih gue sukai." "Mel! Jadi nggak main basketnya?" tanya Jeffry dari kejauhan. "Okay!" balasnya. "Gue main dulu Si. Jangan sampe sakit lagi," lanjutnya lalu melemparkan senyum hangatnya sebelum bangkit berdiri dan menyusul temannya. Maya yang sejak tadi diam, memajukan tubuhnya dan berbisik. "Yang tadi itu beneran si Melky?" "Hah?" "Kok sikapnya beda banget. Kayak bukan dia," gumam Maya. "Yang tadi itu memang bukan Melky," ucap Sia. "Hah? Terus siapa dong?" "Rohnya!" seru Sia yang langsung dibalas tawa Maya. "Udah ah! Nggak usah dipeduliin. Ayo makan, kasian bakso gue udah ngeliatin gue dari tadi. Ngarep minta dimakan." "Najong lo! Bilang aja udah laper!" Mereka tertawa bersama dan langsung memakan bakso mereka diselingi obrolan ringan. Rasanya Sia lebih nyaman berada di sekolah dari pada di rumahnya sendiri yang lebih pantas disebut neraka dari pada rumah. Dari kejauhan sepasang mata cokelat memandang Sia dengan emosi yang teraduk-aduk. Awalnya kedatangan laki-laki itu sempat membuat William kesal, namun melihat tawa Sia, hati William seketika menghangat. Senyum yang terlukis di bibir itu akhir-akhir ini membuat William ingin terus mempertahankannya. Sungguh, ia tidak ingin melihat kesedihan di wajah Sia sama seperti kesedihan yang dilihatnya di bawah guyuran hujan saat itu. Dan William akan terus berusaha mempertahankan senyum gadis itu. Karena sepertinya ia mulai menyadari perasannya terhadap Sia. Perasaan sayang yang tumbuh tanpa diminta oleh pemilik hatinya sendiri. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD