Tawa besar Lia memenuhi ruangan kamar Sia, membuat Mama berteriak dari luar untuk mengecilkan volume suara Lia yang stereo. Dengan sebal Sia berdecak kesal sambil menatap Lia yang masih memegangi perutnya yang terasa sakit akibat tertawa. "Hentikan tawamu itu! Memalukan. Seharusnya aku tidak cerita padamu," gerutu Sia. "Maaf, maaf. Habis ceritamu lucu. Kalian lebih mirip anak TK dari pada anak SMA," katanya disela-sela tawanya. Sia menghembuskan nafasnya. Dari bagian mana coba kami tampak seperti anak TK? Lia saja yang aneh, batinnya. "Lebih baik kamu jawab aku. Apa memang benar ucapanmu saat itu ada kelanjutannya?"tanya Sia penasaran. Tidak ingatkah Lia dengan pepatah jika rasa penasaran dapat membunuhmu. Itulah yang sedang dirasakan Sia saat ini. "Umm..." Lia tampak berpikir. "Kasi

