Tatapan Jack pada Vanisya

1125 Words
" Paman. " panggil Vanisya mendekati Pamannya. " Vanisya, kemas barang-barang mu sekarang juga. Kita akan pergi dari sini." ulUcap Mike dengan sedih. "Paman, ini rumah kakek satu-satunya. " Ucap Vanisya dengan sedih dan mata berair. Tanpa Vanisya sadari, Jack yang sedang duduk di sofa sedang menatapnya dengan sangat dalam ke arahnya. " Kenapa Tuan menatap gadis itu dengan tatapan yang berbeda.?" Tapi gadis ini memang tidak asing, dimana aku pernah melihat nya. " Batin David yang sedang berdiri di samping Tuannya itu. Vanisya yang saat itu memegang sebuah amplop besar di tangannya berjalan mendekati Jack yang sedang duduk di sofa. Dengan memberanikan diri, ia mulai membuka suara secara berhati-hati. Karena ia tahu, jika ia salah bicara maka akan fatal akibatnya. " Tuan, apa bisa jangan mengambil rumah ini ? Karena rumah ini, rumah satu-satunya Kakek ku yang di berikan kepada, Paman " ucap Vanisya dengan suara pelan. Jack tidak menjawab, dia hanya menatap dalam ke arah gadis yang sedang berdiri di depannya itu. Tatapan Jack membuat Vanisya sedikit ketakutan, tetapi David yang melihat tatapan atasannya merasa aneh. Bukan tatapan dingin seperti biasanya, malah tatapan penuh perasaan terhadap gadis itu. Jenny dan Mike yang melihat Jack diam seribu bahasa membuat mereka ketakutan, karena ia takut kalau Vanisya sampai menyinggung pria itu. " Tuan, ini aku tahu kalau tidak seberapa, tetapi ini adalah satu-satunya peninggalan Papa ku, aku berharap Tuan bisa menerimanya sebagai ganti rumah Kakek ku ini. " Ucap Vanisya dengan menggunakan kedua tangannya untuk menyerahkan dokumen ke arah Jack dengan sopan. Jack lagi-lagi tidak menjawab perkataan gadis itu, ia hanya menatap tanpa beralih tatapannya. David mengambil dokumen itu dari tangan Vanisya dan melihat-lihat isi dari dokumen itu. " Nona, apakah anda ingin merendahkan Tuan kami dengan rumah usang seperti ini.? " Bentak David dengan kesal menatap Vansiya. Mendengar hinaan David, membuat Vanisya tidak dapat menahan air matanya sehingga pipinya di penuhi dengan air mata. Karena rumah itu lah satu-satunya kenangan dari Papa nya, dan ia rela menukarkan rumah Papa nya itu dengan rumah Kakek nya ini. " Tapi aku tidak bermaksud untuk merendahkan Tuan Jack, aku hanya berharap agar Tuan bisa menunda dan memberikan kami waktu untuk melunasi hutang. " Jelas Vanisya dengan menatap Jack dengan wajahnya yang sudah di basahi dengan air matanya. Jack yang melihat air mata gadis itu merasa hatinya sangat perih, kemudian ia berdiri lalu mendekati Vanisya. " Siapa, namamu ? " tanya Jack yang sedang berhadapan dengan gadis itu.. " Namaku, Vanisya Shin " jawab Vanisya dengan suara serak. Karena tatapan Jack pada Vanisya, membuat Jenny takut kalau emosi pria itu akan meledak. Ia kemudian mengenggam dengan kuat tangan Vanisya lalu berdiri di sampingnya. " Maaf, Tuan. Adikku masih terlalu muda, dia tidak mengerti apa-apa, aku akan menegurnya nanti. " Ujar Jenny menatap Jack sambil menunduk. Dia takut jika Jack tersinggung, maka mereka tidak akan sanggup menghadapinya. " Tuan. Maaf, Vanisya adalah keponakanku, dia tidak tahu apa-apa. " Lanjut Mike dnegan gemeteran. Vanisya yang menahan sakit akibat lengannya di genggam erat oleh kakaknya, sehingga membuat Jack bisa melihatnya dengan jelas dan merasa kesal. " Aku bukan bicara pada kalian. " Bentak Jack kesal dengan menatap Jenny. " Tuan. " Ucap Jenny dengan ketakutan. " Jenny Shin, Tuan kami tidak lagi berbicara dengan anda. " Bentak David dengan kesal melihat wanita itu. " Aku hanya ingin meminta maaf, Tuan " Jawab Jenny dengan suara pelan. Karena kekesalan Jack pada Jenny karena mengenggam kuat lengan Vanisya, Jack pun menghempaskan Jenny ke lantai. Bruk... " Aarrgghh... " Teriak Jenny karena kesakitan. Melihat situasi ini, membuat Vanisya dan Mike menjadi ketakutan. " Vanisya Shin, " panggil Jack dengan lembut. " Iya. " Jawab Vanisya dengan sopan. " Apa kamu tahu, jika aku menerima tawaranmu itu maka kamu akan kehilangannya.? " Ujar Jack dengan menunjukkan dokumen surat rumah Vanisya. " Iya, Tuan. Aku tahu " " Baiklah, aku terimah rumah ini. Akan tetapi, hutang Mike Shin belum lunas. Jika tidak menepati waktu di saat itu, aku akan tetap mengambil alih semua milik keluarga Shin. " Ujar Jack dengan suara lembut dan menatap gadis yang ada di depannya. " Baik, Tuan. Terimakasih " ucap Vanisya dengan menunduk. David, Mike dan Jenny merasa heran dengan reaksi yang di berikan Jack pada Vanisya. Tidak biasanya ia lembut pada orang lain. " Mike Shin, dengar baik-baik. Aku memberimu waktu selama dua bulan, jika sampai waktu itu kamu tidak bisa melunasi hutang mu, maka aku akan mengambil alih semua milikmu. " Ancam Jack dengan tatapan tajam ke arah Mike Shin. " Baik, Tuan. Terimakasih sudah memberikan kami kelonggaran ini. " Ucap Mike dengan menunduk. Saat Jack ingin beranjak pergi, Jack menatap Vanisya dengan cukup lama. Sehingga membuat gadis itu ketakutan, David lagi-lagi di buat heran dengan reaksi Tuannya itu. Tatapan Jack pada Vanisya membuat Jenny merasa iri. Sesaat kemudian, Jack pun pergi meninggalkan rumah itu. " Kenapa Tuan Jack menatapku terus? Apa dia marah dengan tawaranku ya." Batin Vanisya dengan heran. " Jenny, apa kamu tidak apa-apa.? " Tanya Mike pada Jenny yang tadinya di hempaskan oleh Jack kelantai, sehingga membuat lengannya memar. " Pa, aku tidak apa-apa. " Jawab Jenny dengan kesal menatap ke arah Vanisya. " Vanisya, itu adalah rumah Papamu, kenapa kamu memberikannya pada Tuan Anderson.? " Tanya Mike dengan mendekati Vanisya. " Tidak apa-apa Paman, asal tetap bisa tinggal disini itu sudah cukup. Ini adalah peninggalan Kakek untuk Paman. " Jawab Vanisya dengan polos yang belum mengetahui sifat asli Pamannya itu. " Maaf, Paman bersalah padamu. " " Paman, jangan berkata seperti itu. Kita adalah keluarga. " " Terimakasih, Vanisya " " Jangan mengatakan seperti itu, Paman " Sesaat kemudian, Vanisya pun naik keatas menuju ke kamarnya. Mike dan Jenny masih di ruangan tersebut. " Pa. Aneh, kenapa Tuan Anderson menatap lain pada gadis bodoh itu? Sedangkan aku yang memohon padanya, dia malah mengabaikan aku. Padahal aku lebih cantik dari gadis bodoh itu. " Ujar Jenny dengan kesal, dia tidak memberitahu Papannya jika ia telah melayani 5 pria atas paksaan Jack. " Biarkan saja, jika Jack Anderson perhatian padanya itu bagus. Jika menarik perhatian darinya, yang ada hanya mati tidak ada kata hidup. Bisa saja tadi Jack Anderson sudah tersinggung dengan gadis bodoh itu, pria itu tidak akan tertarik pada wanita manapun. Jadi dia tidak mungkin menyukai hadis bodoh itu, yang ada dia hanya akan mematikan orang yang telah membuat nya tersinggung. " Ucap Mike dengan senyum sinis. " Pa, jika bisa menyingkirkan gadis bodoh itu bagus juga, bagaimana jika aku menggunakan carakuuntuk mendapatkan uang lewat gadis bodoh itu.? " " Apa kamu ingin.? " Tanya Mike yang mengerti maksud Jenny. " Benar, walaupun gadis itu sudah pacaran dengan Jason selama empat tahun, akan tetapi Jason belum pernah menyentuhnya maka dia masih perawan dan harga nya pasti tinggi. " Ujar Jenny dengan senyum sinis. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD