Polisi Ganteng Tapi Menyebalkan

1266 Words
Seminggu kemudian, Sonya datang kembali. Kali ini dia tidak bertemu dengan Jin Min. Pria itu sudah meninggalkan kantor ini. Sonya tidak menyerah, dia mencari Jin Min ke kantor pusat. Setelah mendapatkan informasi dari rekan Jin Min, Sonya datang ke kantor pusat itu. Namun, dia menunggu Jin Min di lobi. Kantor pusat begitu luas, Sonya tidak mungkin memasuki semua ruangan untuk mencari Jin Min. Terlebih lagi rekan polisi Jin Min tidak memberitahu secara jelas keberadaan Jin Min di kantor pusat. Setelah menunggu 3 jam lebih, tidak mengenal rasa lelah, Sonya akhirnya melihat Jin Min akan memasuki kantor. "Paman?" Panggil Sonya sedikit tegas. Semula Sonya duduk, langsung berdiri tegak sembari mengejar Jin Min yang sedang tergesa-gesa masuk ke dalam. "Tunggu dulu, berhenti." Sonya mendapatkan ujung jaket bagian bawah milik Jin Min, menahannya agar tidak segera masuk. "Kamu lagi, anak kecil?" Jin Min terkejut menemukan Sonya di tempat ini. "Dimana seragam polisi, Paman?" Sonya menaikkan sebelah alis. "Kamu dipecat kah dari kepolisian?" Jin Min tersenyum sinis, lalu membuang tangan Sonya secara lembut. "Dengar, ya! Aku masih bekerja di tempat ini. Dan aku sekarang sedang sibuk." "Paman masih berhutang padaku." Sonya setengah berteriak. Sebagian orang yang ada di sekitar mereka berdua, menatap curiga. "Hentikan. Orang-orang akan berpikiran macam-macam." Jin Min membekap mulut Sonya sebelum dia berbuat onar. "Aduh." Jin Min melenguh setelah Sonya menggigit salah satu jari tangan. "Aku akan membuat Paman malu." Sonya sedikit mengancam. Sikap gila mungkin tak lama lagi akan keluar. "Bagaimana laporanku tentang Kang Joon? Bagaimana kelanjutannya?" "Aku tidak ada urusannya dengan itu." Jin Min berbisik sambil mengelus jarinya. Wajahnya mulai tidak suka dengan Sonya. "Dan kita juga tidak ada urusan sama sekali." Jin Min memutar tubuh, tapi kepalanya kembali menoleh ke arah belakang. "Jangan macam-macam denganku, apalagi kamu seorang anak kecil berani mengancam seorang polisi, paham?" Sejurus kemudian, Jin Min berjalan lurus. Jarak mereka belum jauh, tapi Jin Min mampu mendengar suara tangis Sonya. Ah, sial. Sonya menangis sekencang-kencangnya. Kedua tangan ia silangkan di depan d**a. Beberapa orang mulai mendekati Sonya dengan tatapan kasihan. "Ada apa denganmu?" Tanya seorang petugas polisi yang mendekati Sonya. Sonya menggelengkan kepala, tanpa berhenti menangis. Lalu, dia mengarahkan telunjuk tepat ke Jin Min yang sedang menatapnya dari jauh. Petugas polisi yang mengenakan seragam kepolisian itu mengikuti petunjuk jari Sonya. Dia terkejut, bahwa Jin Min-lah yang membuatnya menangis. "Petugas itu?" Tanyanya penuh tanda tanya. "Dia yang membuatmu menangis? Dia sudah melakukan apa padamu?" Jin Min mengepalkan kedua tangan seraya mendekati Sonya. Dalam hati Sonya, dia tersenyum puas melihat Jin Min kalah. "Hei! Aku sudah bilang, kasusmu itu bukan urusanku." Jin Min membentak Sonya. Hal itu membuat petugas polisi yang membantu Sonya itu terkejut. Karena pangkat mereka sama, jadi petugas polisi yang bernama Yoo Min mulai memarahi Jin Min. "Kenapa kamu tidak membantunya saja?" "Aku dari unit kriminal, bukan orang hilang!" Jin Min menunjukkan kartu tanda pengenal pada Yoo Min, lalu mengarahkannya tepat di depan mata Sonya. "Itu bukan tugasku. Aku masih ada pekerjaan yang lebih penting daripada mencari orang hilang." "Tapi Paman sudah berjanji mau membantuku." Sonya merengek. "Dia itu menghilang dari hidupmu saja. Dia melakukan itu karena tidak tahan dengan sikapmu." Jin Min terlalu jujur. Semakin membuat tangis Sonya kencang. "Hei, jangan keterlaluan sama anak kecil." Yoo Min mengusap punggung Sonya. "Aku tidak peduli. Lebih baik kamu pulang ke rumah. Ayahmu sudah menunggu disana." "Aku tidak punya Ayah." Sahut Sonya ditengah tangisnya. Jin Min menghela napas panjang. "Ingat, kita sudah tidak ada urusan lagi, paham." Kalimat itu menjadi sebuah kalimat perpisahan Sonya dan Jin Min hari ini. *** Sonya berjalan tanpa fokus. Kedua bola matanya menatap nanar jalan di hadapannya. Hampir kabur pengelihatannya. Tak lama kemudian, Sonya dikejutkan dengan kehadiran hantu berseragam pabrik menghadang jalannya. Refleks, Sonya terkejut. Dia mengelus d**a berulang kali. "Aku bisa membantumu untuk mencari tahu keberadaan Kang Joon." Bisik hantu bernama Min Shi itu. "Polisi bernama Jin Min itu sedang mengungkapkan kematianku, dia sedang mencari tubuhku tapi belum ditemukan." Sonya yang semula tidak peduli dengan para hantu yang mengajaknya bicara, kali ini mulai tertarik. Gadis itu menatap Min Shi tanpa berkedip. "Benarkah?" "Tugasmu memberitahu keberadaan jasad tubuhku pada Jin Min. Lalu, kamu meminta Jin Min untuk menyelesaikan kasusmu. Bukahkah itu adil?" Min Shi tersenyum puas. "Aku ingin pergi ke atas dengan tenang, bertemu anak-anakku." Suara Min Shi melemah. Kepalanya tertunduk karena mengingat anak-anaknya yang sudah pergi duluan ke atas sana. "Apakah kamu korban pembunuhan?" Tanya Sonya penasaran. "Ya." Min Shi mengangguk. "Suami dan selingkuhannya yang membunuhku. Mereka melakukan itu agar bisa hidup bahagia tanpa gangguan dari aku." "Baiklah." Sonya bersemangat. Mengepalkan kedua tangan, mengangkatnya di depan wajah. "Aku akan membantumu. Aku berjanji." "Terima kasih, Nak. Padahal kamu terkenal tidak mau membantu para hantu untuk membalaskan dendam mereka. Kenapa kamu mau membantuku?" "Entahlah." Sonya mengedikkan bahu. Dia sendiri juga tidak tahu alasan tepat untuk melakukan semua itu. Apa mungkin dia ingin segera menemukan Kang Joon? "Kenapa kamu tidak meminta tolong para hantu untuk mencari Kang Joon?" Ide bagus. Itu sudah dipikirkan Sonya jauh-jauh hari. "Aku tidak mau ketergantungan pada mereka. Aku harus memanfaatkan tenaga manusia. Sama seperti yang sedang kamu lakukan sekarang, memanfaatkanku." Sonya mengulum senyum. Membuat Min Shi tersenyum. "Ya, anggap saja kita saling memanfaatkan." Mereka berdua tertawa lepas. *** Sonya melakukan hal sama, seperti yang ia lakukan beberapa hari yang lalu. Duduk di depan kantor polisi sembari menunggu kemunculan Jin Min. Hal yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Jin Min sedang keluar dari kantor, mengenakan celana jeans dan kaus hitam. Dia mencengkram jaket kulit di tangannya. Dari pengelihatan Sonya, Jin Min sedang terburu-buru. "Hei, Paman?" Teriak Sonya. Berhasil mengejutkan Jin Min entah sudah berapa kali. "Apa kamu sedang mencari jasad Bibi bernama Min Shi?" "Hah?" Jin Min ikut berteriak seraya menghentikan langkah. "Jangan macam-macam kamu ya anak kecil!" Jin Min mengancam setelah mendekati Sonya. "Apa kamu menguntitku? Mencari tahu semua yang aku lakukan?" Sonya menggelengkan kepala sambil senyum menggoda. "Tidak. Daripada aku membuntuti Paman kemanapun pergi, mending aku mencari tahu keberadaan Kang Joon." Jin Min mengangguk paham, dan percaya pada kalimat Sonya. "Aku akan memberitahu keberadaan Bibi Min Shi," Sonya menaikkan sebelah alis. "Tapi ada satu syarat." "Jangan mempermainkan aku." Ancam Jin Min. "Aku tidak akan percaya pada anak kecil." "Ayolah, Paman. Kasihan Bibi, dia pasti ingin segera naik ke atas sana. Paman harus segera menemukan jasadnya." Sonya sedikit memohon. Wajahnya memelas, berharap Jin Min mengabulkan permintaannya. "Kamu darimana mendapatkan informasi mengenai Min Shi?" "Dia ada disini." Sonya menunjuk Min Shi yang berdiri sejajar dengannya. "Hei, kenapa sih kamu sering mempermainkan aku? Apa kamu ingin dijebloskan ke penjara?" "Park Do San." Bisik Min Shi pada Sonya. "Itu nama suamiku. "Park Do San?" Ucapan itu membuat Jin Min melotot, hampir saja bola matanya keluar. "Suami Bibi Min Shi." "Apa perlu aku menyebutkan nama anak-anaknya? Aku bisa bertanya langsung pada Bibi." Canda Sonya. Namun Jin Min semakin marah karena merasa dipermainkan oleh Sonya. "Hentikan." Amarah Jin Min meledak. Wajahnya menyeramkan, mengalahkan Min Shi. "Kamu pasti memiliki orang dalam untuk mencari tahu tentang aku, kan?" "Paman terlalu percaya diri." Sonya tersenyum licik. "Dari pada aku mencari tahu informasi tentang Paman, lebih baik aku mencari tahu keberadaan Kang Joon." Jin Min menghela napas panjang kesekian kali. Semua ucapan Sonya benar. Tapi dia tidak percaya akan hantu. "Hentikan kekonyolanmu. Sekarang kamu pergi." "Tapi Paman menyimpan nomorku kan? Hubungi aku secepatnya." "Hei!" Jin Min berteriak sembari mendorong tubuh Sonya dengan lembut. "Pergi sekarang." Jemari Jin Min memijat pelipis, sorot matanya fokus pada tubuh Sonya yang sebentar lagi menghilang dari pandangannya. Tidak mungkin Jin Min mempercayai seorang anak SMA. Apalagi ini menyangkut pekerjaan. Mana mungkin seorang polisi percaya hal mistis seperti ini. Jin Min menghela napas secara kasar sebelum akhirnya masuk ke dalam kantor.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD