Hilang di Telan Bumi

1138 Words
"Aku kekasih Sunbae." Jawab singkat Sonya berhasil membuat Ha Na mendelik tajam. Ha Na hampir berteriak tapi berhasil mengendalikan diri. "Belum lama aku meminta Sunbae untuk jadi kekasih aku." "Hei!" Ha Na setengah berteriak. Tidak terima dengan sikap Sonya yang menembak Kang Joon lebih dulu. "Kamu benar-benar gadis gila dan tidak punya harga diri." "Tapi dia menyukaiku." Sahut Sonya dengan singkat. Dia tersenyum puas. "Hanya dia yang memberiku perhatian. Hanya dia yang peduli dan mengalah denganku." "Aku tidak peduli." Ha Na acuh, hendak memutar tubuh tapi tangan Sonya menahan bahu Ha Na, mencengkramnya dengan erat. "Aku pegang ucapanmu barusan." Ha Na terdiam. "Aku tidak mengizinkanmu untuk mengganggu Sunbae apapun itu." Perintah Sonya dengan nada serius. "Awas saja kalau sampai kamu mencari perhatian atau mengganggunya." "Punya hak apa kamu Sonya? Kamu tidak membeli hidup Kang Joon. Dia berhak menemui siapa saja termasuk menemuiku." Protes Ha Na, memajukan langkah kaki. "Aku kekasihnya. Apa perlu aku mengingatkanmu setiap detik kalau aku kekasih Sunbae!" Sonya menaikkan sebelah alis. "Terserah." Ha Na tidak peduli, mengabaikan ancaman Sonya yang menurutnya kekanak-kanakan. Dia tetap akan menemui Kang Joon apapun yang terjadi, lagipula mereka hanya sebatas sepasang kekasih, belum menikah. Jadi Ha Na masih bisa melakukan yang dia inginkan. *** Sonya tidak bersemangat. Sudah seminggu dia belum mendapat kabar dari Kang Joon. Tentu saja dia merasa galau. Sonya duduk dengan wajah tenggelam di atas meja, menutupi wajahnya agar bisa tertidur di jam istirahat. Sayangnya, sebuah suara membangunkan dia di tengah tidur yang sedikit lagi akan pulas. Ha Na penuh semangat membangunkan Sonya, menggoyangkan lengan gadis itu berulang kali. "Ada apa? Kenapa membangunkanku?" Tanya Sonya, melemparkan tatapan tidak suka pada Ha Na. "Kamu tidak lihat aku sedang tidur, hm?" "Lihat ini." Ha Na melemparkan beberapa lembar foto ke arah Sonya. Potret Ha Na dan Kang Joon sedang berdiri dan saling bertatapan. Entah apa yang sedang mereka obrolkan. Sengaja Ha Na melakukan ini karena dia tidak tahan dengan ancaman Sonya. Menyuruhnya untuk menjauhi Kang Joon. Dan foto yang diberikan kepada Sonya hanya foto lama, sebelum Kang Joon mengenal Sonya lebih dekat. Sonya mendengus kesal. Meraih lembaran foto itu, membuangnya ke lantai. Beberapa orang di sekitar melirik foto itu. "Foto kapan ini?" Sonya menegakkan tubuh, mendekatkan diri ke arah Ha Na. "Kamu sengaja memancingku?" "Bisa jadi. Tapi aku belum lama bertemu dengannya. Mungkin tadi malam aku menemuinya dirumah Oppa." "Oppa?" Sonya mendelik tajam, tidak terima kekasihnya dipanggilan sebutan itu. "Hei... Dia tidak menyukaimu. Dia milikku. Kamu tidak ada hak menemuinya." "Aku hanya berteman dengan dia. Dia tidak keberatan aku memanggilnya dengan sebutan itu." Ha Na menaikkan sudut bibir. "Dimana rumah dia? Cepat beritahu aku " Sonya memaksa. "Loh, katanya kalian berpacaran. Kenapa kamu tidak tahu alamat rumah dia?" Ha Na tertawa lepas. Tertawa karena kebohongan yang ia lakukan pada Sonya. Dan gadis itu hanya diam saja dibohongi. Sangat polos. "Sonya... Sonya?" Son Ju menelusuri isi kelas Sonya, mencari keberadaan Sonya. Sorot matanya berhenti ke sudut ruangan. "Aku sudah dapat kabar tentang Kang Joon." "Dimana dia sekarang, bagaimana kabarnya?" Tanya Sonya, mendekati adik yang rupawan itu. "Kenapa dia menghilang?" "Mmm... Kemarilah," Pinta Son Ju. Wajahnya tidak menyenangkan sama sekali. "Teman dekat Hyung bilang terakhir bertemu dengan Hyung saat akan pergi ke rumah kita. Dia meminjam uang untuk membeli bunga dan cokelat." Sonya diam beberapa detik. Ternyata Kang Joon akan menemuinya. Mendatangi rumahnya, bahkan dia membawa bunga dan cokelat. Tapi kenapa Kang Joon menghilang sampai sekarang? "Ayo kita pergi ke rumahnya sekarang." Sonya memelas, berharap Son Ju akan menemaninya pergi. Kemudian, Son Ju menggelengkan kepala perlahan. "Tidak ada yang tahu rumah dia." Jawab Son Ju tampak pasrah. "Semoga saja dia baik-baik saja. "Jadi Oppa benar-benar menghilang?" Tanya Ha Na yang mendengarkan pembicaraan mereka berdua sejak tadi. "Dia menghilang karena akan menemuimu? Hei! Kamu harus bertanggung jawab!" Ha Na mendorong bahu Sonya namun Son Ju segera melindungi Sonya. Dia berdiri di depan Sonya agar Ha Na tidak menyakitinya, lagi. Sonya mengabaikan Ha Na. Dia menunduk sedih, bingung harus berbuat apa. Keberadaan Kang Joon membuat Sonya sangat khawatir, apalagi dia tidak memiliki keluarga. *** Sonya memilih melaporkan hilangnya Kang Joon ke polisi. Perasaannya tidak tenang selama 2 minggu lebih. Dia harus mencari keberadaan Kang Joon dibantu oleh kepolisian setempat. Seorang polisi berpostur tinggi dan berkulit putih, wajahnya sangat tampan seperti artis sedang berdiri di depan kantor sembari menghisap putung rokok. Asap rokok mengepul di udara, sorot matanya fokus ke atas tanpa memperhatikan kehadiran Sonya di dekatnya. Sonya berdeham. Senyum tipis yang ia buat dengan terpaksa, sepertinya sia-sia. Polisi bernama Jin Min itu masih fokus menatap ke udara, bibirnya menikmati setiap hisapan yang menggairahkan itu. "Selamat malam," Sonya masih memasang senyum. Berusaha bersikap manis. "Saya ingin membuat laporan orang hilang." "Hah?" Jin Min terkejut melihat seorang gadis berdiri di depannya dengan seragam sekolah masih membalut tubuh. "Orang hilang? Apa dia masih keluargamu?" Nada bicara Jin Min tidak ramah sebagai seorang petugas polisi. Seakan kehadiran Sonya mengganggunya. Wajahnya bahkan menampakkan ketidaksukaan. "Dia kekasihku, Paman. Aku sudah lama tidak mendapat kabar darinya." Sahut Sonya. Nada bicara ia buat lembut, agar Jin Min mau membantunya. Mendengar penjelasan Sonya, Jin Min tertawa terbahak-bahak. Dia lalu membuang putung rokok ke tempat sampah, samping dia berdiri. "Dia sudah punya kekasih baru, jadi kamu tidak perlu mencarinya." Jin Min menggelengkan kepala, masih tertawa puas mendapatkan keluhan dari seorang gadis. "Sebaiknya kamu pulang ya adik kecil. Ini sudah malam." "Aku bukan anak kecil. Aku sudah besar." Protes Sonya, menyingkirkan tangan Jin Min yang mendarat di kepala Sonya dengan kasar. "Kalau Paman mengabaikan laporanku, aku akan mengadu ke media tentang tanggapan polisi yang mengabaikan keluhan masyarakat." Jin Min menghentikan tawa. Lalu dia menganggukkan kepala, bersedia menuruti keinginan Sonya. "Baiklah, ayo ikut Paman." Sonya tersenyum, lagi. Setelah dia menampakkan kekecewaan pada Jin Min. Dia mengikuti langkah Jin Min ke dalam kantor. Jin Min meminta Sonya duduk di depannya, sedangkan pria itu fokus di depan komputer seraya memberikan pertanyaan-pertanyaan pada Sonya. Bahkan, Sonya memberitahu kapan terakhir kali Kang Joon berada, yaitu di rumah temannya. Setelah itu, dia tidak ada kabar lagi. "Kalau ada kabar tentang Kang Joon, aku akan mengabarimu secepatnya." Jin Min melemparkan senyuman ke arah Sonya, bahkan wajahnya begitu meyakinkan. Senyuman itu mampu membuat Sonya percaya kalau Jin Min akan membantunya. "Baik! Terima kasih, Paman." Sonya menegakkan tubuh, lalu setengah membungkuk seraya mengucapkan terima kasih. "Aku pergi dulu." Jin Min hanya mengangguk, tidak mengeluarkan suara untuk perpisahannya dengan Sonya. Dia berharap gadis itu tidak muncul lagi di tempat ini. Dan, Jin Min tidak akan mengerjakan kasus yang dilaporkan Sonya barusan. Tentu saja tidak ia kerjakan karena itu bukan tanggung jawabnya bahkan tugas dia bukan untuk mencari orang hilang. Unit yang ditangani Jin Min adalah bagian kriminalitas. Dia berada disini hanya sementara, dan setelah hukuman yang diberikan Ayahnya dicabut, dia akan kembali bekerja di kantor pusat. Jin Min membolos selama seminggu, tidak bekerja. Karena hal itu, dia mendapat hukuman, dipindahkan di kantor kecil ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD