"Oh, jadi ini yang kamu lakukan saat tidak ada Ibu di rumah, hah?" Suara Ibu berhasil memisahkan tubuh Sonya dan Kang Joon hingga berjauhan.
Meskipun nada bicara Ibu sangat tinggi dan diselimuti emosi, Sonya bersikap biasa saja. Hanya kedua alisnya saja yang bergerak, saling bertaut. "Kenapa Ibu sudah mati? Apa Ibu mengalami kecelakaan atau sakit secara mendadak?" Pertanyaan itu polos, keluar begitu saja dari mulut Sonya
"Kurang ajar!" Ibu semakin tidak bisa mengendalikan diri. Secepat kilat, Ibu sudah berhasil membuat tubuh Sonya berdiri tegak dengan satu tarikan tangan saja. Tangannya menjambak rambut Sonya dengan kencang.
Sonya menjerit kesakitan, sembari berusaha melepaskan tangan Ibu yang tak kunjung terlepas. "Ah, Ibu masih hidup?" Ucap Sonya setelah mendekatkan wajah pada wajah Ibu. Dia melihat aliran darah mengalir di wajah Ibu.
"Aku pikir Ibu sudah meninggal." Lanjut Sonya.
"Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?" Tanya Ibu berusaha tenang. Akhirnya dia melepas tarikan tangan.
"Ibu selalu pergi pagi, pulang larut malam. Aku terkejut Ibu berada di rumah sekarang. Jadi, kupikir Ibu sudah tiada." Nada Sonya tidak bersalah. Ditambah sebuah senyum licik mengakhiri kalimat itu.
"Ada sesuatu yang perlu diambil di rumah." Sebuah tas berwarna hitam berukuran besar melingkar di pergelangan tangan sebelah kiri Ibu. Pertanda dia akan pergi, meninggalkan rumahnya lagi. Tepatnya, dia hanya sementara berada disini. "Ibu tidak suka kamu membawa laki-laki kerumah. Meskipun Ibu tidak pernah mengawasimu 24 jam penuh, Ibu harap kamu bisa menjaga diri." Ibu menatap tajam putri tunggalnya. Lalu, wajahnya menoleh ke Kang Joon.
Laki-laki itu berdiri sedikit menundukkan kepala, merasa bersalah sudah datang ke rumah Sonya. Padahal, tidak ada yang salah sama sekali. Kang Joon hanya berniat untuk mengunjungi saja, tidak ada sesuatu yang ia rencanakan.
"Dan kamu.. Entah aku tidak tahu namamu dan tidak mau tahu," Ibu Sonya sengaja menampakkan raut mengerikan, seakan dia benar-benar tidak menyukai Kang Joon. Jujur, Ibu hanya sedikit tidak menyukainya saja. "Kamu jangan pernah mengunjungi rumah ini. Dan... Mendekati Sonya. Dilihat dari penampilanmu... Kamu sepertinya—"
"Cukup Ibu." Sonya memotong kalimat Ibu, dia sudah bisa menebak apa yang akan diucapkan wanita paruh baya itu. "Cepat pergi sekarang. Ibu tidak berhak mencampuri urusanku." Sonya mendorong kasar tubuh Ibu menuju pintu utama, berniat membuat Ibu segera meninggalkan rumah.
Ibu sedikit memberontak. Tubuhnya ia tahan, namun dorongan Sonya dari belakang begitu kuat. Membuat Ibu tidak bisa berkata-kata. Pasrah dan karena mengejar waktu, Ibu akhirnya mengalah. Meninggalkan mereka berdua.
"Maafkan Ibu," Sonya sudah berdiri menghadap Kang Joon. Wajahnya dipenuhi rasa bersalah. Sonya tahu niat Kang Joon hanya untuk mengunjungi saja. Kenyataannya, dia malah bertemu dengan Ibu. Ibu yang selalu menilai orang dari penampilannya saja. Sonya membenci hal itu. "Aku pikir dia tidak ada disini."
Kang Joon menggaruk kepala beberapa kali. Bingung harus mengeluarkan kalimat.
"Ngg... Aku sepertinya harus pulang." Sonya melenguh, mulut sedikit terbuka karena terkejut dengan keputusan Kang Joon. Sonya tentu saja harus menahan kepergian Kang Joon.
"Tunggu," Sontak kedua tangan Sonya mencengkram erat lengan Kang Joon, berhasil membuat laki-laki berhidung mancung itu mengerang kesakitan. "Jangan pergi, Sunbae."
"Tidak, aku harus pergi. Besok kita bertemu di sekolah." Kang Joon yang selalu tersenyum menatap Sonya, kini berubah kecewa yang tidak dapat disembunyikan lagi. Kang Joon paham, apa yang Ibu Sonya bicarakan. Dengan lembut, dia melepas cengkraman tangan Sonya, menjatuhkan secara perlahan.
Sonya tidak berhenti menatap Kang Joon, juga. Dia berpikir kalau Kang Joon dapat menangkap kalimat terakhir yang Ibu Sonya ucapkan, lantas membuatnya tidak tersenyum.
Terpaksa dan pasrah, Sonya membiarkan Kang Joon pergi, tidak mengantarnya juga ke pintu utama. b****g Sonya memilih untuk menempel ke permukaan sofa yang lembut itu. Kedua bola mata menatap lurus ke depan, mengabaikan kepergian Kang Joon.
Oh, sial. Ibu Sonya bahkan tidak membiarkan putri tunggalnya bahagia. Ibu Sonya hanya ingin putrinya sengsara dalam segala hal. Termasuk percintaan. Sonya mendengus kesal, membuang napas dengan kasar seraya memejamkan kelopak mata.
Sonya berniat ingin menunggu Ibunya pulang dari pekerjaan. Tapi nyatanya, tanpa disadari Sonya tertidur dengan posisi duduk hingga pagi hari. Dan... Dia tidak sempat bertemu Ibunya lagi.
***
Sonya menundukkan wajah, mengabaikan bisikan gaib yang sudah mengganggunya saat menginjakkan kaki di tanah sekolah. Hantu sialan yang selalu mengikuti kemana Sonya pergi sudah menyambut di pagi hari dengan wajah penuh harap. Berharap Sonya akan membantu mengungkapkan kematiannya.
Tapi Sonya tidak peduli. Tidak pernah peduli akan hal itu. Kini otaknya hanya berisi tentang Kang Joon. Memikirkan cara untuk membuat suasana hatinya sedikit lebih baik.
"Apa kamu memikirkan Kang Joon?" Oh sial. Kalimat yang keluar dari mulut Da Young berhasil mengalihkan pandangan Sonya ke arah hantu itu.
Da Young merasa bangga, seperti memenangkan sebuah penghargaan karena berhasil membuat Sonya menatap matanya. Meski tatapan Sonya penuh selidik, tidak membuat Da Young menyerah begitu saja. Selain itu, Sonya juga melemparkan tatapan maut, hingga Da Young bergidik ngeri.
Hantu itu masih memiliki rasa takut, terlebih saat berhadapan dengan Sonya. Namun, demi keadilan bagi dirinya, Da Young rela melakukan apa saja untuk mengambil hati Sonya.
Da Young tahu kalau Sonya sedang jatuh cinta pada Kang Joon. Sebab, Da Young selalu mengikuti kemana Sonya pergi saat berada di lingkungan sekolah.
"Darimana kamu tahu?" Tanya Sonya ketus.
"Aku bisa membaca pikiranmu," Da Young tersenyum licik, karena berhasil membohongi Sonya yang polos itu. "Aku hantu. Seorang hantu. Jadi aku tahu apa saja isi otakmu, apa keinginanmu sekarang." Dengan bangganya Da Young berkata seperti itu seraya melipat kedua tangan di depan d**a.
Sonya menaikkan sebelah alis. Kaki kanan sedikit maju, membuat tubuh Da Young menempel ke dinding karena mulai takut. "Apa isi otakku sekarang?" Tanya Sonya. Nada bicara mulai sedikit keras dari sebelumnya. "Ceritakan isi otakku dan apa keinginanku sekarang?"
"Kalau kamu benar, tentu aku akan menuruti semua kemauanmu." Lanjut Sonya, perlahan menjauhi Da Young.
Binar bola mata Da Young terlihat jelas. Sebuah kebahagian mulai terlihat disana. Keinginannya selama menjadi hantu akan terwujud. Tapi... Dia tidak tahu apa isi otak dan keinginan Sonya.
Da Young tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan berharga ini. Sepertinya Tuhan sedang baik pada Da Young.
"Ngg...." Da Young mulai berpikir, bola matanya berputar perlahan. "Aku ingin kamu memberiku sedikit waktu untuk menjawab pertanyaanmu."
"Ah.. Kamu pembohong besar." Sonya menyadari kalau Da Young berbohong. "Kamu mencoba mempermainkan aku, hm? Kamu tahu aku begitu membenci makhluk sepertimu. Karena kalian hidupku seperti ini, paham?"
"Hei, tidak perlu menyalahkan orang lain." Ha Na muncul di belakang Sonya bersama teman lainnya. "Kalau sudah gila, coba lapang d**a saja. Tidak perlu menyalahkan makhluk lain."
Sonya mengambil napas panjang sebelum memutar tubuh. Setelah berhadapan dengan Ha Na, Sonya melipat kedua tangan, seakan menantang untuk berkelahi.
"Aku tidak gila."
"Seantero sekolah sudah tahu, gadis gila itu bernama Sonya. Ya, gadis yang berdiri di depanku ternyata gila." Ha Na ikut melipat kedua tangan, tidak ingin kalah dengan Sonya. Dan, dia mengakhiri kalimat itu dengan sebuah tawa menghina.
"Apa kamu punya urusan denganku? Kenapa kamu memulai masalah denganku?" Tanya Sonya.
"Kamu tahu, semua orang tahu kalau aku suka dengan Sunbaenim." Jelas Ha Na.
"Kang Joon?" Jawab singkat Sonya.
Ha Na memutar bola mata jengah, lalu menganggukkan kepala.
Sonya tersenyum sinis. Dia ingin memberitahu pada Ha Na kalau Kang Joon sudah pernah main kerumahnya.
"Kenapa senyumanmu menakutkan?" Lanjut Ha Na, curiga dengan raut wajah Sonya.
"Aku sudah pernah berkencan dengan Sunbae."
"Hah?" Ha Na terkejut, tapi berhasil mengendalikan diri. Terpaksa, dia berbohong di hadapan Sonya. "Aku juga sudah pernah berkencan dengannya. Bukan kamu saja."
"Dia pernah main ke rumahku." Sonya tidak mau kalah. Dia percaya kalau Ha Na pernah pergi bersama Kang Joon. "Semua orang tahu kalau aku anak yang kurang kasih sayang. Ibuku bekerja sepanjang hari."
"Jadi, kalian hanya berdua saja di rumah?" Tanpa melanjutkan kalimat, Sonya cukup puas melihat perubahan ekspresi wajah Ha Na.
Sonya menganggukkan kepala. Berulang kali. Tentu dengan wajah bersinar.
"Aku tidak perlu melanjutkan apa yang terjadi setelah itu bukan?" Sonya sengaja memancing amarah Ha Na. "Aku muak memamerkan hal seperti ini, tapi kamu memulai masalah denganku."
"Awas kalau sampai kamu keterlaluan!" Ancam Sonya sebelum meninggalkan Ha Na.
Sonya berhenti melangkah tak jauh dari Ha Na. Sesosok Kang Joon menghalangi jalan Sonya. Kang Joon sudah lama mendengar dan melihat pembicaraan antara Sonya dan Ha Na. Tapi dia memilih diam saja sambil mengawasi dari kejauhan.
Sedangkan Sonya, meskipun berhasil melawan Ha Na. Raut wajahnya malah sedih. Dia sedih karena semua orang mengira dirinya sudah gila. Padahal tidak. Dunia Sonya dan mereka berbeda.
"Ada apa denganmu?" Tanya Kang Joon penasaran.
Sonya terkejut melihat kehadiran Kang Joon. Dia berharap kakak kelasnya itu tidak mendengar semua pembicaraannya dengan Ha Na.
Sonya menggeleng cepat sebelum bergerak menghindari Kang Joon.
Namun, Kang Joon segera menahan kepergian Sonya dengan cekatan.
"Dia tidak gila. Dia normal sama seperti kita." Jelas Kang Joon kepada Ha Na. "Kita tidak pernah berkencan sama sekali. Jangan menyebarkan rumor tidak benar, Ha Na."
Kang Joon meninggalkan Ha Na seraya menggandeng tangan Sonya. Pergi menuju sebuah taman belakang gedung sekolah.
Sonya sedikit terkejut dengan sikap Kang Joon. Wajah yang semula sedikit tertunduk, kini mulai terangkat penuh percaya diri. Terlebih lagi saat menatap Ha Na.
Ingin rasanya Sonya menjulurkan lidah ke arah Ha Na karena memenangkan lagi pertempuran dengannya. Namun sayang, untuk menarik bibir ke samping saja sangat sulit.
Pasrah, Sonya mengikuti kemanapun Kang Joon membawa pergi untuk menjauhi keramaian.