"Sunbae, tolong abaikan Son Ju, aku mohon?" Terdengar nada bicara Sonya memelas, ditambah raut wajah yang memerah menahan malu. Dalam pikiran Sonya hanya ada nama Son Ju seorang. Berulang kali dia memikirkan seribu cara untuk membunuh adik kandungnya itu.
"Bagaimana kalau aku tidak mau mengabaikannya?" Nada bicara Kang Joon menggoda, senyum lebar menghiasi wajah yang terlalu indah bagi seorang Sonya. "Aku tidak ingin mengabaikanmu."
Sonya terdiam. Warna wajah yang sudah memerah sebelumnya, kini semakin gelap. Pertanda dia menahan sesuatu. Jantungnya terus berdebar, meskipun mulutnya sedikit ternganga menatap Kang Joon.
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat karena kamu rela berpenampilan seperti ini demi aku." Lanjut Kang Joon penuh percaya diri. Lesung bagian pipi terlihat menonjol karena tarikan bibirnya semakin lebar.
"Hei!" Sonya kali ini mulai tersadar dari alam bawah sadar. Dia tidak ingin terlihat jelas di mata Kang Joon, bahwa semua yang Sonya lakukan karena Kang Joon. "Aku hanya ingin mengubah penampilan, itu saja. Bukan karena Sunbae."
"Anggap saja begitu." Kang Joon melipat kedua tangan di depan d**a. "Tapi aku tetap ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat, bagaimana?" Kang Joon sedikit memaksa, wajahnya mulai serius ditambah alisnya yang naik sebelah kiri.
"Kenapa mengajakku pergi?" Sonya penasaran. Sambil membasahi bibir bagian bawah, Sonya meremas kedua tangan karena keringat dingin mulai mengaliri pelipis.
"Hmmm... Entahlah." Kang Joon mengedikkan kedua bahu, tentu saja ia lakukan untuk membuat Sonya tambah penasaran terhadap dirinya.
Lalu, Kang Joon melirik pergelangan tangan. "Aku akan menemuimu di depan sekolah nanti." Ujar Kang Joon, melambaikan tangan ke arah Sonya. Kemudian, dia membalikkan tubuh untuk pergi ke kelas.
***
Sonya menelan air liur. Napasnya tersenggal-senggal karena dia berlari menuju ruang kelas. Perasaannya campur aduk. Memikirkan ajakan Kang Joon secara mendadak. Baru kali ini Sonya diperlakukan hangat oleh seorang manusia, lebih tepatnya seorang laki-laki.
Tidak mungkin juga Sonya menyia-nyiakan kesempatan emas di hidupnya. Dia harus menemui Kang Joon seusai kelas berakhir.
***
Sonya berdiri menghadap jalanan, wajahnya terus bergerak mencari seseorang. Namun, sudah beberapa menit tak kunjung muncul di hadapannya. Lelah mulai merasuki tubuh Sonya. Rasa emosi tak lupa menyusul rasa lelah itu.
Akhirnya, Sonya memilih membalikkan tubuh. Meninggalkan tempatnya berdiri. Perlahan dia melangkah dengan wajah tertunduk. Sesekali mendongak, memperhatikan jalan yang ia lalui. Ketika jaraknya mulai menjauhi sekolah, seseorang mulai memanggil namanya dengan keras.
Sonya dengan sigap menoleh, melebarkan senyuman. Orang yang ia tunggu akhirnya muncul.
"Maafkan aku, Sonya." Kang Joon usai berlari, membungkukkan tubuh di hadapan Sonya seraya mengatur ritme pernapasan. Setelah merasa lebih baik, dia menegakkan tubuh dengan sebelah tangan menyapu butiran-butiran air yang mengalir deras di wajah. "Aku ada pelajaran tambahan, tapi aku berusaha membolos demi menemuimu. Tolong, jangan marah ya?"
Sonya tidak sadarkan diri, ikut menyapu wajah Kang Joon secara lembut. Kepalanya mengangguk, mengerti dengan penjelasan yang diberikan Kang Joon.
"Tidak masalah. Terima kasih sudah membolos demi aku?" Sahut Sonya. Tak lama kemudian, dia melirik bagian tubuh yang menyentuh wajah Kang Joon. Dua bola mata sontak terbelalak lebar hampir mencuat keluar. Lantas, dia segera menarik diri untuk menjauhi wajah Kang Joon. "Maaf ."
"Aku suka," Jawab Kang Joon terdengar lantang. "Ah, aku akan membawamu ke sebuah tempat indah."
"Apa itu Sungai Han?" Tanya Sonya.
Kang Joon mengedikkan bahu, sepertinya itu kebiasaan dia.
Tidak perlu menghabiskan waktu lama, Kang Joon meraih tangan Sonya. Membawanya pergi menjauhi sekolah.
"Mau kemana, hmm? Aku takut Sunbae akan melukaiku." Sonya mengeluarkan nada ketakutan sembari menempelkan tangan lainnya di depan d**a. "Aku pikir, aku harus kembali ke rumah."
"Ah, bukankah kamu terlalu berani untuk menghajarku," Kang Joon melepas tawa hingga terbahak-bahak. Sorot mata tidak pernah terlepas dari wajah cantik Sonya. "Kenapa tiba-tiba kamu menjadi jinak seperti...." Kang Joon enggan melanjutkan kalimat. Takut Sonya akan terluka.
"Baiklah, bagaimana kalau kita pergi ke rumahmu?" Kang Joon menghentikan langkah, bola mata mengarah ke atas. Pertanda kalau sedang memikirkan sebuah ide.
"Hah?" Sonya terkejut. "Kenapa terlalu cepat?"
"Apanya yang terlalu cepat?" Kang Joon balik bertanya.
Sonya langsung membekap mulut begitu mendengar pertanyaan Kang Joon. Hari ini begitu banyak Sonya bersikap memalukan di hadapan Kang Joon. Entah, tidak terhitung lagi. Untung saja Sonya tidak begitu peduli akan hal itu.
"Baiklah, aku setuju kalau kita pergi ke rumah."
"Ah, baiklah. Ayo kita pergi sekarang."
***
Kang Joon tidak berhenti menatap ruangan dimana dia duduk seorang diri. Sebuah ruangan yang memiliki fungsi sebagai ruang tamu dan ruang keluarga. Barang-barang yang seharusnya menjadi hiasan ruangan itu, tidak terlihat begitu banyak. Hanya ada beberapa saja yang menjadi pelengkap.
Sementara itu, Sonya datang dari arah dapur. Tidak jauh dari tempat Kang Joon duduk. Gadis itu membawa sebuah dua botol air mineral dan beberapa makanan ringan.
Melihat kedatangan Sonya, Kang Joon menaikkan sebelah alis.
Begitu juga dengan Sonya. Dirinya merasa ada yang salah ketika melihat ekspresi Kang Joon.
"Maaf, hanya ada ini." Sonya mengulurkan botol air mineral dan makanan di meja. Lalu, dia duduk bersanding dengan Kang Joon.
"Sepertinya kamu merasa kesepian, sama sepertiku." Kang Joon langsung menyahut sebuah botol di hadapan, membuka segelnya. Hitungan detik, air dalam botol itu berkurang setengahnya. "Mungkin karena itu, aku tertarik padamu." Jelas Kang Joon. Tubuhnya sedikit miring, menghadap Sonya.
"Tertarik padaku? Atau, bisa jadi karena kasihan?" Tanya Sonya, nadanya sedikit naik. "Aku tidak perlu dikasihani. Hidupku memang menyedihkan, tapi aku tidak butuh dikasihani oleh orang sepertimu." Sonya kembali menjadi dirinya sendiri. Seperti awal-awal mengenal Kang Joon. Tidak ada lagi sisi feminim. Dia marah, pada kalimat Kang Joon.
"Tidak.... Jangan salah paham." Kang Kang Joon meraih cepat tangan Sonya, sedang berusaha menenangkan. "Saat melihat dirimu, aku merasa memiliki persamaan."
"Kesepian." Lanjut Kang Joon.
Tubuh Sonya yang sebelumnya menegang, mulai mengendorkan otot-otot. Dalan hitungan detik, dia luluh. Karena perkataan Kang Joon memang benar. Tapi Sonya sedikit tak percaya. Orang sebaik dan seramah Kang Joon ternyata kesepian juga.
"Aku tidak memiliki kedua orangtua." Kang Joon mulai bercerita. "Aku dibesarkan oleh Nenek. Tapi, belum lama ini dia meninggal."
"Pantas, ada seorang Nenek yang mengikutimu." Celutuk Sonya.
"Maksud kamu?"
"Ngg.. tidak apa-apa. Lanjutkan ceritamu." Perintah Sonya.
Kang Joon sedikit kecewa, Sonya tak memberitahunya. "Ya, aku merasa kesepian. Setiap hari aku berdoa, untuk segera menyusul Nenek. Aku rindu." Kang Joon meluruskan tubuh, kepalanya tertunduk. Mungkin saja kalau tidak ada Sonya, dia akan menangis. Melepas kerinduannya pada Nenek.
Sonya ikut terbawa suasana. Dia menepuk lembut bahu Kang Joon berulang kali.
Sekali lagi, Sonya lupa mengendalikan diri. Dia menarik tubuh Kang Joon untuk menghadap ke arahnya. Sekejap, tubuh Kang Joon sudah berada dalam pelukan Sonya.
Sayang sekali, baru beberapa detik, hampir satu menit berpelukan. Ibu Sonya muncul dari dalam kamar.