Ketahuan

1011 Words
Melihat sang kakak sedang tertidur di sofa, bukan di kamarnya. Son Ju melemparkan bantal yang ia ambil di sofa tunggal, mengarahkan ke wajah Sonya. Merasa hidungnya tidak mampu menghirup oksigen, Sonya dengan cekatan membuka kelopak mata. Pandangannya menjadi gelap karena wajahnya tertutupi bantal. Namun Sonya mengira, dia sudah berada di alam berbeda. Bukan di dunia nyata. “Tidak... tidak!.” Teriak Sonya sambil beranjak duduk, bantal sudah terjatuh ke lantai. Kepalanya menggeleng sambil terpejam, tidak terima kalau Tuhan mengambilnya secepat mungkin. Dia belum diberikan kesempatan berkencan dengan kang Joon. “Aku tidak ingin mati. Aku belum berkencan dengan Kang Joon!" “Kang Joon?” Suara Son Ju menyadarkan Sonya. Membuat dia mendelik tajam. “Kakak kelas kita? Kau menyukai Kang Joon, Sonya?” Son Ju tertawa terbahak-bahak. Adik kandung Sonya memilih memanggil kakaknya hanya dengan sebutan nama. Karena jarak mereka hanya selisih satu tahun. Dan Sonya menerima dipanggil seperti itu, kalau sedang dalam suasana hati yang baik. Son Ju mengenal Kang Joon. Dia pemain basket terkenal seantero sekolah. Yah, Sonya dan Son Ju satu sekolah. Jadi, apapun yang dilakukan Sonya, termasuk pelanggaran-pelanggaran yang ia dapat, Son Ju pasti tahu karena rumor itu cepat menyebar. Sedangkan Son Ju, dia terkenal juga sebagai pembuat onar di sekolah. Mereka pasangan kakak beradik terkenal di sekolahan. “Diam kamu!” Sonya malu, dia mengira dirinya sudah mati. Wajahnya berubah menjadi merah merona. “Awas saja kamu menyebarkan rumor itu, mengerti!” Sonya mengambil bantal di samping ia duduk, melemparkan ke arah Son Ju. Sialnya, tidak mengenai sasaran karena Son Ju segera menghindar dengan cepat. “Astaga. Wajahmu kenapa?” Son Ju masih tertawa, melihat perubahan wajah Sonya. Lantas, dia segera kabur ke kamar, menguncinya rapat-rapat. “Tenang saja. Aku akan menjaga rahasiamu, Sonya!” Teriak Son Ju dari dalam kamar. “Hei! Keluar kamu sekarang!” Sonya menggedor-gedor daun pintu kamar Son Ju. Mulutnya terus berteriak, meminta Son Ju segera keluar kamar. Dia tidak percaya kalau adiknya akan menjaga rahasia Sonya. Karena Son Ju juga tidak keluar kamar, Sonya mengalah dan masuk ke dalam kamar, membanting pintu dengan kesal. *** Pagi ini Sonya berdandan cantik. Tidak seperti biasa. Dia menggunakan pewarna bibir, biasanya dia membiarkan bibirnya memucat tanpa Lip Balm sekalipun. Parfum yang ia beli tadi malam sudah melekat di seragam sekolah. Aromanya manis seperti permen. Berharap Kang Joon ingin memakan Sonya setelah mencium aroma itu. Rambut yang tidak ia ikat, kini sudah terikat rapi menjadi satu ikatan. Merasa sudah cukup menarik, Sonya segera keluar dari kamar mandi wanita sekolah. Dia terkejut, beberapa orang menatapnya penuh kagum. Sonya berhasil membuat perubahan pada dirinya. Sialnya, dia harus bertemu Son Ju di koridor. Padahal dia sengaja berdandan di toilet sekolah agar tidak ketahuan oleh Son Ju. Tuhan, kenapa keadilan tidak pernah didapatkan Sonya. Kenapa semua berpihak pada adik sialan itu. Jarak Sonya dan Son Ju belum dekat. Namun Sonya dapat mengendus keberadaan Son Ju di sana layaknya seekor anjing pelacak yang terlatih mengenali musuh bebuyutannya. Cekatan, dia bersembunyi di balik pilar yang untung berukuran besar. Setelah Son Ju melewati pilar dimana Sonya sembunyi, gadis itu segera keluar dan berjalan berlawanan arah dengan Son Ju. “Hei, kamu mau melakukan pertunjukan dimana,” Tiba-tiba sebuah suara membuat dunia Sonya runtuh seketika. Langkahnya juga sulit digerakkan, mengingat tangan seseorang di belakang sana sedang menahan tali tas ransel Sonya. “Aku sudah melihatmu dari jauh, kenapa kamu tidak menyadarinya! Kalau ingin tampil cantik, perbarui dulu isi otakmu!” Ucap Son Ju. Sekarang sudah berpindah, berdiri di depan Sonya dengan mendorong kening kakaknya menggunakan telunjuk. Mendorong ke belakang. “Hai?” Kalimat Sonya membuat Son Ju tercengang. Dia tidak marah diperlakukan baru saja. Malah, dia menampakkan raut wajah yang sangat imut. “Permisi. Aku harus pergi.” Sonya sebisa mungkin mengubah nada bicaranya juga, seimut mungkin. Son Ju yang mendengar suara Sonya langsung bergidik ngeri, mendekap tubuhnya sendiri. “Astaga menyeramkan sekali.” Sahut Son Ju, memandang Sonya dengan tatapan aneh. “Hai, kalian! Selamat pagi?” Sonya yang belum meninggalkan Son Ju, mereka masih berdiri saling berhadapan. Secara serentak, menoleh ke sumber suara. Kang Joon. Dia berdiri di belakang Sonya. Melihat seseorang berdiri di belakang Sonya, Son Ju sedikit memiringkan tubuh. Bola mata Son Ju berbinar-binar. Melihat kehadiran Kang Joon. Senyumnya sudah melebar. “Hyung, cepat lihat penampilan Sonya!” Son Ju memajukan langkah, menyeret pergelangan tangan Kang Joon agar menghadap ke arah Sonya. Sonya melenguh, memutar bola mata jengah. Lalu, memfokuskan ke arah Son Ju. Sebuah tatapan maut tidak membuat Son Ju ketakutan. Dia malah melanjutkan aksinya untuk mem-bully Sonya di depan Kang Joon. Kang Joon yang melihat penampilan Sonya langsung berdecak kagum. Menurutnya sangat cantik. Dia memang sudah cantik, tapi tidak pandai merawat diri. Tidak peduli penampilannya selama ini. “Kamu cantik sekali?” Ungkapan Kang Joon yang sangat jujur, membuat Son Ju tersenyum, memukul lengan Sonya berkali-kali. “Kamu berhasil membuat dia kagum!” Sonya mengerucutkan bibir. Dia tidak bisa berkata-kata, apalagi mengumpat Son Ju di depan Kang Joon. Dengan pasrah, dia hanya bisa menatap Son Ju kesal. “Hyung. Dia melakukan semua ini untukmu.” Ujar Son Ju. “Benarkah?” Kang Joon bertanya pada Sonya yang tertunduk malu. Entah, sejak kapan Sonya menundukkan kepala. Melihat Sonya menundukkan wajah, Kang Joon segera mengangkat wajah gadis itu. Setelah tatapan mereka bertemu, Sonya berusaha melengkungkan bibir. Meskipun wajahnya merah merona. “Lihat itu! Wajahnya merah merona, bukan?” Son Ju dengan polos, menunjuk wajah Sonya yang sudah memerah. “Son Ju,” Ucap Sonya dengan nada lembut, penuh kesabaran. Ditambah sebuah senyuman tipis. “Sepulang sekolah, kita harus pergi bersama. Ada sesuatu yang harus aku katakan padamu.” Son Ju menaikkan sebelah alis, menatap heran. Baru kali ini Sonya berkata sangat lembut, mirip seperti seorang pramugari. “Aku akan pergi dengan teman sampai malam. Sorry!” Jawab Son Ju, acuh. Dia segera menghindar, tidak ingin terlalu lama bersama Sonya. Dia sadar, dunianya sebentar lagi akan runtuh. Apalagi, saat dia di rumah nanti. Sonya melenguh, melihat Son Ju pergi begitu saja. Kabur, tidak bertanggung jawab. Gadis itu hanya bisa mengepalkan kedua tangan, menahan amarah. "Sial". Gumamnya dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD