Mereka di Sekitar Kalian

1259 Words
Gadis itu menggigit bibir dengan lembut, berharap mereka tidak menyerangnya. Sonya tidak boleh lemah, tidak akan membiarkan mereka mengambil energi Sonya. “Why, kenapa kalian menutupi jalanku?” Tanya Sonya pada mereka, menatap secara bergantian. Sorot mata mereka kosong, terlebih lagi Sonya bergidik ngeri menatap salah satu diantara mereka. Sebuah pisau tertancap di bagian perut, dibiarkan begitu saja. Meskipun Sonya sejak lahir bisa melihat hantu, dia masih tetap merasa takut kalau menemui hantu yang sangat mengerikan. “Kenapa kamu menatapku tajam, apa urusanmu!” Lanjut Sonya pada hantu yang tertusuk pisau itu. Dia hanya diam bergeming, tidak mampu bersuara. “Sonya, kamu bicara denganku? Atau kamu sedang kehabisan obat?” Tiba-tiba Jung Ki muncul di depan Sonya, menembus tubuh Da Young yang sedang berdiri di hadapannya. Sonya menelan air liur berulang kali. Sedikit menaikkan alis, ketika Jung Ki merasa menggigil, mendekap kedua lengannya dengan tangan. “Kenapa dingin sekali disini?” “Hei!” Teriak Sonya, sudah bisa mengendalikan diri. Dia mendorong tubuh Jung Ki ke belakang. Nyaris saja, Jung ki terjungkal ke belakang. “Aku tidak pernah mengonsumsi obat, asal kamu tahu! Dan aku tidak pernah gila!” Teriak Sonya, membuat seluruh orang yang berdiri di koridor tertawa mengejek. Ada juga yang saling berbisik, membicarakan kegilaan Sonya. “Tidak gila?” Jung Ki mendekat kembali. Memajukan langkah. “Tapi kamu benar-benar gila. Apa perlu kamu melihat CCTV, di sana kamu sedang bicara seorang diri. Itu namanya gila!” Sahut Jung Ki, gemas. “Ditambah sikapmu itu juga gila. Hanya kamu gadis pemberontak di sekolah ini. Sangat liar!” Jung Ki mendekatkan wajah ke arah Sonya sambil berkata seperti itu. Merasa puas mencaci maki Sonya, dia langsung pergi, melewati bahu Sonya dengan menabraknya secara kasar. Sonya mendesis, mengusap bahu sembari memutar tubuh menatap punggung Jung Ki. “Dasar b******k!” Teriak Sonya. *** Sonya berjalan, memasuki ruang kelas dengan kepala tertunduk. Ditambah, sebelah tangannya masih menempel di bahu, mengusap-usapnya. Rambut yang sudah tertata rapi oleh sentuhan tangan Kang Joon mulai berantakan kembali. Sungguh, penampilan Sonya selalu buruk di mata teman-teman. Sonya terperanjat, melihat Da Young sudah duduk di bangkunya. Bangku yang terletak di sudut ruang kelas, menyendiri. Dengan cekatan, Sonya menunjuk tepat ke arah jantung Da Young, wajahnya hendak mengumpat dengan bola mata hampir keluar. “Pergi sekarang, hantu tidak tahu malu!” Ucap Sonya, mendelik. “No.. No..No..” Sahut Da Young, menggoyangkan telunjuk di depan wajah. Dia juga melebarkan senyum, sengaja membuat Sonya semakin kesal. “Aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi, asalkan...” Da Young menjerit, menutup wajah dengan kedua tangan. Setelah Sonya melemparkan kacang-kacangan ke wajahnya. Sonya tidak seharusnya melakukan ini. Tapi ulah Da Young yang selalu mengganggu kehidupannya di sekolah, membuat Sonya terpaksa melakukan hal ini. “Hei, Sonya! Sudah berapa kali kamu diberi peringatan, untuk tidak membawa barang seperti itu?” Ya benar. Di sekolah ini, para murid-murid dilarang membawa barang terkait hal mistis. Apapun itu. Sonya menghembuskan napas kesal. Pemilik suara itu tidak pernah tahu rasanya diganggu oleh hantu-hantu yang memintai pertolongan untuk balas dendam. Satu lagi. Mereka sudah kehilangan sopan santun, membangunkan tidur Sonya pada malam hari hanya untuk meminta bantuan. Seraya memutar tubuh, Sonya mengerutkan kening. “Aku juga tidak ingin melakukan hal ini, tapi mereka selalu mengganggu...” Sonya setengah berteriak, nadanya penuh kekesalan. Tapi dia lupa, pemilik suara itu merupakan seorang wali kelasnya. Sonya langsung menutup mulut, membekapnya dengan rapat. “Dimana sopan santunmu, berteriak seperti itu kepada wali kelasmu sendiri!” sahut Guru Bo Ni. “Ayo ikut bersamaku ke ruang guru. Cepat. Aku akan memberikanmu hadiah.” Guru Boni menyeringai licik. Hadiah yang dimaksud bukanlah sesuatu yang diinginkan Sonya. Melainkan sebuah poin hukuman. Saat ini, hanya Sonya seorang siswi yang memiliki poin pelanggaran tertinggi di sekolah ini. Maka dari itu, dia terkenal sebagai pemberontak. Dengan pasrah, Sonya mengikuti langkah Guru Bo Ni. Wajahnya tertunduk, kembali seraya berjalan ke ruang guru. .*** Sonya sebenarnya bahagia tidak perlu mengikuti mata pelajaran pada jam ini. Guru Bo Ni dengan senang hati, memanggilnya ke ruang guru, memberikan nasehat sampai mulutnya berbusa. Ucapan terima kasih ingin sekali Sonya ungkapkan pada Da Young. Yang sudah membiarkannya tidak masuk ke kelas untuk mengikuti pelajaran yang tidak ia suka. Namun, Sonya tidak bisa bernapas, mengingat apa yang akan dilakukan Ibunya saat dia pulang ke rumah. Ah, paling Ibu tidak peduli. Dia hanya peduli pada pekerjaannya. Mengabaikan anak-anaknya yang butuh kasih sayang. Saat Sonya keluar dari ruang guru. Dia bertemu dengan Kang Joon dan Ha Na. Terlihat tali tas sudah mereka sampirkan ke bahu. Tandanya, kegiatan sekolah telah usai. Sonya menggigit bibir dengan lembut, menatap Kang Joon. Sebenarnya dia harus biasa saja, dengan wajah juteknya saat bertemu kang Joon. Akibat ucapan Kang Joon sendiri, mengatai kucing imut. Lantas, Sonya bergaya seimut mungkin. Layaknya seekor anak kucing yang menggemaskan. “Hai?” Kang Joon berusaha menyapa Sonya, melambaikan sebelah tangan. “Kenapa wajahmu seperti itu?” Tanya Ha Na, menaikkan sebelah alis. Dia memegangi tali tas di sisi pinggang. Ha Na tentu saja menyadari raut wajah Sonya, biasanya dia terlihat jutek dan garang. Rautnya seakan ingin memakan seseorang yang berdiri di hadapannya. “Apa yang terjadi denganmu? Apa kamu kehabisan...” “Kamu imut sekali.” Kang Joon memotong pembicaraan Ha Na. Senyum penuh kehangatan itu sudah menghiasi wajah tampannya sejak melihat Sonya keluar dari ruang guru. Sonya yang mendengar pujian dari Kang Joon, dia juga merasa berhasil sudah bersikap imut di depannya. Langsung mengulum bibir, menyibakkan beberapa rambut ke belakang telinga. Tatapannya mengarah ke samping. Dia berusaha menahan senyum, namun masih terlihat jelas kalau suasana hatinya sedang senang. “Hei, apa yang kamu lakukan, dasar genit!” Teriak Ha Na. Mendorong bahu Sonya sekali. Sonya pasrah. Dia tidak boleh kasar, membalas Ha Na di depan kang Joon. “Kenapa harus mendorongnya, Ha Na?” Protes Kang Joon, melirik tajam ke arah Ha Na. Jantung Sonya mulai berdebar kencang. Sial. Hanya karena kalimat “Kucing Imut” membuatnya gila dalam waktu satu hari ini. Biasanya dia membenci Kang Joon, sangat membencinya. Mendapatkan pembelaan dari Kang Joon, Sonya memajukan bahu, dengan senyum menggoda. Beberapa detik kemudian, dia mengerlingkan sebelah mata. “Aku pulang duluan ya. Sampai jumpa besok.” Tiba-tiba Kang Joon mengucap kalimat perpisahan. Dia juga melambai ke arah Sonya. Hilang sudah semua. Sonya kembali ke wajah aslinya. Jutek. Dia mengerucutkan bibir, tidak berani menatap Kang Joon. Dengan pasrah, dia melangkah menuju ruang kelas, mengambil tas ransel miliknya. *** Sebuah kediaman mewah di dekat pusat kota menjadi pilihan sebagian orang untuk tinggal di sana. Tentu saja hanya orang berduit yang mampu membeli tanah di daerah itu. Termasuk keluarga Park Son Ya. Membeli hunian yang tidak terlalu besar namun cukup ditinggali oleh anggota keluarga berjumlah tiga orang yaitu Ibu, Sonya, dan adik laki-lakinya yang berjarak satu tahun saja. Ayah Sonya sudah lama meninggal, itu kata Ibunya. Tapi anehnya, Sonya tidak pernah bertemu dengan hantu Ayahnya. Sejak dia kecil. Mungkin saja Ayah Sonya sengaja tidak menampakkan diri di hadapan Sonya, tidak ingin menyakiti anak gadisnya. Membuatnya sedih. Sonya menghembuskan napas, mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan keluarga begitu dia berhasil membuka pintu utama. Ya, ruangan keluarga dijadikan satu dengan ruang tamu. Keluarga mereka jarang menerima tamu, atau mungkin tidak pernah kedatangan tamu mengingat Ibunya super sibuk mengurus pekerjaannya. Sonya melempar tas ransel ke sofa panjang sebelum dia menjatuhkan tubuhnya di sana juga. Dengan letih, dia melompat ke permukaan sofa, dan tidur di atasnya. Pandangannya tertuju ke langit-langit, memperhatikan setiap hiasan yang tertempel di sana. Berbentuk bintang dan bulan. Sonya dan Son Ju, adik kandungnya yang menempelkannya di sana. Kelelahan, Sonya perlahan menutup kelopak mata. Membiarkan tubuhnya beristirahat sebentar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD