EPISODE : 1
*Hay guys ini karya pertama aku maklum yah kalau kata kata nya banyak yang ga nyambung semoga kalian suka yah sama cerita aku*
*HAPPY READING*
"Menikah lah dengan saya,maka semua hutangmu akan saya lunasi".
Suster Shella mendongak tak percaya menatap dokter tampan didepan nya.
"Ap-apa?menikah?"gumam Shella yang terbata-bata.
"Bukan secara resmi,hanya pernikahan kontrak saja,aku membutuhkan mu untuk memberikanku anak،setelah anak itu lahir kamu bisa bebas"ucap sang dokter dengan wajah datarnya.
"Nikah kontrak?"tanya Shella sambil menatap sang dokter.
"Ya silahkan kamu pikirkan,besok datangi saya jika kamu setuju."balas pria itu bangkit dari duduknya dan pergi dari hadapan Shella yang masih tak percaya akan penawaran sang dokter.
Shella sudah memikirkan keputusannya semalaman.Berawal dari jatuhnya kertas tagihan yang ia dapatkan dari pihak bank
dan ditemukan oleh dokter spesialis bedah itu hingga menawarkan hal yang membingungkan bagi Shella.
"Aku harus bagaimana?"gumam Shella sambil menatap pekatnya malam lewat jendela kamarnya.
"Kalau saja ibu sama bapak masih ada, pasti aku tidak akan segelisah ini..."
Shella mendongak menghalau cairan bening yang hampir jatuh mengenai wajahnya.Ayahnya meninggal diusia Shella yang ke 17 tahun,dan ibunya pun menyusul 5 tahun kemudian.Hutang 100 juta pada bank juga itu karena untuk biaya pengobatan ibunya, sayangnya tuhan berkehendak lain.Ibunya nya dipanggil kepelukan-nya.
"Gak rugi bukan kalau aku menerima tawaran dokter Radit?"Gumam Shella dengan senyum tipisnya.
Shella segera menyusul Radit ketika netranya melihat lelaki itu memasuki lift.
Shella menghadang pintu lift yang hendak tertutup itu.dan ikut masuk bergabung bersama lelaki yang hanya menatap nya dengan ekspresi datarnya itu.
"Ehmm,maaf,dokter Radit...saya setuju dengan penawaran anda kemarin."ucap Shella menunduk malu.
"Baik,besok kita laksanakan akad nya."balas dokter Radit singkat.
Dentingan lift yang terbuka membuat Shella kembali sadar dari lamunannya.
"Tunggu."cegatnya ketika Radit hendak masuk ke ruangannya.
"Ada apa..?."tanya lelaki itu menatap tajam Shella.
Shella memilin jari gugup.
"Apa anda benar-benar akan melunasi semua hutang saya? tanya Shella penuh curiga.
"kamu meragukan saya? Tenang saja,saya bukan orang yang ingkar janji."
Shella mengangguk kaku.Radit berlalu mendapatkan anggukan dari perempuan itu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Shella Salsabila Binti Rahman (alm) dengan mas kawin gram mas dan seperangkat alat sholat dan dibayar tunai!.
Suara lantang itu terdengar di aula mesjid yang berada didekat rumah shella.Ya,hari ini ia melangsungkan akad itu bersama sang tuan dokter pemilik rumah sakit tempatnya bekerja.
proses akad itu hanya dihadiri oleh beberapa orang saja,diantarnya ada asisten dokter Radit,dan 2 teman lelaki itu.sedangkan dipihak Shella, ada paman nya sebagai wali,serta bibi dan sepupu laki-laki nya. Ya hanya sesederhana itu.Ia juga hanya memakai kebaya sebatas lutut dipadu dengan kain setelannya yang ia gunakan saat wisuda dulu.
"Kemasi segera barangmu!" ucap dokter
Radit ketika mereka sudah berada diluar mesjid.
"Kita akan kemana?"tanya Shella bingung.
"Kamu istriku sekarang.Tentu saja kamu akan ikut ketempatku",ucap lelaki itu datar sambil menggulung lengan kemejanya.
Shella menurut.Segera kembali kerumahnya yang berjarak 50 meter dari mesjid.Diikuti oleh dokter Radit dan asisten lelaki itu. Sedangkan 2 temannya tadi sudah pamit pulang lebih dulu.
Shella menatap kuitansi catatan hutangnya yang telah lunas ditangan nya. Setelah membawa nya masuk ke dalam apartemen lelaki itu. Radit memberikan kuitansi itu padanya. Shella bersyukur setidaknya dokter Radit tak mengingkari janjinya.
langit telah berganti dengan cahaya gelap. Shella telah membereskan pakaian yang tadi ia bawa. Memasukan nya kedalam lemari yang bersebelahan dengan pakaian dokter Radit.Sedangkan, lelaki itu entah kemana.
Shella melipat mukenah nya setelah selesai sholat Maghrib. Pintu kamar yang terbuka membuat nya menoleh. Tatapan nya bertemu dengan mata tajam sang suami. Lelaki itu tampak sudah segar, mungkin baru selesai mandi.
"kamu masak?" tanya lelaki itu datar.
Shella mengangguk setelah meletakkan mukena nya dirak baju.
"ekhmmm,dokter ingin makan sekarang?sa-saya akan menyiapkannya". ucap shella gugup.
Radit yang masih berdiri diambang pintu kamar mengangguk. Berlalu menuju dapur lebih dulu diikuti shella dibelakang nya.
Shella segera menyiapkan makanan yang tadi sore sudah ia masak. Menyiapkan 2 piring dan mengambil kan nasi untuk Radit. Semua itu Shella lakukan dibawah pengawasan wajah datar Radit yang telah duduk enteng.
"Silahkan, Dokter!" ucap Shella memberi piring yang telah ia isi nasi dan lauknya.
Radit menerima tanpa suara. Shella menghela napasnya gugup. Ikut duduk dikursi berseberangan dengan Radit, dan mulai menikmati makan malam mereka.
Shella terkaget merasakan embusan hangat itu dipucuk kepalanya. Ia menoleh dan netranya bertatapan dengan netra cokelat Radit.
"Malam ini... malam pengantin kita, kan!" Bisikan halu itu membuat Shella mengepalkan jemarinya yang berada di kedua sisi tubuh.
Radit melingkarkan tangannya di pinggang ramping Shella. Perempuan itu sempat tersentak kaget, tapi segera menguasai diri.
"Kamu tahu kan tugas istri di malam pengantin nya?"
Shella mengangguk. Pasrah ketika lelaki itu memberikan kecupan-kecupan singkat di sepanjang bahu nya. ia hanya menggigit bibirnya resah ketika lelaki itu menuntunnya menuju ranjang mereka.
"Lakukan tugasmu malam ini dan berikan aku seorang anak!"
Shella tak ingin menceritakan kejadian selanjutnya. karena pikirannya langsung nge blank begitu lelaki itu menyentuhnya di titik-titik sensitif tubuhnya.
BERSAMBUNG.....