Laptopnya menyala dengan beberapa berkas terbuka, tetapi pikirannya tidak fokus. Ia baru saja menutup map berisi foto-foto lama ketika ponselnya berdering di meja. Nama “Papa Bening” terpampang jelas di layar. Ia menarik napas perlahan sebelum menjawab. “Selamat pagi, Pa.” “Pagi, Banyu,” suara Wiratama terdengar tenang, khas pria yang sudah terbiasa memimpin banyak orang. “Kabar kamu gimana? Badan sudah baikan?” “Sudah lebih baik, Pa. Terima kasih.” “Syukurlah. Bening cerita kamu masih istirahat beberapa hari. Jangan terlalu dipaksakan dulu. Kerjaan bisa nunggu, kesehatan nggak.” Banyu menatap layar laptopnya sebentar. “Saya tahu, Pa. Saya juga sudah kurangi kegiatan luar kantor.” “Bagus.” Wiratama sempat terdiam sebentar, lalu menambahkan dengan nada lebih ringan. “Bening masih di k

