“Akhirnya bisa pulang juga, walau kerjaan belum beres, karena memang nggak ada pekerjaan yang selesai selama kamu masih bekerja,” ucap Bening sambil menguap kecil. Ia menyalakan mobil pelan, menepuk-nepuk pipinya sendiri supaya tidak mengantuk. Ia menatap parkiran kantor yang sudah mulai kosong. Lampu-lampu gedung memantul di kaca depan mobilnya. “Kerja tuh kayak tumble dryer,” gumamnya lagi sambil memasang seatbelt. “Muter terus, kapan selesainya juga nggak tahu.” Mobil mulai melaju keluar dari area kantor. Langit sudah sepenuhnya gelap, hanya disisakan beberapa warna jingga tipis di ujung horizon. Lampu-lampu jalan menyala satu-satu, seperti sedang menyambutnya pulang. Tapi kepala Bening tidak ikut pulang. Sejak siang, otaknya tidak berhenti bekerja. Ia mematut wajahnya di spion seb

