Bab 65

2284 Words

Malam itu seharusnya sunyi. Ruang kerja Banyu hanya diterangi lampu meja. Tumpukan berkas terbuka. Beberapa catatan berserakan di samping laptopnya. Ia duduk di kursi kerja dengan posisi bersandar, kedua tangannya terlipat di d**a. Matanya menatap satu titik di layar, tetapi pikirannya melayang ke tempat lain. Sejak melihat foto di ponsel Bening, dadanya terus menegang. Ada banyak pertanyaan yang tidak berani ia ucapkan. Ada rasa tidak percaya yang menampar tiba tiba. Ada kemarahan, tetapi bukan pada Bening. Kemarahan itu menuju satu orang. Wiratama. Jika Wiratama tahu keberadaan Ayahnya. Jika benar selama ini ia mengunjungi rumah sakit jiwa itu. Jika ia tahu lebih banyak daripada apa yang diberitahukan pada Banyu. Maka semua yang terjadi selama ini bukan kebetulan. Banyu menghela napas

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD