“Mas, mau s.u.su atau teh?” tanya Bening sambil menuang air ke gelas. Matahari pagi menyelinap lewat jendela yang ada di ruang makan. Aroma roti panggang dan telur orak-arik memenuhi udara. Di meja, Bening sibuk menata piring, sementara Banyu duduk di kursi, tampak tenang tapi matanya menyimpan sesuatu yang berbeda dari biasanya. “Kopi aja.” “Kopi terus,” gumam Bening. “Padahal kamu belum boleh minum kopi. Nih air putih aja.” Banyu hanya menatap istrinya sebentar. “Kalau begitu kenapa tadi nanya.” Pagi itu sebenarnya berjalan seperti biasa. Seperti pagi-pagi lain yang mulai terasa lebih hangat di rumah itu. Tapi di dalam kepala Banyu, isi malam tadi belum pergi. Gambar pria bertato, simbol rune, dan nama perusahaan milik ayah mertuanya terus berputar tanpa henti. Ia memutar gelas di

