Risa berdiri tak jauh darinya. Suasana sunyi. Terlalu sunyi. “Banyu,” panggilnya pelan, nyaris seperti bisikan. Banyu mengangkat wajah dengan usaha besar. Pandangannya kabur. Ruangan seakan bergerak naik turun. Fokus matanya pecah, tapi ada satu hal yang jelas tertangkap oleh otaknya… Siluet Risa mendekat. Dia tidak bisa mengukur jaraknya. Tidak bisa menebak maksudnya. Ia hanya tahu tubuhnya tidak mampu bergerak cepat, dan pikirannya bergetar di antara sadar dan tidak. “Mas…” suara itu muncul. Tapi di telinganya, suara itu bukan suara Risa. Itu suara Bening. “Ben…ing?” gumamnya pelan. Risa terhenti sejenak, menatapnya dengan sorot yang sulit dibaca. “Kamu manggil siapa?” Banyu mencoba fokus, tapi yang tampak di hadapannya bukan Risa—melainkan bayangan Bening, berdiri dengan gaun

