Bab 59

2460 Words

Bening memegang gelas air hangat di tangannya. Uapnya sudah hampir hilang. Ia duduk bersandar ke sandaran sofa, napasnya lebih teratur dibanding sepuluh menit yang lalu. Tangannya sudah tidak terlalu gemetar, meski tubuhnya masih terasa lelah. Banyu duduk di seberangnya. Kursi itu tidak jauh, hanya berjarak meja kopi kecil. Namun entah kenapa jaraknya terasa seperti ruang yang sengaja diberi untuk memastikan mereka berdua bisa bernapas dulu sebelum bicara apa pun. Banyu tidak mendesak. Ia tidak membuka pembicaraan. Ia hanya duduk dengan tubuh sedikit condong ke depan, tangan saling bertaut. Tatapannya memerhatikan Bening, tetapi bukan tatapan yang menekan. Lebih seperti memastikan Bening benar-benar kembali stabil. Suasana itu hening beberapa saat. Hanya terdengar suara jam di dinding.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD