“Kita tetap pergi?” tanya Bening akhirnya. Sore turun perlahan di luar jendela. Tidak terlalu gelap, tetapi cukup untuk membuat kamar terasa tenang setelah hari panjang yang penuh emosi. Bening duduk di tepi ranjang, memperhatikan Banyu yang sedang mengganti kemeja. Suasana hening beberapa menit. Namun sebelum bertanya tadi, Bening sudah lebih dulu berdiri di depan meja rias. Ia menatap wajahnya lama, mencoba menutupi bekas bengkak di bawah mata dengan concealer tipis. Tangannya sempat bergetar ketika merapikan eyeliner. Ia mengurai rambutnya lalu mengikatnya setengah, melepas lagi karena tidak yakin, lalu mengikat ulang. Setiap gerakan seperti upaya untuk menahan gugup. Ini pertama kalinya ia melawan Papanya sampai seperti tadi pagi. Pertama kalinya ia benar-benar meninggikan suara di

