"Ca, sarapan dulu!" seru Bismi. Seraya mengetuk pintu kamar. Agar Cahaya keluar dan sarapan bersama mereka.
"Caca nggak mau, Bu," lirihnya. Begitu pintu kamar terbuka. Menampakkan ia di ambang pintu.
Wajah cantik yang biasanya berseri, kini tampak murung. Semakin diperburuk oleh kantung mata yang sangat mirip dengan mata panda. Karena selama ini tidak tidur dengan baik. Tubuhnya juga sakit tidur di atas kasur yang sangat tipis.
"Aih, menantu kesayangan Ibu. Tidak boleh begitu, Sayang. Kamu harus sarapan, biar nggak sakit. Kalau kamu sakit nanti Ibu sedih, Ca," ucap Bismi lembut. Merangkul Cahaya dan menuntunnya ke ruang dapur.
Tidak ada penolakan. Masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Caca ikut saja apa yang dikatakan Bismi. Selain karena segan, ia juga menghargai kebaikan Bismi padanya. Yang melimpahkan kasih sayang begitu besar, layaknya ibu sendiri.
Cahaya tertegun sendiri. Ibu? Ya, dia sangat merindukan Azmi, yang selalu memanjakannya. Selalu memberikan yang diminta, meskipun Reno melarang keras keinginan tersebut.
"Maaf, ya, Ca, yang ada hanya telur lagi. Besok Ibu belikan ikan atau ayam untuk Caca. Ah, andai saja ikan di tambak udah pada gede-gede, pasti menantu Ibu tidak akan makan ini. Ibu bakal bikin ikan bakar yang enak untuk Caca."
"Nggak usah menunggu ikan di tambak d
gede dulu, Bu. Besok subuh-subuh Ibu pergi ke pasar untuk membeli ikan. Agar dapat yang segar, dan bakar untuk Caca!" Timpan Solihin, ayahnya Rama. Pria berusia senja itu berjalan tertatih menuju ke dapur. Tidak sabar untuk bersenda gurau dengan menantu kesayangannya.
"Ah, Ayah benar. Besok Ibu akan pergi ke pasar dan membeli ikan untuk Caca."
Bismi yang sangat setuju dengan ide sang suami, semakin bersemangat. Ia memiliki kesempatan untuk menjaga dan membahagiakan Cahaya, yang merupakan anak kandung dari Reno. Orang yang selama ini banyak membantunya dalam segala hal.
Sampai detik ini ia bahkan belum pernah menyangka jika Cahaya adalah anak kandung Reno, yang lari dari rumah karena mendengar ingin dijodohkan dengan Rama. Itu artinya, Rama memang jodohnya Caca.
Saat Caca menolak keras untuk dijodohkan dengan Rama, tapi dengan sendirinya ia datang menghampiri. Sehingga
Begitu pun sebaliknya.. Saat Rama akan menikah dengan Reni, Caca datang dan membuat acara itu gagal dilaksanakan. Kini mereka berdua malah berjodoh dan menikah.
Namun, hingga detik ini Rama melarang sang ibu untuk memberitahukan siapa Caca yang sesungguhnya. Termasuk Caca sendiri. Karena ia tidak ingin ada yang iri hati dan malah semakin memperkeruh keadaan. Sehingga yang mengetahui identitas Caca hanyalah kedua orang tua dan Rama sendiri.
Caca menarik kedua sudut bibirnya. Perasaannya cukup terobati melihat kebaikan kedua orang tua Rama, yang sepantaran dengan dengan kakek dan neneknya jika masih hidup. Apalagi melihat hubungan mereka berdua yang sangat harmonis di usia yang mulai senja.
"Ca …," seru Bismi lembut. Menyentuh pundak Caca, yang sedari tadi hanya tertegun. Menatapnya dengan sang suami yang sedari tadi mengajaknya berbicara.
Namun, Caca hanya diam saja. Bahkan bergerak saja tidak, seakan ia sedang berada di dunia lain.
"Ya, Bu," sahut Caca cepat. Mengusap tengkuknya yang terasa dingin, karena tatapan pasangan suami-istri itu kini terpaku padanya.
"Tadi ayah nanya sama Caca, apakah Caca capek?" tanya Bismi. Seraya meletakkan sebotol kecap manis di dekat piring Caca yang telah berisi nasi. Disamping telur dadar yang digoreng sedikit kering, sesuai keinginan sang menantu saat pertama kali ia tiba di sana.
Caca menggeleng cepat. Capek? Tidak mungkin ia merasa capek sedangkan pekerjaannya hanya duduk dan berbaring di kamar. Sesekali duduk di belakang rumah memberi makan ikan untuk menghilangkan suntuk. Bahkan pakaiannya Rama yang mencuci dan merapikan ke dalam lemari. Minus untuk dalaman. Bagian inti dari pakaiannya dicuci sendiri setelah selesai mandi.
"Eemm … kalau Caca tidak capek, mau tidak ikut Ibu untuk pergi membersihkan rumah?" tanya Bismi penuh dengan kehati-hatian. Takut jika Caca marah, seperti saat Rama memintanya untuk mandi. Takut Caca mandi terlalu malam karena bisa masuk angin. Mengingat mereka hanya menggunakan air sumur untuk mandi.
Hari itu Caca marah dan berbicara dengan nada tinggi kepada Rama. Pada akhirnya Rama mengalah dan merebus air agar Caca bisa mandi dengan air hangat malam itu.
Kedua alis Caca bertaut. "Ikut? Bersihin rumah yang mana memangnya, Bu?" tanyanya.
"Eemm, itu, rumah yang akan kamu tempati bersama Rama. Letaknya …"
"Tu-tunggu dulu! Aku, sama om Rama?" Caca gelagapan. Wajahnya memucat karena Bismi mengatakan ia akan tinggal bersama Rama. Yang benar saja! Tidur satu kamar dengan Rama saja sudah membuatnya pusing dan tidak sanggup memejamkan mata. Dan baru bisa tertidur saat Rama pergi ke mesjid untuk sholat tahajud. Nantinya ia akan pulang selepas subuh dan langsung bersiap untuk ke ladang. Saat Rama berangkat terkadang Caca masih terlelap dalam tidurnya.
Meskipun ragu dan berat, Bismi tetap mengangguk perlahan. Membenarkan apa yang tanyakan Caca padanya. Sebenarnya ia pun belum mau melepaskan mereka berdua untuk tinggal berdua. Akan tetapi, ini adalah permintaan dan permohonan dari Reno. Agar Caca bisa belajar menjadi seorang istri dan terbiasa hidup bersama Rama.
"Bu, aku mau membantu Ibu untuk membersihkan rumah itu. Terserah mau di mana rumahnya. Tapi, aku tidak mau tinggal berdua dengan om Rama. Lagipula, aku besok pulang ke kota. Jadi aku tidak akan tinggal di sini lagi!" tutur Caca. Pelan tapi tegas.
Tetap mencoba tenang dan sabar. Demi kebaikan mereka semua, Bismi hanya menarik kedua sudut bibirnya. "Kamu tidak bisa pergi dari sini, Ca. Selagi Rama menyandang status sebagai suami kamu. Karena seorang istri dilarang pergi dari rumah, tanpa ridho dari suaminya. Dosa besar jika kamu pergi begitu saja dari Rama. Dan kamu tahu bukan, apa ganjarannya dari dosa?" Kedua alisnya terangkat. "Api neraka."
"Tapi, aku tidak pernah ingin menikah dengan om Rama. Lagipula malam itu aku dan tidak melakukan apa-apa, jadi kenapa kami harus dinikahkan? Ini bukan inginku."
Mata Caca mulai berkaca-kaca. Suaranya terdengar serak dan berat. Sungguh ia tidak ingin lagi berlama-lama tinggal di sana.
Meskipun kedua orang tua Rama begitu baik dan perhatian padanya. Tetap saja ia tidak mau tinggal di desa terpencil yang sangat jauh dari sentuhan pembangunan. Hal yang paling berat lagi adalah, harus memiliki suami seperti Rama. Jauh lebih tua dan tidak termasuk dalam kriteria pria idamannya.
Seandainya Rama itu muda, tampan, putih, dan kaya. Mungkin Caca akan mempertimbangkan lagi keputusannya untuk menerima Rama sebagai suami dadakan.
"Begini saja." Ayahnya Rama mulai bersuara. Setelah memperhatikan Caca dan sang istri. "Beri Rama waktu tiga bulan untuk memantaskan diri untuk menjadi suami kamu, Ca. Jika Rama gagal, kami siap melepaskan kamu pergi ke kota. Dan seandainya kamu menolak, besok Ayah akan meminta Rama untuk mengantarkan kamu pulang ke rumah, serta menceritakan apa yang sedang terjadi kepada kedua orang tuamu. Setelah itu, kamu bisa memutuskan untuk bercerai dari Rama. Ayah beri kamu waktu sampai nanti malam untuk berpikir."
Bismi mengangguk. Senyuman pun mengembang di bibirnya. Mendengar jalan keluar yang diucapkan oleh sang suami. Di mana keduanya sama-sama memiliki potensi yang besar bagi Rama untuk tetap mempertahankan rumah tangganya dengan Caca.
"Ta-tapi …"
Solihin mengangkat satu tangannya. "Sarapan dulu. Setelah itu, sambil membantu ibu beres-beres rumah yang mana tahu akan kalian tempati, kamu bisa berpikir keputusan apa yang akan kamu ambil. Dan nanti malam kamu sampaikan kepada ayah dan Ibu keputusan apa yang akan kamu buat," tuturnya. Dengan penegasan setiap kata yang terucap.
Caca meneguk ludahnya dengan susah payah. Tidak mampu membayangkan bagaimana jadinya saat ia pulang bersama Rama. Mengaku sudah menikah karena tertangkap warga sedang berduaan di dalam gubuk, dengan hanya menggunakan sarung saja. Pastinya Reno akan menggantungnya, atau meminta Rama membawanya pergi pulang. Sehingga ia hidup bersama Rama selama-lamanya.
Caca tergugu. Menahan nafas memikirkan pilihan kedua. Hidup dan tinggal bersama Rama di kampung tersebut selama tiga bulan. Tinggal dalam satu rumah dan mengurus segala keperluan Rama. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi? Seandainya nanti Rama melakukan apa-apa padanya bagaimana? Tidak akan ada yang mau menolong karena mereka berdua sepasang suami istri.
"Apa yang harus aku pilih?" Keduanya sangat merugikan dan menyeramkan." Caca terduduk lemas di lantai. Dengan sapu yang ikut terjatuh ke lantai, karena ia tak sanggup lagi menggenggam apapun lagi saat ini.
Jangankan tenaga. Ruhnya saja seakan sudah tak ada lagi di dalam tubuhnya. Menimbang dua pilihan dengan resiko yang nyaris sama, membuat Caca tak berdaya.
Hingga satu keputusan melintas di benaknya. Lebih baik mendapatkan masalah di awal daripada berdiam diri, tapi tetap saja hasilnya akan sama saja.
Dengan mengumpulkan segenap jiwanya yang sempat pergi melanglang buana entah kemana, Caca bangkit. Bertopang pada sapu dan berusaha untuk berdiri dengan tegak. Mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah semi permanen yang kini ia tempati.
Rumah dengan satu kamar yang kecil, ruang tamu sempit, sebuah kamar lagi yang jauh lebih kecil terletak bersebelahan dengan kamar utama. Dapur yang satu tempat dengan kamar mandi. Di rumah tersebut tidak ada sumur maupun air PDAM. Yang ada hanya air bersih yang mengalir dari kaki bukit. Dialiri dengan sebuah pipa besar, yang akan terhubung dengan selang kecil ke rumah-rumah warga. Termasuk rumah yang kini tengah dibersihkan oleh Caca.
Bismi juga berpesan agar meletakkan selang di lantai kamar mandi jika hujan turun. Karena air yang tadinya jernih akan bercampur dengan lumpur jika hujan turun.
Caca hanya mengangguk saja. Meskipun di dalam hatinya mencibir tidak akan pernah melakukan hal tersebut, karena ia tidak akan pernah tinggal di sana.
Bola matanya berputar malas. Mengejek rumah yang hanya seorang sebesar ruang makannya di rumah. Sebelum lanjut bekerja membersihkan rumah yang sepertinya sudah lama tidak ditinggali. Begitu banyak debu yang berterbangan selama ia membersihkan rumah tersebut.
Namun, Caca tidak peduli itu. Karena sebentar lagi ia akan pulang dan bersumpah akan mencari cara untuk bisa tetap tinggal di rumah kedua orang tuanya. Meskipun harus memohon atau melakukan banyak drama setibanya di sana nanti.
Mungkin di perjalanan nanti ia juga harus memohon kepada Rama agar tidak mengatakan hal yang sesungguhnya. Karena pria itu juga tampak tak menyukainya menjadi istri yang akan mendampingi hingga tua nanti.
***
"Ck, sebenarnya aku malas datang kesini. Tapi, demi memenuhi keinginan Reni, agar mengundang pria berengsek ini, aku harus jauh-jauh datang untuk mengantarkan ini," ucap seorang pria. Yang tiba-tiba saja datang dan melemparkan sebuah kertas bergambar yang dibungkus dengan plastik. Kepada Rama yang tengah membersihkan batang cengkeh dari rumput yang akan menghambat pertumbuhannya.
Rama yang sedang bekerja pun meraih kertas undangan tersebut. Berdiri dan menyerahkannya kembali kepada pria, yang tidak lain adalah Roland, bersama tiga orang temannya. Dengan alasan disuruh oleh Reni. Padahal itu adalah keinginan nya sendiri agar bisa memanasi Rama, karena satu Minggu lagi mereka akan melangsungkan pernikahan.
Alih-alih mara, Rama justru menarik kedua sudut bibirnya. Mengangguk. "Insyaallah aku akan datang." Kembali melanjutkan pekerjaannya, agar bisa segera selesai sebelum makan sholat Dzuhur. Karena ia harus datang ke sawah bapak kepala desa untuk memberi pupuk dan menyiangi pematang.
Setelah itu ia juga harus langsung ke rumah yang baru saja dibeli Reno, untuk tempat tinggalnya dan Caca. Rama menghela nafas. Sakit ditinggal Reni untuk menikah, lebih sakit lagi harus menjalani rumah tangga dengan Caca. Mulai besok harus tinggal berdua pula. Tidak bisa dibayangkan berapa banyak stok kesabaran yang harus disediakan untuk menghadapi gadis labil seperti Caca.
Melihat respon Rama yang biasa saja, membuat Roland panas sendiri. Sehingga ia pergi begitu saja dan menendang pohon pisang yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Menghela Rama yang sibuk bekerja dan benar-benar tidak terpengaruh dengan apa yang ia lakukan.
"Land, berarti benar gosip yang beredar di kampung waktu," ucap salah satu teman yang datang bersama Roland. Sebelum mereka benar-benar keluar dari ladang Rama.
Langkah Roland berhenti. Kedua alisnya bertaut menatap kepada temannya itu. "Gosip? Gosip yang mana?"
"Astaga … itu lo, gosip yang beredar ketika rencana pernikahan Rama dan Reni terdengar."
"Iya, gosip yang mana Udin! Kamu pikir aku itu ibu-ibu yang suka duduk di teras rumah dan gosipin banyak orang.. Aku itu sibuk bantu bapak di kandang sapi."
"Ck, sibuk di kandang sapi atau berjudi?" celetuk temannya satu lagi.
"Sama saja. Yang penting aku di kandang sapi, dan bantu bapak jagain itu sapi-sapi.. Terserah aku lah mau ngapain. Mau judi, mabuk, main kuda-kudaan pun tidak masalah. Asalkan sapinya nggak hilang itu sudah menjalankan tugas namanya!" tutur Roland membela diri. Karena teman-temannya bukannya bercerita, tapi malah menyebutkan apa yang dilakukannya setiap kali berada di kandang sapi.
Disaat orang tuanya mengira ia membantu dengan baik, menjaga, membersihkan kandang, dan memberi makan sapi, Roland justru sibuk bersenang-senang dengan wanita dan berjudi. Pekerjaannya akan digantikan oleh teman-temannya.
Sebagai anak dari toke beras dan toke hasil bumi, serta juragan sapi, Roland merupakan orang yang terkaya di desa tersebut. Disaat orang lain menggunakan becak dayung dan sepeda, hanya keluarganya yang memiliki sepeda motor dan mobil.
Namun, sayangnya itu belum cukup membuat banyak gadis jatuh cinta, termasuk Reni. Yang menggandrunginya hanyalah wanita-wanita nakal yang malas bekerja di sawah. Sehingga rela menemani dan melayani Roland, apapun yang ia inginkan.
Kalau sudah seperti itu, mana ada yang mau menjadikannya menantu apalagi suami. Bahkan warga sudah lelah dengan kelakukan Roland yang suka berjudi, dan bisa lepas dari hukuman jika tertangkap basah sedang melakukan hubungan terlarangg. Saksi yang mendapati selalu saja mengklarifikasi perbuatannya, dan meminta maaf karena khilaf dan salah sangka. Sehingga hingga detik ini ia bebas melakukan apa saja yang diinginkannya.
"Sudah-sudah! Kalian kenapa jadi ngomongin sapi, sih?" Menampar pipi teman-temannya secara bergantian. "Sekarang jawab dan jangan bertele-tele. Gosip apa yang kalian dengar, agar aku tidak mati penasaran kenapa bujang lapukk itu tidak cemburu apalagi marah!"
"Ish, santai, Land! Kita kan juga butuh …"
"Cepat katakan dan jangan lagi banyak cakap!" Roland mengacungkan jari telunjuk dan meremas kerah baju temannya itu. Ia benar-benar tidak sabar tahu apa gosip yang beredar itu.
"Iya, iya, gosipnya, Rama tidak mencintai Reni. Hanya Reni saja yang tergila-gila padanya dan merengek meminta dijodohkan. Akhirnya kedua orang tua mereka sepakat, makanya rencana itu ada."
"Oh, ya?" Mata Roland membesar. Ia menoleh ke belakang dan melihat ke arah Rama yang masih sibuk bekerja. Pria itu tampak tak peduli apa yang mereka bicarakan saat ini. "Ck, apa bagusnya dia. Sehingga banyak gadis yang ingin menjadi istrinya. Lagian, itu gadis kota ngapain juga mau buka-bukaan dekat dia. Kalau bukan karena ingin mengalahkannya untuk mendapatkan Reni, aku sudah menyantap gadis kota itu. Yang lebih muda dan cantik," umpatnya.
Malah menyesal saat melihat bagaimana sosok Caca yang sesungguhnya. Gadis yang sangat cantik, bertubuh mungil, berkulit putih bak susuu, berambut panjang dan hidung yang sedikit mancung. Jangan lupakan bulu matanya yang lentik menghiasi matanya yang bulat.
Namun, Roland terlambat menyadari itu semua. Rama sudah terlanjur menikahinya, dan tentu saja sudah melakukan malam pertama. Benar-benar pria sial yang justru dapat permata yang berkilau.
"Ya, udah, lah, Land. Yang terpenting kamu sudah dapat kembang desa yang masih perawan. Sebentar lagi akan menikah pula. Apalagi?" sela salah satu temannya. Mulai gerah melihat Roland yang selalu saja ingin memiliki apa yang dimiliki oleh Rama. Padahal dulu mereka berdua bersahabat dekat.
Hanya karena Rama tidak ingin ikut apa yang ia lakukan, dan gadis yang disukainya malah memilihnya, disitu Roland mulai iri dan membencinya. Berjanji akan mengganggu dan merampas apa saja yang menjadi milik Rama.
***
"Yah, ada uang lima ribu tidak?" tanya Bismi. Saat ia baru selesai memeriksa dan membongkar lipatan pakaian di dalam lemari.
Mencari uang yang terselip untuk ke pasar besok. Rencana uang tersebut akan digunakan untuk membelikan ikan dan ayam untuk Caca. Agar menantunya itu tidak hanya makan telur dan kecap saja.
Solihin berpikir sejenak. Sebelum bangkit dan mencari peci yang biasanya ia kenakan saat sholat Jum'at, sebelum sakit. Sekarang ia tidak sanggup, karena kondisi kesehatannya sudah tidak memungkinkan lagi untuk pergi ke masjid.
"Alhamdulillah masih ada," gumamnya pelan. Saat tangan tuanya menemukan uang sepuluh ribu di sela peci tersebut. Sisa uang sedekah saat ia pulang sholat Jum'at waktu itu. "Kalau ada sisa, belikan Caca sate, ya, Bu. Atau es campur, biar dia bisa makan enak."
Bismi mengangguk cepat. "Nanti Ibu belikan. Semoga saja Caca betah di sini ya, Yah. Ibu sangat menyayangi dia seperti anak kita sendiri. Sehingga Ibu bisa merasakan bagaimana menyebabkannya memiliki anak perempuan. Setelah belasan tahun yang lalu Allah SWT mengambil putri kecil kita untuk selamanya. Dengan adanya Caca, rasa itu kembali ada. Seakan Yelsi, putri kita, hidup kembali. Ibu sangat berharap Caca mau tinggal lebih lama disini, meskipun dia akhirnya memutuskan untuk pergi. Setidaknya Ibu bisa merasakan memiliki anak perempuan lagi," lirihnya. Dengan nafas yang tercekat.
Sangat besar harapan Bismi pernikahan Caca dan Rama berlanjut hingga maut memisahkan mereka berdua.
"Insyaallah, Bu, " ucap Solihin. Yang memiliki harapan yang sama dengan sang istri. Menyentak Caca, yang sedari tadi berdiri di depan pintu kamar mereka berdua. Memporak-porandakan rencananya esok hari untuk pulang ke rumah kedua orang tuanya.