Selama menikah dengan Cahaya, kehidupan Rama langsung jungkir balik begitu saja. Hancur lebur dan berantakan. Cahaya berhasil memporak-porandakan kehidupannya yang selama ini berjalan dengan sangat baik.
Seperti pagi ini. Cahaya sudah melemparkan gamis yang baru saja dibelinya di tempat istri kepala desa. Berharap istrinya itu mau menutup auratnya.
Alih-alih menerima, Cahaya justru melemparkan pakaian tersebut ke lantai. Kepalanya menggeleng cepat. "Aku tidak ingin mengenakan pakaian yang akan menelanku dari ujung kaki hingga ujung rambut! Aku gerah …!" pekiknya. Menatap tajam kepada Rama, yang kini mematung. Tidak percaya ada gadis seperti Cahaya. Tidak tahu terima kasih dan tidak mau diatur.
AstaghfirullahAladzim. Rama mengusap dadanya. Meredam emosi yang sebenarnya sudah siap meledak dan siap mencecar Cahaya dengan banyak kata y yang telah ada di pangkal tenggorokannya.
Namun, Rama menelan kembali kata-katanya. Tidak ingin Cahaya semakin membenci pernikahan mereka berdua. Pernikahan yang ternyata sudah terencana dan mereka memang sudah dijodohkan.
Rama yang belum mau menegur Cahaya, keluar dari kamar sempit tersebut. Setelah memungut gamis merah muda yang tadi dilemparkan Cahaya padanya.
Rama memilih menghindar sejenak. Memberi waktu bagi gadis itu untuk berpikir jernih. Agar mampu menerima nasehat yang akan di diberikannya nanti.
"Bagaimana? Apakah Caca suka?" tanya sang ibu. Saat Rama menutup pintu kamar yang ada di belakangnya.
Rama menggelengkan kepalanya. "Dia tidak menyukai pakaian yang seperti ini. Katanya gerah, Bu." Menyerahkan gamis merah muda tersebut kepada sang ibu.
"Tidak apa. Kamu bisa memintanya secara perlahan. Tetap sabar, dan percayalah. Suatu hari nanti dia akan berubah dan menerima dengan tulus pernikahan kalian berdua." Wanita paruh baya itu mengusap lengan Rama. Menerima gamis merah muda tersebut dan membawanya ke kamar.
Menyimpan dengan baik, dan berharap suatu saat nanti Cahaya mau mengenakannya tanpa diminta apalagi dipaksa. Doa dari seorang ibu yang begitu tulus, biasanya cepat dikabulkan.
Mengeluh adalah sikap manusia yang cukup sulit untuk dihilangkan. Termasuk bagi Rama, yang saat ini harus dihadapkan dengan keberadaan Cahaya sebagai istri sahnya.
Tidak tanggung-tanggung. Cahaya yang dianggap sebagai istri tidak sengaja, dan berharap bisa diceraikan dalam waktu dekat, ternyata adalah anak dari pria yang beberapa waktu lalu ditolong oleh ayahnya saat mengalami kecelakaan. Sekaligus orang yang selalu membantu keluarganya dalam kesusahan, terutama untuk biaya pengobatan sang ayah.
Sehingga ada niat bagi pria bernama Reno Putra Anderson itu, untuk menjodohkannya dengan Cahaya. Tapi, sayang. Cahaya sudah kabur sebelum niat tersebut disampaikan kepada kedua orang tuanya.
Namun, niat Reno untuk menjodohkan Cahaya dengannya ternyata didukung oleh Allah SWT. Sehingga kini mereka sudah menikah karena kejadian yang tidak terduga. Cahaya lari dari rumah untuk menghindari perjodohan mereka, tapi justru datang sendiri memperlancar perjodohan mereka.
Tidak tahu sudah berapa kali Rama menghela nafas berat. Duduk tertunduk di belakang rumah, seraya menanti sang ibu selesai membungkus makanan untuknya yang akan dibawa ke ladang. Seperti hari biasanya, sambil menanti Rama duduk memberi makan ikan yang ada di tambak.
Sambil merenungkan kembali nasibnya yang kini sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Semenjak ada Cahaya, dan kepulangan dari rumah Reno kemarin.
Pria itu tampak bahagia saat Rama menanyakan apakah memiliki anak perempuan bernama Cahaya Oktaviani Anderson? Gadis mungil berkulit putih dan berlesung pipi.
Tidak perlu banyak waktu bagi Reno untuk menjawab pertanyaan Rama. Karena ia memang kehilangan anak gadis, dengan ciri-ciri dan nama yang sama seperti yang dikatakannya.
Keyakinan itu semakin kuat saat Rama melihat foto keluarga yang terpajang di ruang tamu. Tampak Reno dan Azmi, tengah duduk dikelilingi oleh tiga orang anak perempuannya. Salah satu dari mereka adalah Cahaya.
Bukan hanya foto yang menjadi bukti. Melainkan Azmi, istri Reno, yang tampak sangat mirip dengan Cahaya. Serta ada kesamaan antara cara Cahaya menatap dengan tatapan mata Reno.
Mau bukti apalagi? Tidak ada. Semuanya sudah jelas dan ia harus menerima pernikahannya dengan Cahaya. Alasannya bukan cuma karena Allah SWT membenci sebuah perceraian. Akan tetapi, ada budi yang harus dibalas dan permohonan yang harus dikabulkan.
Mengejutkan. Reno langsung bersimpuh di hadapan Rama. Begitu tahu pria itu sudah menikah dengan Caca, putrinya.
"Aku mohon jangan pernah tinggalkan dia, Ram. Aku mohon terima dia menjadi istrimu, dan tuntun dia menuju jalan yang benar. Lanjutkan tugasku sebagai ayah untuk menuntunnya ke jalan yang lebih baik."
Deretan kalimat berisi permohonan tersebut diungkapkan Reno, dengan mempertahankan simpuhnya. Agar Rama luluh dan mau menerima Cahaya.
Adakah keinginan untuk menolak? Tentu saja ada. Akan tetapi, Rama tidak akan pernah berani mengatakannya. Karena kedua orang tuanya turut mendukung dan memohon agar tidak ada perceraian di antara mereka berdua.
Apalagi yang akan dilakukan Rama kalau bukan menerima dengan ikhlas pernikahannya bersama Cahaya. Berharap suatu hari nanti ada keajaiban yang datang untuk mereka berdua.
Kalau bukan saling menerima, setidaknya ada alasan yang tepat bagi mereka untuk berpisah jika benar-benar tidak akan pernah ada kecocokan diantara mereka berdua.
"Setelah dari ladang, kamu harus bersihkan rumah yang ada di dekat sawah pak Joko. Itu adalah rumah yang telah dibeli mertuamu untuk kalian berdua tempati. Nanti kalau Ayah sudah agak mendingan, kami akan bawa Caca kesana untuk membantu membersihkan rumah itu," ucap Bismi. Ibunya Rama. Menepuk pundak Rama yang tengah duduk melamun.
"Bu," Rama menoleh. Melihat ke arah wanita berusia senja, yang telah melahirkan dan membesarkannya dengan sangat baik. Andai saja cinta pertemuannya itu tidak ikut meminta, mungkin saja besok ia diam-diam mengantarkan Cahaya ke kota.
Namun, sayangnya diantara mereka berdua yang paling bahagia melihat pernikahannya dengan Cahaya, adalah sang ibu. Yang kini menatap penuh kasih padanya.
"Jangan jadikan ini sebagai beban. Tapi, jadikan ini tantangan agar bisa meluluhkan hatinya yang masih keras seperti batu. Ibu yakin, dengan begitu kamu akan lebih bisa menerima dan ikhlas. Kamu mengerti, Ram?"
Lagi. Semangat dan dorongan diberikan sang ibu padanya. Ah, sudah lah. Daripada mengeluh lebih baik ia jalani saja dengan sabar. Hitung-hitung untuk membahagiakan kedua orang tuanya.
"Aku mengerti, Bu. Sangat mengerti. Tapi, tetap saja aku butuh bantuan Ibu untuk menuntun dan mendoakan aku, agar bisa selalu kuat dalam melewati ini semua," pinta Rama tulus. Meminta doa dan restu kepada sang ibu, agar ada kemudahan baginya untuk menjalani ini semua.
"Tentu saja, Ram." Anggukan pun diberikan Bismi. Menyetujui permintaan Rama. Tentu saja ia menyetujui hal tersebut. Karena mendoakan Rama adalah hal wajib yang ia lakukan. Tanpa diminta sama sekali.
"Kamu jangan sampai terlambat makan siang. Ingat. Asam lambungmu tidak menyukai itu," ucap Bismi. Setelah Rama mencium punggung tangannya. Berpamitan untuk pergi ke ladang, seperti rutinitasnya sehari-hari.
Jika tidak ada halangan, selesai menyiangi tanaman yang ada di ladang, sore harinya Rama akan pergi ke sawah. Menyiangi sawah tetangganya, agar mendapatkan penghasilan tambahan sambil menunggu panen di kebun.
Ya, meskipun ketika ke kota kemarin ia diberi uang dalam jumlah yang sangat banyak, tidak ada sedikitpun Rama berniat untuk menggunakan uang tersebut. Ia ingin menjadi suami yang sesungguhnya. Menafkahi Cahaya dengan jerih payah dan keringatnya sendiri.
"Iya, Bu. Insyaallah aku akan makan tepat waktu. Aku pergi dulu, ya, Bu. Assalamualaikum," sahut Rama. Sebelum mengayuh sepeda tuanya. Menyusuri jalan setapak untuk menuju ke ladang.
"Waalaikumsalam. Hati-hati, Ram!" ucap sang Ibu. Melambaikan tangannya hingga Rama menghilang dari pandangannya.
Seulas senyuman mengembang di bibir Bismi. Melepaskan kepergian sang anak untuk pergi bekerja. Masih sama seperti dulu. Ia melepaskan Rama pergi bekerja dengan doa tulus yang selalu menyertainya.
Meskipun seharusnya saat ini bukan Bismi lagi yang mengemasi segala keperluan Rama dan melepaskannya pergi bekerja. Seharusnya Caca, yang hampir satu Minggu ini menyandang status sebagai istri Rama, sekaligus menantunya.
Bismi menghela nafas. Sebelum membantu sang suami untuk sarapan, ia terlebih dahulu membuat dadar telur untuk Cahaya. Agar gadis itu bisa sarapan bersama dengannya dan sang suami.
Selama tinggal di sana, hanya telur atau mie instan yang menjadi menu makan untuk Cahaya. Karena Rama tidak mampu untuk membeli makanan mewah seperti yang dimakan Cahaya ketika masih tinggal di rumah kedua orang tuanya.
Selain tidak memiliki uang cukup, di desa terpencil tersebut tidak ada orang yang menjual makanan cepat saji seperti yang diinginkan Cahaya.. Yang ada hanya sate atau penjual gorengan. Penjual miso ayam yang akan berdagang setiap malam Minggu saja. Itu adalah tiga menu yang sangat mewah di desa tempat Rama tinggal. Di sana tidak ada yang istimewa, bahkan pasar pun hanya ada satu kali seminggu. Itupun tidak lama dan tidak lengkap.
"Rama! Aku ingin bicara!" seru seorang wanita. Saat Rama melewati sebuah rumah semi permanen, tiga belokan sebelum memasuki kawasan ladang dan sawah.
Rama yang sangat hafal dengan suara tersebut menghentikan laju sepedanya. Menoleh dan tatapannya bertemu dengan Reni, yang berdiri di depan pagar rumahnya. Gadis itu tampak pucat dengan mata yang bengkak. Tubuhnya jauh lebih kurus dibandingkan saat terakhir kali mereka bertemu.
"Reni," gumam Rama. Diam terpaku melihat gadis yang dicintainya berjalan mendekat.
Plak!!
Rama diam. Mengatupkan mulut dan menahan diri untuk tidak bergerak. Meskipun sekedar untuk mengusap pipinya yang panas karena tamparan Reni.
Plak!!
"Sakit?" lirih Reni. Diiringi dengan air mata yang mengalir di pipinya. Meluapkan rasa sakit yang selama ini ia tahan.
Namun, hari ini ia harus meluapkan kemarahan dan kesedihannya selama ini. Setelah mengurung diri semenjak mengetahui Rama melakukan hubungan terlarangg dengan seorang gadis cantik dari kota.
"Aku tidak pernah bermaksud untuk menyakitimu, Ren. Ini terjadi begitu saja dan satu hal yang harus kamu ketahui, tidak semua cerita yang kamu dengar dari orang lain itu benar. Aku dan dia …"
"Kamu dan dia sudah menikah, benar?" sambung Reni. Dengan suara serak dan berat. Tenggorokannya tercekat harus mengucapkan kata yang begitu menyakitkan baginya.
Rama mengangguk lemah. "Ya, aku dan dia sudah menikah."
"Kalau itu benar, itu artinya apa yang dikatakan orang-orang itu benar. Roland melihatmu dan dia …" Reni menahan nafas. "Kamu dan dia sama-sama tidak mengenakan pakaian dan berada dalam satu sarung."
Runtuh sudah. Sudah berusaha sekuat tenaga untuk menahan air matanya agar mengalir tidak terlalu deras, tetap saja ucapan Roland padanya malam itu masih terngiang dan masih sama pula rasa sakitnya.
Rama. Pria yang begitu dicintainya melakukan perbuatan yang begitu hina di gubuk dekat sawah. Untuk meyakinkannya, Roland datang membawa satu set pakaian Cahaya, yang tertinggal di gubuk, saat keduanya diarak keliling kampung.
"Itu tidak benar. Aku dan dia …"
"Tidak benar? Tidak benar katamu? Kamu tunggu disini, jika memang apa yang dikatakan Roland bukanlah sebuah kebenaran!" tegas Reni. Sebelum lari masuk ke rumahnya. Untuk mengambil barang bukti yang serahkan Roland padanya malam itu.
Ingin tahu apa yang membuat Reni begitu yakin atas tuduhan orang-orang kampung, Rama diam. Menunggu Reni datang dan melihat apa yang akan gadis itu tunjukkan padanya.
"Ini! Kamu tahu ini, kan?" tanya Reni. Yang tiba-tiba saja datang dan melemparkan pakaian Cahaya. Sehingga semuanya berserakan di jalan dan menjadi tontonan beberapa warga kampung yang kebetulan lewat untuk pergi ke sawah.
"Coba lihat baik-baik. Itu pasti punya dia, karena tidak mungkin ada warga sini yang memiliki pakaian bermerek seperti itu."
Rama masih diam tak bersuara. Turun dari sepeda dan memungut pakaian Cahaya yang berserakan. Menggulungnya secara asal dan memasukan ke dalam tas yang terbuat dari goni. Tempat yang digunakannya untuk meletakkan bekal ke ladang.
"Benar ini punya Cahaya. Tapi, cerita yang kamu dengar tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Terserah kamu ingin percaya atau tidak, yang jelas aku berkata sejujurnya. Assalamualaikum!" ucap Rama. Langsung mengayuh sepedanya untuk melanjutkan perjalanan ke ladang.
Pria itu merasa tidak ada gunanya untuk berdebat dengan Reni, yang akan semakin memperburuk namanya dan Cahaya. Karena ia sadar. Semalam dijelaskan maka semakin kuat pula orang lain tidak ingin mempercayai apa yang dikatakan.
Ada saat untuk mengalah dan diam. Biarkan waktu yang akan berbicara dan menjelaskan bahwasanya apa yang dikatakan Roland adalah sebuah kebohongan untuk menggantikan posisinya menikahi Reni.
Dan sepertinya Roland berhasil. Tidak ingin malu karena anaknya gagal menikah, Salamah, selaku ibu Reni menyetujui niat baik Roland untuk menjadi pengganti untuk Rama. Bahkan pernikahan dipercepat karena Reni ingin Rama merasakan sakit yang sama dengannya. Melihat orang yang dicintai malah memilih untuk menikah dengan orang lain.
Disaat Rama pergi, Caca masih saja berdiam diri di kamar. Merutuki nasibnya yang sial bisa menikah dengan Rama. Diminta pula memakai hijab yang baginya sangat panas jika dikenakan. Ia juga belum siap untuk mengenakan hijab karena jika dilepas pasang tentunya akan menimbulkan omongan buruk dari orang lain. Caca tidak ingin itu terjadi.
Cukup rasanya ia menikah dengan Rama karena fitnah. Hidup dalam kekurangan dan jauh dari kemewahan. Entah sanggup atau tidak. Entah hanya untuk sesaat atau selamanya. Yang jelas itu yang kini sedang di hadapinya.
Selain tidak terima dengan caranya menikah, Caca juga merasa iri dengan kakaknya. Terutama Azna. Ia bisa menikah dengan pria tampan dan sangat mencintainya. Meskipun harus melewati banyak cobaan, tapi justru itu yang membuat mereka bersatu. Kisah singkat yang cukup rumit, tapi berakhir bahagia.
Sepenggal kisah Azna dan Leon
"Aku tidak tahu bagaimana caranya memberitahukan kepada Arleta, bahwa kita telah lebih dulu menjodohkan Leon dengan Azna, anaknya Azmi. Dan gara-gara itu perjodohan tersebut gagal, sehingga menimbulkan masalah baru" Dimas terduduk lemas. Gara-gara janji Ega kepada Arleta, sekitar dua puluh lima tahun yang lalu.
Waktu itu Ega berani berjanji karena kehamilan Arleta yang masih muda. Dalam pikirannya belum tentu juga anak yang akan lahir adalah perempuan.
Namun, Ega salah. enam bulan kemudian Arleta mengabarkan bahwa anaknya adalah perempuan. Dengan hati yang begitu gembira ia mengabarkan dan mengingatkan Ega tentang janji tersebut.
Saat anak Leon anaknya Ega dan Dimas berusia tujuh tahun, perjodohan tersebut sampai ke telinga Azmi. Meskipun kecewa ia tetap menerima perjodohan Leon dengan Ayla, anaknya Andrean dan Arleta.
Azmi tidak ingin memperpanjang masalah dan merusak segalanya. Dalam pikirannya, berarti Azna dan Leon tidak berjodoh.
Namun, saat perjodohan tersebut telah dibatalkan beberapa tahun yang lalu, saat Azna dan Leon tumbuh remaja mereka berdua justru saling jatuh cinta dan menjalin hubungan serius.
Dan tadi malam Leon menyampaikan niatnya untuk melamar Azna. Karena kini ia telah membangun sebuah perusahaan otomotif, sehingga hidupnya kini sudah jauh dari mapan. Perusahaan yang terletak di kota lain mengharuskannya tinggal di luar kota dan jarang pulang, menjadi salah satu alasan Leon untuk melamar Azna.
Agar Tak ada lagi jarak diantara mereka berdua, yang akan menghadirkan rindu. Rindu yang begitu menyesakkan da'da dan membuat Azna sering menangis menghadapinya.
Ega bungkam. Ia tidak tahu harus menjawab apa kepada Dimas. Karena ini semua memang salahnya menerima perjodohan dari Arleta dan membatalkan perjodohan dari Azmi. Kini justru anaknya dan Azmi menjalin hubungan bersama.
"Mas …" Ega menyentuh lengan Dimas. "Aku minta maaf telah menghancurkan segalanya. Dan aku berjanji padamu akan memperbaiki ini semua." Bangkit dari duduknya.
Dengan langkah gontai Ega meninggalkan Dimas. Tujuannya saat ini adalah rumah Arleta dan Andrean. Dengan mengumpulkan seluruh kekuatan dan keberaniannya, Ega pergi kesana untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Namun, saat Ega ingin melangkah masuk ke dalam rumah yang tengah terbuka, ia disuguhi dengan pemandangan menyesakkan da'da.
Ada Ayla yang tengah bersimpuh di hadapan Arleta dan meminta agar memohon kepada Leon untuk menerima cintanya. Karena ia mendengar desas-desus bahwa pria itu mencintai wanita lain dan akan segera melamarnya.
"Sayang … kamu tenang saja. Mami akan berbicara dengan tante Ega, agar pernikahanmu dan Leon segera dilangsungkan. Mami yakin, jika orang tuanya yang berbicara dia mau melakukannya. Jangankan menerima pernyataan cintamu, menikahimu pun Leon pasti mau." Mengusap pucuk kepala Ayla. Gadis yang begitu cantik dan manja. Segala keinginannya pasti akan dituruti. Karena Ayla adalah anak satu-satunya.
Mendengar hal tersebut Ega mundur. Niatnya batal untuk menyampaikan segalanya hilang begitu saja. Tidak tega melihat Ayla yang begitu dekat dengannya menangis iba seperti tadi.
Mengusir rasa sesak di hatinya, Ega duduk di sebuah taman. Taman yang biasa mereka gunakan untuk berkumpul di ujung Minggu.
"Apa yang Bunda lakukan disini?" Leon duduk di samping Ega. Merangkul sang ibu ke dalam pelukannya.
"Leon?" gumam Ega. Menoleh kepada putranya Ia cukup terkejut atas kehadiran Leon di sampingnya. Setahunya Leon pulang satu kali dalam sebulan. Dan hari ini baru satu Minggu semenjak kepulangan Leon waktu itu.
Leon mengulas senyum. "Iya, Bun. Ini aku, Bun. Aku yakin Bunda terkejut atas kehadiranku disini."
Ega mengangguk pelan.
"Aku pulang karena ingin melamar Azna, Bun. Dan aku berharap Bunda dan ayah merestui. Ya, walaupun aku sempat mendengar akan dijodohkan dengan Ayla. Aku harap itu hanya kebohongan semata karena bagiku dia hanyalah seorang adik tidak lebih," ungkap Leon. Menggenggam tangan Ega dan mencium punggung tangannya.
Ega mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Restu? Tentu saja ia mau memberi restu. Karena Leon dan Azna dari awal memang sudah dijodohkan. Ega juga menyayangi Azna, yang ceria dan begitu menggemaskan.
"Bun …" seru Leon pelan.
"Ah, ya, Nak?"
"Bun, mau kan merestui kami?" desak Leon. Ia ingin mendapatkan jawaban 'ya' dari Ega. Seandainya sudah dapat, maka restu dari sang ayah akan didapat pula. Karena seluruh keputusan ada di tangan Ega.
Ega menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. "Justru Bunda ingin mengatakan padamu, bahwa perjodohan dengan Ayla itu benar adanya. Maafkan Bunda, Nak."
Leon tersentak. Tangannya yang tengah menggenggam tangan Ega terlepas. Ia kecewa, terluka, dan sakit. Bunda yang begitu dicintai malah memikirkan perasaan Ayla dan janji masa lalu daripada anaknya sendiri.
"Aku kecewa sama Bunda. Disini anaknya Bunda itu aku bukan Ayla," ucapnya. Sebelum pergi meninggalkan Ega sendirian.
Wajah Ega yang tertunduk terangkat. Memandangi punggung Leon yang perlahan menjauhinya. Ia tahu dan sadar diri putranya marah dan kecewa atas keputusan yang telah dibuat. Sehingga tidak ada sedikitpun niatnya untuk menahan langkah Leon.
Sejenak Ega berpikir. Apa yang harus ia lakukan. Saat Leon menyampaikan niatnya untuk melamar Azna, tentu saja gadis itu pun mengetahuinya. Begitu pula dengan Azmi.
Dan itulah yang mendorong Ega untuk menghubungi Azmi. Meminta bertemu dan menyampaikan segalanya.
Tidak berselang lama, Azmi datang menggunakan taxi online. Dengan langkah cepat ia menemui Ega di taman.
"Apakah kamu sudah mendengar keinginan anak kita, sehingga kamu memintaku untuk datang?" terka Azmi tepat sasaran. Karena sebelum Ega menghubunginya, Azna sudah mengatakan Leon pulang untuk melamarnya malam ini.
Mendengar hal tersebut Azmi langsung gelagapan. Ia tidak menyangka Azna masih menjalin hubungan dengan Leon.
"Sudah, Mi. Dan aku melukai Leon. Karena memilih menikahkan dia dengan Ayla," lirih Ega.
Mata Azmi terpejam. Sudah menduga kalimat tersebut yang akan muncul. Sehingga ia tidak terlalu terkejut mendengarnya.
"Maafkan aku akan melukai Azna atas perjodohan ini. Dulu, seandainya aku menolak keinginan Arleta dan tidak sok tahu bahwa anaknya adalah laki-laki, tentu saja perjodohan Azna dan Leon tidak batal. Ini semua salahku. Lagi-lagi kebodohanku melukai orang yang kucintai."
"Persis seperti dulu Saat aku kehilangan Andrean. Dengan percaya dirinya aku meyakinkan diri bahwa cinta yang dimiliki akan mengalahkan segalanya. Tapi aku salah. Cinta itu luntur karena perhatian dan rasa nyaman."
Mau yang lengkap? Melipir ke Jadilah Ibuku. Kalau diselesaikan disini aku bisa diamuk Caca. Hahaha