Banyak warga memvonis agar Cahaya dan Rama harus dinikahkan malam ini juga, membuat kedua orang tuanya hanya mampu mengikuti keinginan tersebut.
Langsung saja. Satu jam dari sidang tersebut Cahaya dan Rama resmi dinikahkan. Dan saat Cahaya memberitahu siapa nama lengkap ayahnya, Rama dan kedua orangtuanya tersentak.
Reno Putra Anderson. Nama dengan tiga suku kata, yang begitu akrab dengan telinga mereka bertiga. Namun, keluarga baru Cahaya tersebut memilih bungkam dan akan mencari tahu siapa sebenarnya gadis yang kini menjadi istri Rama saat ini.
Untuk sementara waktu, mereka akan menyimpan rahasia ini rapat-rapat. Agar tidak semakin memperburuk keadaan yang ada. Bagaimana jadinya jika memang Reno Anderson yang dimaksud oleh Cahaya adalah, Reno yang selalu datang memberikan mereka uang sebagai tanda terimakasih? Dan jika warga tahu hal ini, tentu saja akan ada fitnah lagi yang akan memojokkan Rama nantinya. Menuduh putra mereka menggoda Cahaya untuk mendapatkan kekayaan Reno.
Reni yang menyaksikan pernikahan Rama dan Cahaya, menatap nanar kepada sepasang pengantin baru tersebut. Ia juga meratapi atas batalnya pernikahan yang telah dipersiapkan dengan matang.
Ia terluka dan kecewa atas apa yang dilakukan Rama bersama Cahaya. Karena Roland mengatakan mendapati mereka sedang saling tindih di dalam pondok. Dan gosip itu pun langsung berhembus mengalahkan kecepatan cahaya.
Usai menikah, Cahaya dan Rama kini sama duduk di ranjang tua, yang dilapisi oleh kasur tipis. Tempat di mana biasanya Rama melepas penat setelah lelah bekerja.
"Katakan bagaimana caranya kamu bisa sampai disini?" tanya Rama. Memandang betapa cantik dan putihnya gadis yang kini duduk seraya menunduk di hadapannya. Kulit Cahaya yang begitu putih, sangat kontras dengan daster lusuh yang kini dikenakan.
Rambutnya yang hitam panjang kini tergulung secara asal, semakin membuat Cahaya terlihat manis.
"A-aku, tidak tahu bagaimana pastinya, Om. Terakhir kali yang kuingat, aku tengah lari dari orang jahat yang ingin menangkapku. Sehingga aku bersembunyi di dalam sebuah mobil pengangkut barang dan turun di pondok tadi karena aku haus dan lapar," lirihnya. Tidak mengungkapkan alasan yang sesungguhnya, karena Cahaya takut dipulangkan ke rumah. Tekadnya masih bulat untuk lari dari rumah.
Setelah ini ia akan mencari cara untuk pergi. Dengan atau tanpa izin Rama. Karena Cahaya tidak rela memiliki suami setua Rama. Tiga puluh sembilan tahun? Yang benar saja!
"Baiklah kalau begitu. Satu kali dalam seminggu akan ada angkutan umum yang akan membawa warga desa menuju ke kota, untuk membeli dagangan yang dibutuhkan oleh warga sekitar. Dan lima hari lagi adalah waktunya. Sekarang aku tanya, di mana tempat tinggalmu?"
Cahaya mengerjap dua kali. Otaknya segera berpikir kota mana yang akan menjadi sasarannya.
"Aku dari Surabaya," ucapnya.
"Surabaya?" Kedua alis Rama nyaris bertaut.
Surabaya? Sedangkan mobil yang mengantarkan barang pesanan istri kepala desa berasal dari Jakarta? Sekarang Rama tahu apa yang menuntun Cahaya menaiki mobil pengangkut barang tersebut.
Rama berani taruhan Cahaya pasti kabur dari rumah. Entah apa alasannya, yang jelas lima hari lagi ia akan pergi ke kota dan mencari keberadaan Reno Anderson. Entah mengapa firasatnya mengatakan Cahaya adalah putri pria itu. Karena saat dilihat sepintas, mereka berdua memiliki kemiripan yang signifikan.
"Istirahatlah! Aku akan memikirkan bagaimana caranya agar kamu bisa pulang ke Surabaya." Rama berucap seraya bangkit dari duduknya. Meninggalkan Cahaya yang tengah suntuk dengan suasana kamar tersebut.
Sempit dan gelap. Belum lagi selimut yang sama tipisnya dengan kasur. Gadis itu menggeram. Semakin mengutuk Reno dan Azmi yang ingin menjodohkannya dengan pria dari desa. Dan kini, ia malah ketulah dan memiliki suami dari desa, hidup pas-pasan, dan berusia jauh lebih tua darinya.
Cahaya juga merasa bodo'h karena memberitahukan nama lengkapnya dan Reno, dengan jujur. Apa salahnya ia juga mengarang untuk hal sepenting itu. Agar tidak menjadi istri sungguhan Rama.
Tapi apa daya. Walaupun ia berteriak hingga membelah langit, tetap saja tidak akan mengubah statusnya saat ini.
Cahaya semakin geram saat membayangkan teman-temannya tahu ia memiliki suami seperti Rama. Jangankan kemewahan, untuk rupa saja pria itu tidak memiliki daya tarik apapun.
Kulitnya coklat karena setiap hari berjemur dibawah teriknya matahari. Wajahnya pun tidak tampan seperti para pria yang selama ini mencoba untuk mendekatinya.
"Oh, Tuhan … duniaku kenapa jadi suram begini? Padahal aku nggak ngapa-ngapain. Cuma nanya, kenapa ayah harus selamat, jika hanya untuk memarahiku, menghukumku dan menjodohkan aku dengan orang desa." Cahaya mengacak rambutnya sendiri.
Berbagai penyesalan yang silih berganti dengan umpatan, menggema di dalam kamar sempit tersebut.
Rama yang masih berada di balik pintu kamar, menggelengkan kepalanya. Ikut meratapi nasibnya yang harus menikahi gadis seperti Cahaya. Yang lincah berkata kasar dan mengumpat orang tuanya sendiri.
Takdir? Ya, mungkin Allah SWT menjadikannya suami dari gadis bernama Cahaya Oktavia Anderson tersebut, agar menuntunnya ke jalan yang lebih baik. Dan Rama pun berharap begitu. Agar ia bisa memulangkan gadis itu kepada orang tuanya dan melanjutkan pernikahannya dengan Reni. Gadis yang kini terluka karena pernikahannya dengan Cahaya.
"Jangan pernah berpikir untuk menceraikan dia, Rama," ucap sang ibu. Menyentuh pundak Rama yang tengah duduk di belakang rumah. Seraya memberi makan ikan yang ada di dalam sebuah tambak.
Rama menoleh ke arah sang ibu yang kini berada di sampingnya.
"Seperti yang kamu ketahui, perceraian adalah tindakan yang sangat dibenci oleh Allah SWT. Apalagi kamu menceraikannya hanya karena ingin melanjutkan rencana pernikahan yang sempat tertunda," sindir sang Ibu. Seakan beliau bisa membaca pikiran Rama.
Rama menghela nafas. "Ibu selalu bisa menebak apa yang sedang aku pikirkan. Dan karena aku sudah ketahuan, aku akan mengikuti keinginanmu, Bu. Akan tetapi, seandainya dia yang pergi aku tidak akan menahannya."
"Kenapa?" Wanita berusia enam puluh delapan tahun tersebut memburu.
"Karena tidak mungkin bagi kami untuk bersatu. Dan aku tidak ingin memaksanya untuk tetap tinggal. Banyak perbedaan mencolok diantara kami berdua. Perbedaan bak air dan minyak. Sampai kapanpun tidak akan pernah bersatu."
"Tidak boleh berucap seperti itu, Ram. Tidak baik pula berprasangka buruk terhadap istrimu sendiri. Jikalau memang dia tidak baik, tuntun dia agar menjadi wanita lebih baik. Paham?" Menekankan kata yang ada diujung kalimat.
Rama mengangguk lemah. Sekarang ia tidak bisa melakukan apapun lagi. Kecuali menuruti keinginan ibunya. Seperti apa nantinya perbaikannya nanti, biar waktu saja yang akan menjawab.