Kedua orang tua Rama tidak pernah menyangka, putra tunggal mereka akan pulang dalam keadaan terluka. Karena dipukuli oleh beberapa orang pemuda, yang dimentori oleh Roland. Kedua orang tua Rama sangat tahu bagaimana bencinya pemuda itu kepada Rama. Karena merasa iri pada apapun yang ada pada diri putranya.
Kini Rama pulang dengan diarak, karena fitnah yang dilontarkan Roland. Pasti ini ada hubungannya dengan rasa iri yang tidak pernah ada ujungnya.
Hal yang paling membuat Roland marah dan iri adalah, Rama yang berhasil menaklukkan Reni Zalianty, kembang desa di kampung mereka. Dan pernikahan mereka akan dilangsungkan setelah lebaran idul Fitri tahun ini. Tepatnya, dua bulan dari sekarang.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Rama?" pria berusia enam puluh sembilan tahun tersebut memaksakan diri untuk duduk. Agar bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi. "I-ini?" tangan tua itu terangkat. Menunjuk ke arah Cahaya, yang berada di dalam rangkulan Rama.
"Putramu telah mencoreng nama baik kampung ini. Aku dan teman-temanku memergoki mereka sedang berhubungan badan!" teriak Roland. Semakin memperparah keadaan. Padahal ia menemukan Cahaya dan Ramadhan dalam keadaan terpisah. Cahaya di dalam pondok dan Rama di belakang pondok merebus air minum dan membakar ubi.
Sungguh pandai pria itu memanaskan keadaan di tengah-tengah amarah warga yang sedang memuncak.
"Diam kau Roland! Jangan memperkeruh keadaan!" Salamah menyergah. Wanita paruh baya yang tidak lain adalah ibu dari Reni, menyela. Ia ingin membela Rama karena yakin seratus persen, calon menantunya itu orang yang sangat baik dan tidak akan mungkin melakukan tindakan yang dibenci oleh Allah SWT.
Jangankan untuk berbuat yang tidak-tidak, bahkan Rama tidak pernah sekalipun terdengar menjalin hubungan dengan wanita lain. Hubungan pacaran kalau kata anak remaja zaman sekarang.
"Kalian semua jangan memperkeruh keadaan. Dan tolong … izinkan mereka berdua untuk berbicara!" Salamah melanjutkan.
"Silahkan, Rama!" timpa seorang pria paruh baya. Yang tidak lain adalah kepala desa di kampung tersebut. Ia pun ingin mendengar cerita versi lain dari Rama, agar bisa mengambil keputusan dengan adil.
Rama menoleh kepada Cahaya, yang terlihat begitu ketakutan dengan keadaan yang ada. Bahkan, tubuh gadis itu terasa hangat. Bisa dipastikan kini ia sedang demam. Situasi yang sangat mencekam seperti sekarang, tentu saja membuat Caca mati ketakutan. Apalagi kini ia berada di desa yang tak tahu di mana rimbanya.
"Aku tidak mengenal siapa gadis ini dan darimana asalnya. Tiba-tiba saja dia berada di teras pondok dan menumpang untuk berteduh. Karena merasa iba, aku menolongnya. Dengan memberinya sarung kering dan pergi kebelakang untuk memasak air serta membakar ubi," terang Rama. Tanpa rasa takut dengan tatapan mengintimidasi dari beberapa orang warga Terutama Roland.
Rama menceritakan sesuai dengan apa yang ia dan Caca lakukan. Tidak ada yang ditambah apalagi dilebihkan. Agar tak menimbulkan dosa baru di dalam hidupnya.
Kedua orang tua Rama dan Salamah, bisa bernafas dengan lega. Karena apa yang dituduhkan kepada Rama adalah sebuah kebohongan belaka. Walaupun tidak melihat dengan jelas, mereka yakin apa yang ucapkan oleh pria itu adalah sebuah kebenaran. Karena pria itu tidak pernah sekalipun berbohong dengan ucapannya.
"Sudah aku duga. Ini hanya kebohongan Roland saja." Salamah kembali membuka suara.
"Apa?" Roland tersentak. "Kalian percaya kepada dua orang anak manusia pendosa ini? Coba pikirkan baik-baik, mana mungkin mereka tidak saling mengenal. Aku yakin gadis ini jauh-jauh datang kesini untuk menemui Rama. Karena mendengar pria ini akan menikah dengan Reni. Dan tentu saja dia ingin membatalkan pernikahan Rama dan Reni. Bahkan gadis ini rela menyerahkan harga dirinya pada Rama."
"Apa yang dikatakan oleh Roland lebih masuk akal. Yang benar saja, ada seorang gadis datang dan menyasar kesini. Kalau bukan Rama yang mengundangnya." Salah satu teman Roland menyela.
Kepala desa mengangguk. "Saya juga setuju. Karena gadis ini memang tidak pernah terlihat disini. Siapa namamu? Dan darimana asalmu?" Beralih kepada Cahaya, yang telah ketakutan setengah mati.
"Sa-saya … dari, dari …."
"Jangan ditanya ini itu lagi. Mereka berdua telah tertangkap tangan berduaan di dalam pondok. Bahkan gadis ini hanya menggunakan sarung saja. Dan aku yakin kalian semua masih ingat konsekuensinya. Mereka harus dinikahkan malam ini juga, agar berhenti membuat maksiat." Roland kembali mengeluarkan argumennya.
Caca yang ingin membuka mulut kembali menutup mulutnya rapat-rapat. Tidak ingin lagi mencoba menjelaskan karena yakin mereka tidak akan butuh dan percaya apa yang dikatakannya.
"Tidak, tidak! Rama akan menikah dengan Reni. Kau lupa, Roland?" timpa Salamah.
"Ah, ya … aku tahu sekarang. Ibu membela Rama mati-matian karena dia adalah calon menantu Ibu. Dan ibu takut pernikahan tersebut batal dan keluarga ibu malu. Iya, kan?" Roland menarik satu sudut bibirnya. Mengejek Salamah yang sedari tadi membela Rama.
Salamah mengatupkan mulutnya. Memang benar yang dikatakan oleh Roland Salah satu tujuannya membela Rama, agar pernikahan Reni tidak batal. Tidak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika putrinya itu tahu kejadian ini. Karena Reni sangat mencintai Rama. Namun, di sisi lain ada sedikit keyakinan untuk percaya pada Rama.
"Mereka berdua harus dinikahkan, Pak. Jangan mentang-mentang kalian memuja Ramadhan, kalian seenaknya menggugurkan hukuman untuknya. Jangan sampai ini semua ditiru oleh pemuda lainnya." Satu lagi suara terdengar memojokkan Rama dan Cahaya.
Kepala Desa mengangguk paham. "Mereka benar, Pak, Bu … Rama dan gadis ini harus dinikahkan. Walaupun mereka tidak melakukan apa-apa. Akan tetapi, berduaan di dalam pondok dalam keadaaan tanpa memakai busana yang lengkap, tetap saja harus menjalani sanksi yang telah lama kita terapkan bagi para pelanggar!"
Kedua orang tua Ramadhan pasrah. Dengan keputusan yang dibuat oleh kepala desa. Karena memang semua benar adanya. Di kampung mereka, sudah ada peraturan yang mengatur sanksi bagi pemuda pemudi, yang tertangkap sedang berduaan. Yaitu: Dinikahkan.
Hukum yang selalu ditimpakan untuk sepasang anak manusia yang tertangkap melakukan hal yang tidak layak. Agar tidak ada hubungan haram diantara mereka. Sekaligus memberikan efek jera pada yang lain agar tidak mencontoh perbuatan tercela tersebut.
Tertangkap. Di arak keliling kampung. Disiarkan hingga sudut desa jika mereka telah melakukan tindakan tindakan tak terpuji. Kabar yang akan diingat oleh banyak orang, sampai ke anak cucu mereka nanti. Dan ini yang akan dialami Caca dan Rama. Mereka berdua harus menikah dan akan menanggung malu, entah sampai kapan.
Namun, mereka tetap berharap ada keajaiban yang datang kepada mereka. Sehingga bisa meluruskan fitnah yang dikatakan Roland kepada mereka. Semoga saja.