DELAPAN

1099 Words
Selamat Membaca! Untuk vote dan commentnya silahkan tinggalkan disini❤ "Badai dan segala penghalangnya itu memang wajar dalam hubungan, hanya bagaimana cara kita saja melewatinya." - Prìncipe Frìo -      MALAM ini Devan lebih memilih memainkan gitarnya di balkon kamarnya, sedangkan Azel sibuk membuat cemilan untuk mereka di dapur. Mata Devan menerawang jauh, mengingat setiap perjalanan nya hingga dia berada di titik sekarang. Pahit dan manisnya kehidupan Devan sudah merasakan. Tak ada yang kurang, Devan sudah pernah merasakan kebahagiaan, kesedihan, penyesalan, kehilangan, dan penderitaan. Semuanya sudah Devan lewati dan sekarang Devan tidak tau sedang berada di titik mana. Hubungannya dan Azel masih tenang, tak ada gangguan tapi tidak tau besok atau seterusnya. Tiba-tiba ponsel Devan berdering, terpampang video call dari Argha. "Tumben ni anak ngajak kayak ginian? Kesambet setan Thailand?" Dengan cepat Devan mengangkatnya, mata Devan sedikit melotot tak percaya. Disana semua sohibnya hadir terkecuali dirinya dan Azel. "Hai Mr.Possesif!!!" "Gila!" "Gimana-gimana kaget ga? Kita lagi ngumpul nih, kurang lo sama Azel aja. Mereka pada balik ke Indo kemaren dan nyempetin ngumpul bareng." Suara Mitchell mendominasi di keheningan balkon Devan, karena Devan sengaja menaikkan volume suara ponselnya. "Pindah ke skype laptop gue aja, tunggu." Devan mematikan panggilannya dan masuk ke dalam kamarnya mencari laptop miliknya. Azel yang baru masuk terlihat bingung. "Ngapain?" Tanya Azel penasaran. "Mereka ngajak skype, kamu liat laptop aku ga?" Devan menatap Azel meminta jawaban. Azel menunjuk satu arah dengan matanya, "Tuh diatas meja, diliat dulu kali baru tanya," cibir Azel lalu berjalan kearah balkon Devan sambil membawa nampan berisik cemilan dan minuman. Devan mengikutinya dengan membawa laptop, keduanya menatap layar laptop yang mulai melakukan panggilan bersama sahabat mereka. "CIAAA MESRA AMAT, ITU DEMPET ITU YAELAH!!" "Berisik Ra! Ye congor lu kek toa aja." "Bacot anjer! Yaelah pada ngumpul nih ceritanya, ga ngajak gue lagi." Azel pura-pura memasang wajah kesalnya, membuat mereka yang di seberang sana menatapnya jijik. "Ngaca neng, situ dimana? Makanya balek!" "Gue aja bisa balik dari London, masa lo berdua kaga." "Noh bener kata Justin." "Bayarin tiket kita mau?" "Makasih ae, mending uangnya buat gue nikah sama Asel." Azel hanya tertawa melihat tingkah laku para sahabatnya, sedangkan Devan hanya tersenyum tipis sambil merangkul Azel. Azel jadi merindukan para sahabatnya, rindu kebersamaan mereka. "Baby Zo mana?" "Udah tidur, nanya baby Zo mulu. Kaga niatan bikin juga?" Celetukan Gaga membuat Azel melotot, bahasa Gaga terlalu v****r di dengar. "Heh!" "Uced galak banget!" "Bentar lagi yang nyusul Daffa terus lo berdua, terus si Sherren sama Stella juga bakal tunangan. Lah gue kapan dapat gandengan?" "Nyesek ya ra, makanya cari dong. Daffa aja bisa tuh," "Congor lo b*****t!" "Kasar amat bu, PMS ya" "Depan! Calon bini lo ngeselin amat dah." "Gimana koreyah? Dapat yang bening-bening kaga?" "Itu santai amat nanya nya ya Bu Mitchell" Gaga menatap Mitchell tajam membuat semuanya tertawa, Gaga tengah cemburu ternyata. "Iyalah Pak Gaga, mau memperbaiki keturunan." "Buseddd!!" "Adoh humor gue!" Devan mendekatkan wajahnya kearah telinga Azel membuat para sohibnya menggodanya. "Woy ngapain itu!" "Eh sabar pan, jangan ngegas dong!" "Halalin buru pan, lu keknya udah kaga sabar." "Udah malem, waktunya tidur," bisik Devan pelan lalu menjauhkan wajahnya, Azel mengangguk paham. "Gengs, sekarang udah hampir tengah malam. Besok gue mau honeymoon ama Devan, jadi butuh tidur yang cukup." "Idih nikah ae belom, yaudah bye!" Panggilan terputus, Devan dan Azel segera masuk ke dalam. Cuaca mulai terasa dingin dan Devan tidak ingin Azel sakit karena kedinginan. "Taruh diatas meja aja, nanti aja cuci piringnya. Udah malem, waktunya tidur," Devan menarik Azel naik ke atas kasurnya. Sepertinya malam ini Devan ingin tidur bersama, terlihat Devan yang sudah memeluk erat Azel seperti guling. "Aku ga bisa napas astaga!" Azel memukul Devan bertubi-tubi karena pasokan oksigennya seketika terasa sedikit. Pelukan Devan terlalu erat. "Kamu bikin hangat terus nyaman si," goda Devan membuat Azel bersemu. Azel mencebikkan bibirnya, "Gembel amat masnya, udah malem nih," Devan hanya tertawa melihat tunangannya yang bete. Devan mengusap pelan rambut Azel setelah merenggangkan sedikit pelukannya. "Tidur sini terus aja ya," pintanya membuat Azel menggeleng. "Aku punya kamar sendiri tau, lagian sayang kalo ga dipake." "Tapi kan kita diizinin tidur bareng, aku juga ga bakal macem-macem." Bantah Devan tetap kukuh. Azel tetap menggeleng, "Aku suka kamar aku sendiri, kapan-kapan kan bisa tidur bareng ga perlu tiap hari," Azel mengusap wajah Devan lembut. Devan mencium sekilas kening Azel dan kembali menatap mata Azel, "Ga mau, nurut aja," ucap Devan lalu membenamkan wajahnya di leher Azel. Azel memutar bola matanya malas, Devan memang sangat bossy dan tidak suka dibantah. Terkadang Azel kesal dengan sifatnya itu. "Untung sayang." Gumamnya tanpa suara. Keduanya mulai hanyut ke dalam mimpi, sepertinya mereka kelelahan.     Pagi ini Alaska sudah rapi dengan pakaian kantornya, ada rapat mendadak dengan client penting yang mengharuskannya datang pagi. Alaska melihat para maid nya yang sibuk merapikan rumahnya dan menyiapkan sarapan untuknya. Alaska sudah tinggal di rumah sendiri semenjak kepergian Azel ah bukan sudah dari dulu dia tinggal sendiri. Dulu dia tinggal di apartement saat kuliah di luar negeri, lalu kembali ke rumah keluarga Alva saat Azel kembali kambuh. Lalu memilih tinggal sendiri lagi ketika Azel pergi, bedanya dia mendirikan mansion untuknya bukan apartement mewah lagi. Itu hasil kerja kerasnya selama ini, bukan diberikan oleh Alva atau ia meminta. "Tuan, sarapan paginya sudah siap di meja makan," lapor salah seorang ketua maid di hadapan Alaska yang sedang memakai jam tangannya. Alaska hanya mengangguk lalu berjalan kearah meja makan. "Ini informasi Azel tuan selama disana dalam beberapa hari terakhir." Tangan kanan Alaska berdiri di samping Alaska tak jauh, Alaska menatapnya datar. Namanya Rian. "Taruh saja disitu, dan pastikan Azel selalu aman disana. Dan jangan sampai ada yang mencurigai mata-mata kita atau dari keluargaku sendiri. Itu akan sedikit mengganggu," ucap Alaska dingin yang dibalas anggukan oleh Rian. Alaska mulai menghabiskan sarapannya, sesekali matanya menatap informasi tentang adik angkatnya itu. Entah apa yang membuatnya melakukan hal nekat seperti ini, mencari informasi Azel setiap harinya, ingin tau apa saja aktivitas yang di lakukan Azel. Dan ingin menjaganya dari jauh. Ada perasaan aneh muncul dalam diri Alaska, Alaska tidak bisa menepisnya lagi. Perasaan itu membuncah membuat Alaska khawatir jika Azel akan menjauhinya saat tau tentang perasaannya. Tapi mau bagaimana lagi, ini tidak bisa ditahan atau dialihkan. Ini perasaan, man. Dan Alaska tidak bisa menampik bahwa dirinya. Menyukai adik angkatnya sendiri. Persetan dengan hubungan keluarga mereka, intinya mereka tidak sedarah. "Tuan, nyonya besar kemarin menghubungi rumah menanyakan keberadaan anda. Nyonya juga berpesan agar anda pulang ke rumah hari ini." Ucap salah seorang pelayan. Alaska mengangkat kepalanya, dan menatap pelayan itu yang menunduk. Alaska sedikit berpikir, untuk apa mommnya menyuruhnya pulang? Apa ada masalah lagi? Alaska mendengus dan tetap mengangguk, nanti selesai rapat dia akan pulang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD