Selamat Membaca!
Untuk vote dan commentnya silahkan tinggalkan disini❤
"Jika perasaan bisa memilih, aku mau kamu menjadi pilihannya."
- Prìncipe Frìo -
NAFAS Azel memburu, dia baru saja berlari dari toilet menuju ruang musik kampus. Rencananya dia dan Mina ingin bermain musik.
Mina itu takut sendiri, jadi selama Azel di toilet, gadis itu terus menghubunginya untuk segera kembali.
Devan?
Laki-laki itu tengah berkumpul dengan teman barunya, dan rata-rata Ulzzang semua. Membuat popularitas Devan semakin naik, Devan dengan segala pesonanya.
Tapi Devan tetap mengawasi Azel dari jarak jauh, mereka hanya berpisah jarak saja. Devan berkumpul di koridor seberang ruang musik, jadi matanya tetap fokus mengawasi Azel.
"Weh Dev, lo ngeliatin apa?" Tanya Renjun, anak jurusan ekonomi yang lumayan ramah dengan setiap orang.
Raksa yang daritadi memperhatikan arah pandangan Devan hanya tersenyu menggoda, "Lo kenal gadis itu?" Devan menoleh, "Siapa?"
Raksa menunjuk gadis yang memakai topi putih, "Tunangan gue." Jawab Devan singkat.
"Woooo!!! Udah tunangan men, aha seru juga." Celetuk Aland
Devan tak merespon, baginya teman barunya sekarang mengingatkannya dengan Argha, Daffa, Gaga, dan Justin. Sohibnya sejak lama, dan sekarang mereka memiliki urusan masing-masing.
Tapi hubungan mereka tetap terjalin ditengah kesibukannya.
Gaga yang sibuk dengan keluarganya apalagi sudah ada baby yang mengisi hari mereka bersama Mitchell.
Argha yang sibuk mempersiapkan pertunangannya bersama Sherren, ditambah akan mengambil posisi perusahaan tapi masih tetap kuliah.
Justin yang sekarang tinggal di London bersama Stella, rencananya mereka juga akan menikah sambil kuliah.
Dan Daffa yang sebentar lagi akan menikah dengan Asel. Entah bagaimana pun Daffa masih tetap berhubungan baik dengan Clara. Mereka tetap menjalin komunikasi walaupun sudah putus.
Daffa dan Clara memang sudah tidak bisa bersama, Clara yang harus kuliah di luar negeri memilih mengakhiri hubungannya dengan Daffa secara baik-baik dan meminta Daffa untuk segera mencari pengganti.
Dan Daffa mau tidak mau mendukung keputusan mantan kekasihnya itu, lagipula Daffa tidak bisa menghalangi cita-cita seseorang ditambah dia juga tidak bisa berhubungan jarak jauh dan tidak bisa memantau Clara leluasa.
Sekarang Devan memiliki teman baru, dia sudah memberitau sohibnya di belahan benua lain. Devan memiliki Aland, Raksa, Renjun, dan Mark.
Mark dan Renjun memang berwarganegaraan Negeri Ginseng memang, berbeda dengan Aland dan Raksa yang berasal dari Amerika dan Australia.
Tapi Devan mulai merasa nyaman tapi tidak senyaman dia bersama Argha, Gaga, Daffa, dan Justin.
Mark menepuk bahu Devan, "Ngelamun mulu, hobi lo di Indonesia kayak gitu ya?" Tanya Mark polos.
Meski keempatnya berbeda negara, tapi mereka fasih dalam berbahasa Indonesia karena pernah tinggal disana.
"Ga."
Renjun mencomot keripik yang di pegang oleh Aland dengan diam-diam, "Nama tunangan lo siapa?" Tanyanya.
"Buat apa?"
"Nanya doang elah, kaga boleh?" Renjun terkekeh.
Devan menghela nafas, "Azel."
Aland seketika membulatkan matanya, "Lah itu kan yang masuk berita tadi pagi kalo dia bakal geser posisi ratu kampus si Tziwa," pekiknya heboh membuat Mark menginjak kakinya.
"Kaga usah teriak!"
"Eh iya ya, tapi cocok lah sama si Devan. Ganteng ama cantik mah emang jodoh, kan cerminan diri sendiri," ucap Raksa paham.
Renjun bergeming, "Siap-siap aja sih Dev, lo pasang sikap siaga satu. Karena yang gue tau, di negara ini cowoknya pada ganas. Apalagi gue liat para ulzzang cowok disini ngerespon banget kehadiran Azel,"
Devan bergeming, berarti dia harus menjaga Azel lebih ketat. Karena kemungkinan saja para cowok itu akan mendekati Azel dan merebutnya.
Itu tidak boleh.
"Jangan dipikirin, baru juga masuk kuliah. Nikmatin aja dulu," ucap Mark menenangkan.
Mata Devan menatap lekat Azel yang sedang tertawa bersama Mina. Keduanya nampak bahagia dengan kegiatan mereka. Itu sedikit mengobati rasa takut Devan.
Azel berdiri dari duduknya, dia harus segera pulang. Merapikan rumahnya, karena dia akan mengatur barang di rumahnya senyaman mungkin.
Lagipula mata kuliah belum berlangsung, masih lusa dan Azel ingin menghabiskan waktunya bersantai terlebih dahulu sebelum masa sibuknya. Azel memilih fakultas kedokteran.
Gedungnya berada di sebelah gedung tempat dia berdiri sekarang, Azel kemari hanya menemani Devan dan bertemu Mina. Devan memilih jurusan hukum dan Mina Ekonomi. Mereka berada satu gedung saja dan hanya berbeda jurusan.
"Gue pergi dulu ya Min, kapan-kapan ke rumah aja," ucap Azel membuat Mina bingung.
"Kau sedang berbicara apa? Jangan memakai bahasa negaramu, aku masih sulit memahaminya." Gerutu Mina mengingatkan.
Azel menepuk keningnya pelan, "Aku lupa, maafkan aku. Jika kau ingin mampir ke rumahku silahkan, aku akan senang. Aku haru segera pergi,"
Mina mengangguk, "Baiklah, sampai jumpa." Azel tersenyum lalu segera pergi.
Azel melihat Devan yang sibuk melihat ponselnya bersama teman barunya. Azel sedikit lega saat Devan bisa menemukan teman baru karena laki-laki itu cukup sulit dalam hal berteman.
"Hai." Sapa Azel hangat membuat kelima laki-laki itu menoleh padanya.
"Eh, Azel ya?" Tanya Raksa memastikan, membuat Azel mengangguk.
"Oh bisa bahasa Indonesia juga, Azelia Rasyifa anak kedokteran." Azel tersenyum menatap semuanya.
Semua berteriak heboh kecuali Devan, "Gila sih, anak kedokteran bro. Pantes cantik." Celetuk Aland.
"Ehem."
"Ya singanya ngamuk deh," gerutu Aland membuat Devan melotot.
"Eh bercanda."
Renjun menatap Azel dengan senyuman, "Salam balik Zel, gue Renjun anak Ekonomi,"
"Gue Mark anak hukum sama kayak tunangan lo,"
"Gue Raksa bukan air raksa, anak psikolog. Kita satu gedung kok."
"Gue Aland, anak seni ya biasa gue ganteng jadi harus di jurusan yang tepat." Celetuk Aland membuat semuanya menatap datar.
Azel tertawa pelan, "Kalian lucu tau."
"Dibilang lucu sama cewek cantik beda ya." Celetuk Mark membuat Devan jengah.
Laki-laki itu segera menarik Azel ke sebelahnya, Azel memang harus diamankan. Gadis itu terlalu mengundang mata kaum adam karena kecantikannya.
"Kenapa?" Tanya Devan lembut.
Azel mendongak, "Ayo pulang, barang kita udah di rumah. Tinggal kita atur tempatnya," ucapnya membuat Azel mengangguk.
Pasangan itu berpamitan lalu segera memilih pulang, lagipula cuaca sedikit panas.
Suasana mobil hanya diisi dengan lagu yang disambungkan dari ponsel milik Devan. Lagu Without Me milik Halsey mengalun indah.
"Gimana tadi?" Tanya Devan.
Azel membuka matanys yang sempat terpejam, "Gitu aja, belum dapet temen sih. Soalnya tadi belum sempat ngobrol sama anak kedokteran," jawab Azel.
"Temen-temen baru kamu lucu, mereka mirip sama Argha, Daffa, Justin, sama Gaga."
Devan mengangguk, sesekali dia mencium tangan Azel yang di genggamnya, "Menurut aku juga gitu, makanya aku nerima mereka. Lumayan nyaman tapi ga senyaman sama mereka."
Azel menatap jalanan sebentar baru melihat kearah Devan, "Ga papa nanti bakalan nyaman kok, oh iya aku tadi liat Malvin loh. Dia kuliah disana juga kayaknya."
Mendengar nama mantan Azel, membuat genggaman Devan mengerat. Sepertinya ada yang tidak beres lagi. Kenapa Malvin tiba-tiba muncul kembali kehadapan Azel setelah sekian lama pergi.
Devan tidak boleh lengah, bisa saja Malvin muncul untuk membawa Azel kepadanya.
"Tenang aja, aku ga bakal balik sama dia kok," Azel paham apa yang ada di pikiran Devan. Sebelum pikiran itu meracuni otak Devan, dia harus segera menyingkirkannya.
"Dia fakultas mana?"
"Tadi dia di fakultas kedokteran, ngambil dokter kali ya? Tapi ga penting sih, udah jadi masa lalu juga," ucap Azel.
"Apa alasan dia balik lagi?"