ENAM

1186 Words
Selamat Membaca! Untuk vote dan commentny silahkan tinggalkan disini❤ "Aku tidak tau ingin merangkai kata seperti apa lagi. Aku terlalu bodoh merangkai kata tapi satu kata yang selalu aku ingat. I Love You." - Prìncipe Frìo -     AZEL meletakkan masakannya diatas meja, tinggal membangunkan Devan dari tidurnya. Hari ini adalah hari pertama mereka masuk bangku perkuliahan. Azel sudah rapi dengan dress berwarna peach nya dan polesan bedak bayi juga lip balm membuatnya terlihat cantik dengen kesederhanaannya. Azel selalu berpenampilan yang membuatnya nyaman saja. "Baby..." Azel mendekatkan dirinya kearah laki-laki yang masih bergelung dengan selimutnya. Masih menikmati alam mimpinya. "Sayang, ayo bangun. Hari ini kita kuliah." Bisik Azel lembut di telinga Devan. Devan mengerjapkan matanya, "Morning, sushine." Devan menarik Azel ke dalam pelukannya dan menghujaminya dengan ciuman. Azel hanya terkekeh, "Stop it, kita harus sarapan. Dan kamu harus mandi sekarang, ga ada protes!" Devan yang ingin membuka mulutnya seketika terdiam Azel mengusap rambut laki-laki itu dan bangkit dari posisinya, dia harus tegas sedikit jika menyangkut pendidikan. Azel sangat disiplin. "Sayang..." "Iya-iya." Dengan langkah pasrah, Devan memasuki kamar mandi dengan membawa handuk miliknya. Azel lebih memilih merapikan kamar tidur itu yang lumayan berantakam. Azel mengambil pakaian Devan dan meletakkannya diatas kasur, lalu berjalan ke luar. Dia ingin menunggu di meja makan saja. "Hari ini ga ada kelas, soalnya kita cuman bakal keliling kampus. Dan kamu ga boleh kemana pun tanpa seizin aku," ucap Devan yang sudah selesai mandi beberapa menit yang lalu. Keduanya hanyut dalam sarapan pagi yang tenang ini, tak ada gangguan. Cahaya matahari yang masuk, menambah suasana hangat walaupun sepi. Azel mendongak, "Biasanya juga gitu, dari masa SMA aturannya gitu. Ga bakal lupa aku tuh," gerutu Azel. Devan berdehem, "Kalo udah tau ga bakal langgar lagi kan? Biasanya kamu keras kepala. Suka amat ngelanggar." Devan menatap Azel lekat. Azel mengangguk saja, toh memang menjadi kebiasaan Devan menasihatinya setiap pagi. Sejak Azel kembali bersama Devan, laki-laki itu selalu mengingatkannya setiap pagi. Tidak boleh dekat dengan cowok lah, ngobrol sama cowok maksimal 5 menit lah, ga ada kontak cowok lah, inilah itulah. Azel sampai hafal sendiri tabiat tunangannya itu. "Ayo kita berangkat." Azel menangguk dan keduanya segera berangkat ke kampus. Azel terus tersenyum, suasana baru akan segera hadir. Azel masih belum menyangkan bahwa tahun ini dia akan menjadi seorang mahasiswa bukan lagi memakai seragam putih abu dengan gelar siswi. Tapi Azel menikmatinya, dengan genggaman tangan besar yang selalu menggenggamnya. Devan selalu berada di sisinya, menemaninya, dan yang paling penting mereka tidak akan pernah lagi mengulang masa-masa sulit itu. Dari sudut matanya, Azel dapat melihat bangunan megah kampus di Seoul, terlihat berbeda dengan Indonesia. "Rame banget ya," celetuk Azel sumringah, setelah Devan melepaskan sealbelt nya, gadis itu segera membuka pintu mobil diikuti Devan. Baru saja keluar dari mobil, kedua insan itu sudah menjadi pusat perhatian apalagi Devan yang merubah pakaiannya mengikuti gaya negeri Ginseng itu. Kacamata hitam bertengger manis di matany, sedangkan Azel memilih memakai topi putih untuk menghalau sinar matahari nantinya. "Wah mereka keliatan cocok!!" "Apa mereka ullzang?" "Daebak! Dia sangat tampan." "Omo! Siapa mereka??" "Apa mereka mahasiswa baru tahun ini" "Ah kurasa mereka akan menjadi primadona disini." "Manisnya perempuan itu." "Apa aku sudah cocok menjadi pacar gadis manis itu." "Tinggi sekali badan laki-laki itu." "Mereka tampan dan cantik." "Dongsaeng yang merebut perhatian seluruh kampus, mengagumkan." "Biasa saja." "Hari pertama saja mereka sudah merebut hati semua orang." "Apa mereka seorang aktor dan aktris?" "Aku ingin berteman dengan mereka!" Bagi Azel dan Devan, sudah biasa mendengar desas desus bahkan bisikan pujian. Sejak pacaran dengan Devan, Azel merasa menjadi seorang artis. Dimana semua orang melihat dan menjadi sorotan setiap orang, tunangannya itu selalu menarik mata. Devan terlalu tampan untuk dilewatkan. Azel setuju dengan pendapat bahwa Devan seperti pangeran berkuda putih yang sangat tampan. Azel sendiri bersyukur bisa memiliki laki-laki dingin nan tampan itu. Devan menggenggam tangan Azel dan mengajaknya berjalan, "Mereka kayaknya jatuh hati sama kamu deh," bisik Azel menatap gerombolan gadis yang menatap Devan secara terang-terangan. "Mau mereka jatuh hati sama aku, aku ga peduli. Karena hati aku udah jatuh tuh ke kamu." Ucapan frontal itu membuat pipi Azel merona, Devan terlalu pandai merayu dan itu membuat Azel harus menahan diri untuk tidak kegirangan. "Luas banget ya, kampusnya sama kayak di drakor yang aku tonton sama kamu." Devan mengernyit, "Yang mana?" "Lupa kan, itu kan kita tonton sebelum kesini. My Id is Gangnam Beauty tau, itu yang pemerannya pacar aku." Azel menatap Devan yang tinggi darinya. "Oh yang itu, masih gantengan aku." Bantah Devan tak suka. Azel memutar bola matanya malas, "Iya kamu ganteng, tapi kamu versi western sedangkan dia versi Asia Ullzang gitu." Ucap Azel membuat Devan diam. "Kamu pilih aku atau laki-laki drakor itu?" "Apaan sih! Kamu itu ga cocok jadi sebuah pilihan." Ketus Azel membuat Devan tersenyum. Devan menundukkan sedikit kepalanya, mendekatkan wajahnya sambil tersenyum, "I love you, sunshine." "Love you too."     Suasana rumah megah itu sudah diisi dengan suara tangisan baby Zo. Mitchell sendiri sudah sibuk mengurus bayinya yang baru berumur 8 bulan  dengan wajah bahagia. "Morning baby." Kecupan ringan mendarat di pipi kanan Mitchell, kelakuan Gaga setiap pagi adalah memberikan morning kiss. Dan itu rutin dilakukan. Gaga sudah siap dengan pakaian formalnya, selama liburan dia akan masuk bekerja di kantor papahnya. Sembari belajar sebelum meneruskan perusahaan papahnya. "Udah siap?" Mitchell menatap suaminya yang terlihat tampan dengan jas hitamnya. "Udah dong, kamu ga liat aku udah ganteng gini. Sama kayak Zo." Tutur Gaga. Mitchell hanya mendengus, "Yaudah kita sarapan baru kamu berangkat, oh iya kamu mau dibikinin bekal ga?" Tanya Mitchell, setaunya di kantor Gaga akan sangat sibuk dan melupakan jam makannya. Sedangkan Gaga memiliki riwayat kesehatan Maag kronis, membuat Mitchell harus mengatur pola makan Gaga agar tidak telat. Gaga mengangguk, "Boleh, kamu antar ya?" Mitchell hanya mengangguk, setelah memakaikan baju kepada Zo. Ketiganya segera turun ke bawah. "Aku kangen ngumpul sama yang lain deh, padahal kita kelulusan baru setahun yang lalu." Curhat Mitchell. Yaps, mereka semua memilih menunda kuliah selama setahun. Maka dari itu Gaga dan Mitchell memilih menikah terlebih dahulu, memang sedikit ribet apalagi mereka sudah memiliki anak di usia yang muda. Tapi Gaga dan Mitchell menerimanya, mereka mengatur jadwal kuliah sedemikian rupa agar waktu berkumpul masih ada. Mereka akan bergantian menjaga Zo selama kuliah. Setiap hari libur, mereka akan menghabiskan waktu bersama. Memperhatikan perkembangan Zo. Mitchell tersenyum, matanya menatap anaknya yang dibiarkan tengkurap di sofa bulat berbentuk kasur itu. Dia bermain dengan tenang selama orang tuanya sarapan. "Nanti Clara sama Stella mau main kesini, boleh kan?" Tanya Mitchell memastikan. Gaga berpikir sejenak, "Yaudah ga papa, Justin sama Revan ikut?" Revan itu kekasih baru Clara, setelah putus baik-baik dengan Daffa. Clara melabuhkan hatinya dengan seorang laki-laki berketurunan Belanda, mereka kenal lewat acara pertunangan Azel dan Devan. Revan sepupu dari Azel, masih satu keluarga. Dari situlah keduanya dekat dan menjalin hubungan. "Kayaknya ga sih, soalnya Revan balik ke Belanda kata Clara kemaren terus Justin lagi ngurus berkas buat kuliahnya." Ucap Mitchell. Gaga mengangguk, "Ok, aku udah selesai sarapan. Aku berangkat ya," Gaga mencium kening istrinya lalu berlanjut mencium anak mereka. Gaga harus segera ke kantor menemui papahnya terlebih dahulu. Ah, mereka semua sudah dewasa dan memiliki kehidupan masing-masing sekarang. Friday, 17 May 2019
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD