LIMA

1174 Words
Selamat Membaca! Untuk vote dan commentnya silahkan tinggalkan disini❤ "Aku bukan dia, aku tidak sama dengannya. Jangan samakan aku dengan seseorang yang jelas-jelas berbeda dengan diriku sendiri." -Prìncipe Frìo-       SUASANA malam di Kota Seoul sangat mengagumkan. Azel tak berhenti berdecak kagum dengan keindahan disana, sedangkan Devan setia dengan menggenggam tangan Azel. Takut jika Azel hilang dan sulit ditemukan di tengah kota yang luas ini. Apalagi banyak populasi untuk cuci mata disitu, membuat Devan sedikit kesal. Sifat possesifnya kembali muncul. "Bagus banget ya, kenapa Jakarta ga kayak gini juga?" Suara Azel akhirnya muncul saat dia hanya diam sejak mereka sampai di taman air mancur. "Tanya sama presiden kita gih, kenapa Jakarta ga kek Seoul." jawab Devan menatap manik mata Azel. Azel merengut mendengarkan jawaban Devan yang tidak memuaskan, "Kayaknya kita harus banyak mengabadikan setiap moment disini deh. Bagus-bagus lokasinya, ga jarang si kualitas video musik disini bagus banget." Azel memuji dengan sedikit heboh. "Aku ga peduli sayangnya." Azel melotot mendengar ucapan Devan, "Devan!" "Bercanda sayang." Devan mengacak gemas rambut Azel, gadis itu sangat lucu. Hanya menunggu 2 bulan lagi untuk menjadikan Azel seutuhnya miliknya, dan Devan tidak sabar. "Dev, suatu saat nanti aku pengen kita kesini lagi deh tapi bareng keluarga kecil kita ya." Permintaan Azel membuat Devan tertegun, hatinya menghangat saat Azel memimpikan keluarga kecil mereka di masa depan. "Anything for you, baby." "Tapi kerjanya jangan males-malesan, dapetin uang ga semudah kamu ngomong sayang-sayang." Cibir Azel membuat Devan terkekeh. "Mudah aja asal kamu ada di sisi aku buat semangatin aku. Simple kan?" Azel memukul lengan Devan pelan, laki-laki itu hobby membuat pipinya merona. "Besok kita kemana lagi?" Kali ini Azel menatap kembali kearah jalanan, ya keduanya memilih berjalan kaki menikmati pemandangan kota. Devan mengendikan bahunya acuh, "Ga ada rencana, liat aja besok. Oh iya, kita belum beli perlengkapam buat di apartement kan?" Azel menggeleng, "Iya ya, yaudah kita beli sekarang aja." Keduanya memilih segera mencari taksi untuk membeli perlengkapan. Intinya Azel lebih bahagia sekarang saat Devan selalu bersamanya. Dan Azel berharap tidak ada lagi masalah yang datang entah apapun itu. Ponsel Azel berdering, Azel merengutkan keningnya. Alaska menelponnya. "Halo, dengan Azel disini. Ada yang bisa dibantu?" "Haha...kamu apa kabar?" "Tumbenan banget nanya gitu, kangen sama Rara ya?" "Tau banget, rumah sepi tau ga ada kamu. Balik lagi kek, kuliah disini aja." "Mana bisa gitu, inikan impian Rara. Yakali Rara ancurin gitu aja, lagian dulu Bang Aska jauh dari Rara juga b aja, kenapa sekarang beda?" Alaska yang ada disana terdiam, dia tidak mungkin mengatakan sesuatu yang membuat Azel menjauh dari dirinya, lebih baik dia diam. "Hellowwww abangggg Rara masih disini loh." "Eh maaf tadi abang ngambil sesuatu, emang kenapa? Kan wajar abang kangen, kita pisah ampir 4 tahun kan gara-gara abang tinggal di Milan." "Ya iya juga sih, tau ah bodo amat. Azel mau beli perlengkapan dulu." "Perlengkapan apa? Kan udah disiapin sama Dad." "Kepo amat nih bang ojek, pokoknya Azel mau pergi. Kangen-kangenannya nanti aja." "Kok gitu sama abang?" "Kenapa ga suka? Bodo amat, Bang Aska ganggu Rara sih." "Oh gitu ya sekarang, abang udah ga dianggap pas udah ada Devan. Cukup tau abang." "Hehe maaf abang, udah dulu ya. Rara udah nyampe nih, oh iya mobil kapan dikirim kesini bang?" "Nanti malem udah sampe, tunggu aja." "Ok, bye abang!" Sambungan dimatikan, Azel sedikit heran dengan tingkah aneh Alaska yang lain dari biasanya. Tapi Azel kembali mengacuhkannya karena Alaska memang over menyangkut  dirinya. "Siapa?" Devan terlihat memicingkan matanya kearah Azel, Devan sempat mendengar suara laki-laki dan itu membuat Devan sedikit kesal. Sedangkan Azel merasa acuh saja karena belum menyadari tatapan tajam Devan. "Bang Aska." Jawab Azel masih melihat ponselnya tanpa peduli, akhirnya Devan memilih merebut ponsel Azel. Azel yang melihat pergerakan tiba-tiba Devan hanya terlonjak kaget, Devan mengejutkannya. "Aku kaget tau!" Devan memeriksa ponsel Azel dari daftar riwayat panggilan, pesan, dan semua media sosial Azel. Laki-laki itu harus memastikan bahwa Azel tak berbohong. Azel memutar bola matanya malas. Devan kembali kambuh. "Aku ga boong tau, ga percayaan amat." Gerutu Azel, Devan hanya mendiamkannya membuat Azel mendelik. Devan menghela nafasnya pelan, dan memilih menyimpan ponsel Azel di saku celananya. Lalu menaruh kepalanya di bahu Azel sambil memainkan jari-jari tangan Azel. Devan takut Azel meninggalkannya lagi. Azel mengacak rambut tunangannya yang berwarna hitam lebat itu, "Takut lagi?" Tanyanya membuat Devan menatapnya lalu mengangguk, "Jangan pergi ya." "Kan udah aku bilang, aku ga bakal pergi lagi kalo kamu ga minta." Devan mulai memeluk tangan kanan Azel dengan erat, "Tapi bisa aja nanti kamu pergi kan?" Azel menggeleng, "Ga, percaya aja sama aku." "Jangan tinggalin Devan." Devan makin mengeratkan pelukannya, dia kembali diserang rasa takut. Devan tidak ingin kehilangan Azel untuk kedua kalinya, dia takut sangat takut. Azel itu bagian hidupnya, jika suatu saat Azel pergi bagaimana dengan dirinya? Cukup sekali kesalahannya dulu dan itu terakhir kalinya. Azel tersenyum, "Iya-iya, ga bakal ninggalin kok. Lagian kan mau aku pergi kemana aja, kamu bisa nemuin aku." Devan mengerucutkan bibirnya, "Tapi kan bisa aja kamu nutup akses keberadaan kamu atau ada orang lain yang bawa kamu pergi. Aku takut." Devan makin mengeratkan pelukannya, dia tak ingin melepaskan Azel. Devan yang sangat possesif. Azel tersenyum lembut, Devan seperti memiliki dua kepribadian berbeda. Dia luar Devan terlihat sangat dingin, kaku, dan datar. Apalagi tatapan tajam dan mengintimidasinya, membuatnya terlihat sangat menakutkan. Azel pun bergidik ngeri saat Devan mulai mengeluarkan tatapan tajamnya yang menakutkan, rasanya seperti dihunus oleh benda tajam secara tidak langsung. Namun Devan bisa berubah manja di depan Azel, seperti sekarang. Terkadang Devan akan seperti anak kecil dan Azel yang merasa memiliki baby giant yang sangat tampan. Terkadang Azel bingung, kenapa sikap Devan yang seperti ini hanya ditunjukan kepadanya. Hanya Deva  yang bisa membuat Azel gemas sendiri dengan sikapnya. Devan tunangannya. Dan yang pasti. Devan milik Azel dan bukan milik siapapun! @azelrsy Caption : "Ma boy" ❤ 1.275.990 265.197 View all in a comment.... @dvnadnt ❤ @Gagaaa Update teros ae si eneng, sok pamer kemesraan @Daffaaa 2 @clarasls Lo berdua nama akun emang janjian apa gimana wkwk @Gagaaa @Daffaaa @stellasmth Cih mentang-mentang udah tunangan, pamer molo mbaknya @petrusart Cocok sama gue @azelrsy @Dazelofc Goalsss banget @rastikayu Kapan gue pacaran kek gini anjing! @sambargledek imut bangetttt.... @syifaptr  boro-boro mau foto kek gini, punya doi aja kagak ;))) @alanawdy Goals anjengggg @mitchell Baru nongol aja si mbaknya, betah amat jadi orang kuriyah @sherren.f Kapan kawinnya anjir??? @arghaa 2 @arkanzvn 3 @olshopmurah 4 @dvnadnt mau ketemu dimana? @petrusart @mayangadid Anjerr ini teh mesra pisan @Gagaaa si beruk marah wkwk @dvnadnt @aselrsy orang kuriyah @dvnadnt Caption : "Queen" ❤ 2.976.256 982.208 View all in a comment... @renatamlk INI APA ANJENGG!!! @jomblogakuad apalah daya jomblo @limbadsss .... @Daffaaa ini yang diatas gue maksudnya apa b*****t! @arghaa esmosi ae masnya @Daffaaa @kiranti Cek barang kami yuk, dijamin harganya murah @azelrsy @couplegoals izin repost ya kak @dvnadnt @mitchell mata gue ternodai bangsat @danisrh Kita kek gini juga yuk yang wkkwkw @adelya Azel hanya tertawa membaca komentar di i********: milik Devan, selalu saja menarik matanya. Mata Azel melirik Devan yang memilih tidur setelah memposting foto mereka berdua di i********: miliknya, gadis itu hanya mengusap lembut rambut tunangannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD