Selamat Membaca!
Untuk vote dan commentnya silahkan tinggalkan disini❤
"Hari ini atau besok akan selalu sama hasilnya yaitu aku selalu mencintai kamu. Lagi dan lagi."
- Prìncipe frìo -
RENCANANYA pagi ini dua orang yang berada di dalam mobil ini akan menghabiskan waktu untuk wisata kuliner di Bangkok, Thailand.
Ya Sherren dan Argha baru saja tiba di Bangkok kemarin sore, mereka berencana akan mengisi waktu libur mereka untuk jalan-jalan berdua sebelum masuk menjadi MABA.
Pasangan itu ingin mengabadikan banyak momen sebelum ke jenjang yang lebih serius.
"Di Thailand emang ada makanan apa aja?" Tanya Sherren memperhatikan jalan sekitarnya.
Argha mengendikan bahu acuh, "Ga tau, aku belum pernah ke Thailand sebelumnya. Pernahnya cuman ke Hongkong sama Daffa, Gaga, Devan." Jawab Argha.
Sherren mengangguk, "Ini juga pertama kalinya sih aku ke Thailand, yaudah anggap aja ini tour pertama kita di Thailand." Cengir Sherren.
Argha hanya tersenyum lalu mengusap rambut kekasihnya dengan sayang, "Kita ga bisa lama disini, 2 minggu lagi kan Daffa sama Asel bakal nikah." Sherren mengangguk, "Iya, aku juga ga mau lama-lama juga disini. Kangen sama baby Zo."
"Kalo kita punya baby juga mau?" goda Argha membuat Sherren merona malu, "Apaan sih!"
Argha tertawa melihat tingkah kekasihnya yang malu, sebenarnya Argha akan mengajak Sherren menikah tapi belum sekarang. Ada waktu khusus dan Argha tidak sabar menantinya.
Di tempat lain, Azel sedang berfoto ria bersama Devan. Jalan-jalan mereka hanya diisi dengan kehebohan seorang Azelia Rasyifa, sempat beberapa kali orang memandangnya aneh namun itu tak membuat Devan malu.
Devan hanya tersenyum melihat tingkah kekanakan tunangannya itu. Sangat menggemaskan.
"Capek ga?" Devan menghentikan langkah kakinya saat melihat Azel duduk di bangku taman yang di sediakan.
Azel mengangguk, nafasnya sudah tidak beraturan karena dia yang terlalu semangat daritadi, "Capek banget, mau istirahat." Ucapnya.
"Aku beliin makan sama minum mau?"
"Mau!"
Devan mengacak rambut Azel pelan, dan memilih segera membawa Azel mencari tempat makan.
Azel mengusap tangannya yang tidak memakai sarung tangan, "Huh dingin banget." Gumamnya sambil meniup tangannya. Devan yang melihat hanya menghela nafas, "Tadi aku nyuruh kamu bawa sarung tangan kan?"
Azel mengangguk, "Kenapa ga dibawa? Cuaca disini sama Jakarta beda sayang." Ucap Devan lembut lalu menarik tangan Azel. "Aku lupa soalnya tadi aku seneng banget jalan-jalan si."
Devan menggeleng, "Seseneng-senengnya kamu, kamu ga mau kan aku khawatir? Kalo kayak gini kamu bisa kedinginan. Suka bikin aku khawatir ya?" Devan meniup telapak tangan Azel yang mulai dingin.
"Maaf." Cicit Azel menunduk.
Devan melepaskan sarung tangannya dan memasangnya ke tangan Azel, "Eh jangan! Nanti kamu pake apa?" Azel mencegah Devan untuk memasangkannya sarung tangan.
"Cuacanya dingin banget, aku ga mau kamu kedinginan." Ucap Devan masih fokus memasang sarung tangannya.
Azel tersenyum, setelah kejadian 2 tahun lalu, Devan semakin protektif kepadanya. Hal sekecil apapun akan diperhatikan laki-laki itu. Devan benar-benar menyesal dengan kejadian dimana dia menyia-nyiakan Azel.
Devan tidak mau kejadian itu terulang lagi, Devan takut Azel pergi lagi dari hidupnya. Dan Devan akan frustasi saat Azel bersama orang lain bukan dirinya.
"Annyeonghaseo."
Suara seseorang menghentikan kegiatan keduanya, Azel dapat melihat gadis Korea menatap keduanya.
"Azel-ssi, apakah itu kau?" Tanya gadis itu menatap Azel.
Azel menatapnya bingung, "Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Atau kenal?" Devan menggenggam tangan Azel erat, takut gadis di depannya melukai Azel.
"Azel-ssi, ini aku Mina. Teman yang akan satu kampus denganmu, bukankah kita pernah berkirim pesan.
"Mina? Wah Park Mina!! Astaga, itu kau?" Azel langsung melepas pegangan Devan dan memeluk gadis di depannya.
"Halo, aku sempat ragu tadi. Aku takut itu bukan kau, tapi setelah kulihat di foto dan itu benar." Ucap Mina tersenyum.
"Maafkan aku tidak mengenalmu."
"Gwaenchana."
"Ah iya ini tunanganku, Devan. Dan Devan ini Mina temen aku di kampus nanti."
Devan memandang Mina yang tersenyum kearahnya, Devan hanya bersikap datar dan acuh. "Devan jangan kayak gitu." Desis Azel karena sikap Devan.
"Hm."
"Maafkan Devan, dia memang seperti itu." Azel menatap Mina tak enak hati.
"Ok, apa kau sudah mahir berbahasa Korea?" Tanya Mina
Azel mengangguk, "Aku sudah mulai paham dan selama liburan ini aku terus melatih kosa kata disini. Dan awalnya cukup sulit."
Mina terkekeh pelan, "Itu bagus, ah iya aku harus segera pergi. Maafkan aku tidak bisa lama berbicara denganmu, nanti kita lanjutkan di chat saja. Arrachi?"
Azel mengangguk kemudian Mina segera pergi darisana, meninggalkan Devan dan Azel.
"Devan jangan kayak gitu sikapnya, nanti mereka ngira Devan sombong." Azel menatap tunangannya dengan malas, "Terserah mereka, aku ga peduli. Kamu mau kalo aku terlalu ramah mereka jadi nempel ke aku?"
"Ya enggak lah."
"Nah makanya, lagian aku males ngeladenin mereka. Mending sama kamu." Devan menatap Azel sambil tersenyum membuat pipi Azel merona.
"Devan!!!"
Alaska memandang kota Jakarta dibalik dinding kaca ruangannya, Alaska masih berada di kantornya sendiri. Dia belum pulang ke rumah, padahal semua pekerjaannya sudah selesai.
"Bang Aska." Panggil seseorang.
Alaska tak bergeming, masih menatap datar pemandangan dari balik kaca. Namun, mata tajamnya tetap jeli melihat bayangan seseorang menghampirinya.
"Bang, lo disuruh Mom balik. Mom mau ngajak kita makan malem bareng, kan udah jadi kebiasaan kita di akhir pekan kita makan malem bareng."
Alaska memandang bayangan Arkan yang berdiri di belakangnya, Alaska menghembuskan nafas lelah. Semenjak Azel memutuskan sekolah di luar negeri, Alaska menjadi kehilangan semangatnya.
Azel memang menjadi energi untuknya, Azel adiknya yang tidak bisa jauh darinya. Azel bagaikan kunci kehidupannya. Dan Alaska selalu nyaman bersama adiknya.
Tunggu dulu.
Nyaman?
Alaska segera menepis pikiran anehnya, tidak mungkin dia merasakan hal seperti itu. Alaska nyaman bersama Azel karena Azel adiknya, ya adiknya.
"Woi beruk! Jangan ngelamun ae, ini gue capek ngomong macem sama batu." Gerutu Arkan mulai kesal.
"Hm."
"Respon lo ya, bikin tensi gue naik aja. Bodo amat yang penting gue udah nyampaikan pesan Mom buat lo."
Arkan berbalik badan dan segera melangkah pergi sebelum akhirnya Alaska menghentikan langkahnya.
"Azel kapan pulang?"
Arkan kembali menatap tubuh tinggi itu dengan heran, Azel saja baru berangkat kemarin. Tapi kenapa abangnya sudah menanyakan kapan adiknya pulang?
"Dia baru aja kemaren berangkat, yakali udah mau pulang aja. Dia sekolah bang, bukan liburan." Arkan menatap malas abangnya, Alaska memang aneh.
"Gue tau, tapi apa dia ga pulang ke rumah buat makan malam?"
"Lo gila ya! Dikira Jakarta-Bandung ha?!" Arkan sudah tidak tahan melihat Alaska yang memancing emosinya.
"Kali aja."
"Sabar gue mah, ga boleh marah-marah nanti kegantengan gue hilang semua." Gumam Arkan mengelus dadanya dan berjalan cepat kearah pintu.
Lama-lama berada di dekat Alaska tidak baik untuk emosinya. Alaska memang hebat dalam urusan memancing emosi orang lain.
"Abang harap ga ada sesuatu yang buat semuanya sulit Zel."