“Bisakah kita bicara hanya berdua saja?” tanya Angga padaku kemudian, sambil melirik sepintas ke arah Rama yang berada di dekatnya. “Permisi.” Rama berdiri kemudian berpamitan keluar ruangan, seolah sadar kalau Angga tidak mengingginkannya di ruangan ini. Aku tidak menjawab apapun dan hanya menatapi punggung pria yang juga suamiku itu semakin bergerak menjauh. Tentu saja aku membiarkan pria itu keluar karena aku tahu Angga tidak menyukai Rama. Kedatangan Angga membawa sedikit harapan untukku yang tengah hancur dan terpuruk ini. Sebuah pemikiran yang wajar karena aku merasa dengan status yang dimilikinya dia bisa membantuku saat ini. “Apa yang terjadi?” Angga kembali membuka pembicaraan setelah memastikan Rama tidak terlihat lagi. “Hal buruk,” jawabku kemudian. “Hancur semua, habis sud

