TIGA PULUH LIMA

1757 Words

CANDY   Aku menghibur diri di Musik Centrum sekadar menepikan pikiran dari ucapan Dirga tadi. Duduk di salah satu bangku taman, aku melayangkan pandangan kosong lurus ke depan. Pada penonton yang melihat pertunjukan musik tradisional. Mataku sembab. Aku menghapus lagi air mata di pelupuk mataku. “Udah sembuh kakinya?” suara Rafa terdengar menyapaku. Kepalaku tengadah bersipapas dengannya. “Udah.” “Bagus deh.” Dia duduk di sampingku tanpa mengucap permisi. “Kenapa tuh mata? Abis nangis?” Aku menghela napas panjang. “Diem deh.” “Ngapain nangis?” Kulesatkan tatapan tajam ke arahnya. “Kepo banget sih.” “Hm.” Dia mendengus. Didorongnya pipiku dengan telunjuknya. “Pasti gara-gara cowok nih. Anak SMA kan emang gitu, suka ngegalauin cowok.” “Siapa yang galauin cowok?” nadaku naik dua okt

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD