CANDY Ketika aku bertanya sketsa siapa yang ada di jurnal Mama, dokter Diana menjawab dengan senyuman merekah bahwa itulah sahabat Mama yang hanyalah khayalannya. Hujan turun lagi saat itu. Dokter Diana membuatkan dua coklat panas untuk kami. Kami duduk berhadapan di ruang tamu. Dokter Diana memandangi jurnal yang kuberikan padanya. Dia tertawa tiap melihat kalimat yang ditulis Mama. “Luna memang lebih senang mengungkapkan perasaannya pada sebuah jurnal daripada pada orang lain. Seperti yang sudah aku katakan sama kamu. Dia tidak pernah punya sahabat yang benar-benar sahabat. Yang ada hanyalah khayalan-khayalannya tentang sahabat.” “Khayalan,” aku mengulang kata itu seolah tidak mengerti makna dari kata tersebut. “Seperti kamu dan Dirga. Luna dan dia bersahabat baik. Sayangnya, Lun

