Mataku sembab. Mataku bengkak. Mataku basah.
Seharian penuh aku menangis. Seharian juga aku tertawa. Aku semakin tersiksa di sini. Berulang kali aku menenangkan diri dengan obat penenang namun tidak bekerja sama sekali. Kuputuskan untuk mengambil cara lamaku. Aku membenturkan kepalaku secara berulang-ulang untuk mengusir rasa peningku Aku tidak pernah kesakitan, tapi aku mengasihani diriku sendiri.
Aku menemui dokter Diana seperti biasanya. Dia membentakku setelah melihat tangan, kaki, dan dahiku. Dia menyuntikku dengan obat, tapi aku tidak merasakan efeknya. Dia bilang aku harus bisa mengontrol emosiku, tapi aku tidak bisa.
“Kamu kira orang-orang akan mengasihanimu dengan cara seperti ini?” Begitulah pertanyaan dokter Diana.
Aku tidak butuh dikasihani. Aku butuh dimengerti. Aku kehilangan orang yang kucintai, yang mampu menata hidupku. Dia pergi. Dia sama seperti yang lainnya. Dia menghilang tiba-tiba. Dia tak ada lagi. Dia tidak kembali. Dia meninggalkanku!
Aku selalu mengingat bagian itu. Aku selalu mengingatnya. Itulah yang membuatku semakin sakit. Kenapa dia tega? Bukankah dia sangat memahamiku dan pasti tau apa dampaknya meninggalkanku?
Aku benci orang-orang yang mempermainkanku. Mereka jahat. Mereka tidak bisa memahamiku. Mereka selalu berniat membunuhku secara perlahan.
Aku benci mereka!
Sangat benci!
Luna
Namanya dokter Diana. Seorang psikiater yang waktu itu sedang bertugas di rumah sakit Indonesia. Saat melewati sebuah kamar rawat yang pintunya terbuka, dokter Diana mengintip ke dalam. Ia melihat Luna hampir menyuntik pangkal lehernya dengan obat asing dan berseru lantang. Ia memberondong masuk, menepis tangan Luna sampai jarum suntik itu meloncat jatuh di atas lantai, lalu memandangnya dengan mata membeliak lebar.
“Apa yang mau kamu lakukan?” tanyanya sekali lagi.
Luna menggelengkan kepala. Dipandangnya dokter Diana dengan tatapan tak terbaca. Wajahnya monoton. Ia tak tahu harus menjawab bagaimana. Apakah ia katakan saja kalau ada yang berbisik menyuruhnya melakukan hal tadi agar Dika kembali padanya? Luna memilih untuk diam, tidak menjawab pertanyaan dokter Diana. Ia teringat lagi bahwa ia kehilangan Dika. Hal itu membuat luka di dalam dadanya menganga lagi. Gadis itu sesenggukan. Wajahnya dibenamkan pada telapak tangan. Ia menangis sejadi-jadinya, membuat dokter Diana menyatukan alisnya keheranan. Sebagai seorang psikiater, ia menemukan sesuatu tak beres pada pasien kamar ini. Maka, wanita itu duduk di samping Luna, mengusap rambutnya dengan lembut.
“Saya Diana. Kamu?” tanyanya dengan nada manis.
Luna enggan menjawab. Ia masih menangis sesenggukan tanpa mengangkat wajahnya untuk membalas pandangan dokter Diana yang heran dan khawatir padanya. Perlahan-lahan Luna bersedia membuka telapak tangannya dan membalas pandangan dokter Diana. Wajahnya sembab. Air mata berkumpul di pelupuk mata dan jatuh berderai di kedua pipinya yang pucat. Dokter Diana mengusap air mata itu.
“Luna,” jawab Luna pada akhirnya. Meski dengan nada yang lirih dan larat.
Dokter Diana mengusap rambutnya penuh kasih. “Kamu kenapa, Sayang?”
“Saya kehilangan orang yang saya sayangi.”
“Orang yang kamu sayangi?”
Luna menjelaskan pada dokter Diana mulai dari awal. Saat Dika datang mengagetkannya di taman. Segala hal yang dilakukannya untuk menyemangati dan menghiburnya. Sampai di bagian Dika menghilang dan tak meninggalkan pesan apapun. Dokter Diana mendengarkan secermat mungkin penjelasan yang mengalir dari mulut Luna. Dijelaskan secara sporadik. Ia mengangguk-angguk. Karena masih langkah awal, ia tidak berani memberikan asumsi. Ia tahu apa yang harus dilakukannya untuk menangani gadis ini.
Mata dokter Diana menangkap luka-luka samar pada tangan Luna. Ia mengernyitkan dahi berasumsi bahwa gadis ini sering melakukan self injured. Melukai dirinya sendiri.
“Mama sama Papa kamu ke mana?” tanyanya mulai prihatin.
Luna menggeleng. “Mereka nggak akan peduli.”
Dokter Diana mengangguk-angguk paham. Tanpa bertanya lebih jauh, ia sudah bisa mendapatkan jawaban. Dielusnya lagi rambut Luna. Ia meminta Luna menjelaskan perihal luka di tangannya. Nadanya sangat manis dan lembut. Hal itu membuat Luna terenyuh. Ia terharu karena masih ada yang peduli dengan kondisinya. Bibirnya bergetar. Ia mengatur napas dan mulai bercerita. Dokter Diana mendengarkan curahan hati Luna yang menggebu-gebu dengan intonasi berubah-ubah. Gadis itu bahkan melakukan peragaan dengan tangannya. Ia melompat turun. Mondar-mandir, mengangkat tangan dan menggerak-gerakkannya di udara sebagai peraga, lalu duduk di sofa pendek kamar rawatnya dengan wajah murung.
Dokter Diana menggigit bibir bawahnya menahan miris. “Luna, Sayang. Kalau kamu butuh apa-apa, panggil saya saja ya.”
“Tapi nanti Mama marah.”
“Nggak kok. Kalau kamu diam dan nggak cerita sama Mama kamu. Kamu jangan cerita sama Mama.” Ia menghampiri Luna, duduk di depannya dengan lutut bertumpu pada lantai, lalu mengelus pundak Luna. Tangannya menyisir rambut panjang gadis itu. “Nanti kalau kamu butuh teman, kamu bisa hubungi saya. Saya tinggalkan nomor telepon ya. Kamu telepon saja. Tapi diem-diem. Jangan sampai Mama dan Papa tahu.”
Setelah mendengar cerita Luna tadi, dokter Diana mengambil keputusan untuk tidak mengabarkan kondisi Luna pada orangtuanya. Orangtuanya tak akan prihatin, malah akan mengucilkannya dan melemparnya ke rumah sakit jiwa. Hal itu malah berdampak buruk bagi jiwa Luna. Dokter Diana tak akan mengambil risiko seperti itu. Maka, ia memutuskan untuk menangani Luna secara diam-diam.
*
Gagal mendapatkan ketenangan dari obat penenang yang diberikan oleh dokter Diana, Luna yang merasa kepalanya berdenyutan sakit membenturkan kepalanya pada dinding kamarnya berulang kali. Rasa pening itu tidak kunjung hilang. Ia duduk merosot di lantai. Dahinya memar. Dipandangnya langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Ia ingin menangis. Ingin berteriak. Ingin juga terbahak-bahak. Keinginan itu bercampur jadi satu dan malah membuatnya bingung harus memilih bagaimana. Pada akhirnya ia memilih untuk diam saja untuk merasakan kekosongan dirinya. Matanya terpejam sangat lama.
Beberapa jam kemudian, barulah ia bersedia keluar rumah, mencari taksi, dan meminta sopir melajukan mobil itu ke rumah dokter Diana. Sepanjang jalan yang dilakukan Luna hanyalah menatap jalanan. Masih dengan sorot mata yang kosong. Dilihatnya orang-orang berlalu-lalang. Pengemis meminta uang di trotoar. Anak-anak yang mengamen. Semua masuk dalam sensor otaknya, namun gagal membuatnya sadar. Ia terus melamun dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Yang sangat riuh di kepalanya. Sampai-sampai ingin dibenturkannya kepalanya yang riuh pada apapun. Pintu taksi, misalnya? Namun tak dilakukannya hal itu. Ia malah duduk melamun seakan tubuhnya tak lagi disinggahi oleh ruh.
Dokter Diana menyambut kedatangannya dengan seruan melengking melihat dahi Luna yang memar. Ia meminta Luna duduk dan melemparkan pertanyaan, meminta Luna menjelaskan mengapa hal ini bisa terjadi. Dengan suara yang serak dan lirih, Luna menjawab pertanyaan dokter Diana.
“Saya pusing denger bisikan-bisikan di kepala. Bikin pening,” katanya dengan intonasi datar.
“Bukan begini caranya. Ya Tuhan, Luna.” Dokter Diana berdecak dan menggeleng-gelengkan kepala. Ia menyentuh rambut Luna penuh kasih sayang. “Kan saya sudah kasih kamu obat.”
Luna menggeleng. “Nggak berhasil. Saya masih pusing.”
Dokter Diana menggeleng sekali lagi.
Sekitar beberapa waktu Luna di rumah tersebut seraya mendengarkan petuah-petuah yang dilontarkan dari mulut dokter Diana. Ia mendengar dengan saksama, meskipun petuah tersebut lebih banyak keluar dari telinganya.
Luna meminta dokter Diana memperbolehkannya tinggal di rumah itu selama orangtuanya tidak ada di rumah. Kedua orangtuanya sibuk bekerja. Ia dititipkan di rumah bersama pembantu dan satpam saja. Daripada di rumah membuatnya suntuk, Luna memilih untuk tinggal selama beberapa hari di rumah itu. Ia menelepon pembantunya mengatakan sedang menginap di rumah salah satu temannya—tidak dijelaskan secara terinci teman seperti apa.
Di rumah dokter Diana yang cukup besar itu, Luna melihat sebuah piano. Jemarinya disapukan pada permukaan piano dan menekan barisan tutsnya. Dokter Diana yang melihatnya tampak tertarik dengan piano tersebut berdeham. Wanita itu bersedekap dan memberi kode pada Luna untuk memainkannya.
“Boleh. Mainkan saja.”
Luna mengumbar senyum lebar yang memenuhi wajah senangnya. Ia duduk dan mulai memosisikan jari-jarinya yang lentik di atas barisan tuts. Selama Luna memainkan piano tersebut, dokter Diana berlalu menuju dapur untuk membuat teh hangat yang bisa dinikmatinya sore itu. Ia datang lagi membawa sebuah cangkir berisi teh hangat, kemudian duduk di balik jendela kaca besar rumahnya. Menikmati pemandangan sore hari sambil mendengarkan alunan nada yang dimainkan Luna. Gadis itu memainkan komposisi dari berbagai komposer. Kemudian memainkan lagu lain yang asing di pendengaran dokter Diana. Psikiater tersebut menoleh mengamati Luna yang lebih tenang sekarang. Kini ia tahu bagaimana mengontrol emosi gadis itu. Mungkin dengan bermain piano, Luna bisa mengendalikan dirinya dan tidak terbujuk dengan bisikan-bisikan asing di kepalanya. Diamatinya gadis itu. Lalu ia memejamkan mata menikmati musik yang sangat lembut.
Luna berhenti sebentar. Ia membuka-buka partitur di depannya dan memilih lagu mana yang akan dimainkannya lagi.
“Kamu jauh lebih tenang?” tanya dokter Diana yang membuat Luna menoleh ke arahnya dan melayangkan senyum simpul. Gadis itu mengangguk mengiyakan. “Kalau kamu merasa kalut, kamu gunakan saja untuk bermain piano, ya. Pasti bikin kamu lebih tenang.”
Luna mengangguk lagi. Ia mulai melarikan jemarinya di atas barisan tuts. Matanya berpindah beberapa kali dari tuts piano menuju kertas partitur. Ia mendapatkan kedamaian bermain dengan piano.
“Kamu pernah bercerita sama saya kalau kamu kehilangan seseorang.”
Sontak, jari-jari tangan Luna yang memainkan piano tersebut berhenti bergerak. Ia memandang lurus ke depan. Diingatnya lagi Dika yang sampai detik itu tidak ada kabarnya. Ia membuang napas panjang. Kembali dimainkan piano itu sambil menanggapi pertanyaan dokter Diana.
“Iya. Saya kehilangan seseorang,” katanya tanpa menghentikan gerak jemarinya yang gemulai. “Cuma dia yang saya punya dan berhasil membuat saya tenang. Sebelum saya ketemu dokter Diana.”
Dokter Diana tersenyum. “Memang orangnya seperti apa sih?”
Luna menceritakan bagaimana karakter Dika. Ia menjentikkan jari, menghentikan permainannya tiba-tiba. “Saya bisa gambar rupanya! Dokter punya kertas dan pensil?”
“Kamu bisa gambar?” nada dokter Diana terdengar melengking kagum.
Luna mengangguk girang. Dokter Diana meletakkan tehnya ke atas meja, lalu melenggang menghampiri ruang kerjanya untuk memberikan Luna kertas serta pensil. Ia menyodorkan kertas dan pensil tersebut pada Luna. Dibiarkannya Luna menggambar wajah seseorang selama beberapa saat. Setelah berhasil menyelesaikan gambar sketsanya, Luna menunjukkan hasilnya pada dokter Diana yang spontan mengerutkan dahi. Ia mengangguk-angguk, tersenyum pada Luna yang menampilkan cengiran lebar untuknya.